Saya pernah mendengar dari saudaraku yang kebetulan berprofesi sebagai dokter, “Menulis resep buat pasien itu sebuah seni, dan tidak setiap dokter bisa sama”. Saya merenungkan kalimatnya ketika variabel ‘seni’ itu saya masukkan kedalam semua aspek kehidupan. Dan akhirnya saya sepakat dengan pendapatnya. Jadi , walaupun semua dokter menjalani pendidikan yang sama dengan masa tahun yang sama tapi belum tentu outputnya juga sama. Sama ‘mandinya’ (baca : mujarab/manjur) saat memberi resep.
Saya mencoba memikirkan dan mengejawantahkan kalimatnya kedalam seluruh dimensi kehidupan betapa sangat dalamnya kalimat itu. Ketika seseorang telah mencapai level pakar dalam bidangnya kita sering mendengar kalimat “Ini membutuhkan seni tersendiri” “Ini perlu sentuhan seni”. Ketika dalam proses pencariannya seseorang akan mencapai sebuah level yang penuh harmoni, sebuah level dimana tingkatannya sudah melewati maqam hukum, tidak membicarakan lagi masalah teknis. Dalam ilmu silat dikatakan telah mencapai level begawan, dimana ilmu sudah bukan bagaimana kita menghapal gerakan silat, tapi bagaimana menyelaraskan gerakan-gerakan silat menjadi rangkaian harmoni dalam jiwa kita. Pun ketika kita berkehidupan, cara kita menghadapi segala dinamika kehidupan menentukan dimana level kita. Ketika semua permasalahan kita letakkan dalam kerangka yang utuh sehingga semua sisi dapat kita lihat, maka tinggal bagaimana kita mengolah permasalahan tersebut menjadi sesuatu yang selaras, seimbang dan selesai dengan kedamaian. Dan itu butuh seni tersendiri.
Seni kita dalam mengolah permasalahan, apakah akan kita pandang sebagai sebuah beban atau sebuah kasus yang harus dihadapi, dicari solusi dan dipecahkan. Dan ketika kita mampu menyelesaikan dalam skala win-win solution sungguh sepadan harga yang akan kita terima yaitu kepuasan jiwa. Jika hal itu mampu kita selesaikan dalam setiap permasalahan yang muncul, sungguh ajaib! Karena setelah itu kita seolah akan naik tangga kehidupan, sehingga spektrum paradigma kita juga menjadi lebih lapang. Cobalah jika di rumah kita punya tangga, naikilah anak tangga demi anak tangga maka luasan jarak pandang kita akan semakin luas. Jika di anak tangga terendah kita hanya bisa melihat lemari hanya sebagai kotak tempat penyimpan baju kita, maka ketika kita menaiki tangga demi tangga maka akan terlihat bahwa diatas lemari tersimpan banyak barang-barang yang selama ini jarang dipergunakan karena memang sering terlewat dari jarak pandang kita. Demikianlah ketika kita mampu menaiki anak tangga kehidupan, maka kita mampu memandang setiap permasalahan dengan kacamata lebih luas, sehingga pada gilirannya akan memberi efek ‘bijaksana’.
Menurut saya seni sesuatu yang abstrak yang lebih banyak melibatkan rasa daripada logika. Dan sifatnya menyeluruh tak terbatas pada bidang kesenian. Butuh proses yang tak pendek dan tak gampang untuk mencapai level ini. Perenungan, perjalanan, suka, duka, dan banyak lagi agar kita mampu menjumput pelajaran demi pelajaran, bekal kita menaiki anak tangga demi anak tangga. Sungguh indah tatkala kita meletakkan keselarasan, keseimbangan dalam setiap sendi kehidupan kita. Harmoni Cinta saya menyebutnya. Tatkala kita mampu meleburkan diri dalam harmoni cinta, bukankah itu surga?
Pacarkembang, 14 Januari 09













No Comments Yet