Dulu saat saya pertama kali membaca buku berjudul “17 Anugerah Terindah Untuk Orang Tua” (kalau tidak salah ketik) terbitan Kaifa pengarangnya saya lupa, ada sebersit tanya, mosok se?. Jadi buku itu menceritakan tentang sebuah fakta bahwa anak-anaklah yang banyak memberi kepada orangtuanya, bukan orang tua yang banyak memberi kepada anak. Didalamnya juga diberikan contoh-contoh konkret pemberian apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak kita. Buku yang sangat menyentuh walaupun saat itu saya belum menemukan esensi yang pas, karena saya membacanya ketika saya masih belum menikah, belum mempunyai anak-anak. Buku itu sejujurnya sangat menginspirasi paradigma saya tentang anak-anak. Buku itu mengajari saya seni menggali ‘pemberian’ anak-anak kepada orangtuanya. Dan sekarang saya sampai pada sebuah kesimpulan, buku itu benar! Bahwa anak-anaklah yang banyak menyentuh saya, menyentuh kesadaran terdalam dari hati saya. Menemukan sebentuk cinta yang begitu bening, begitu indah. Pelajaran-pelajaran kecil yang mungkin bagi orang lain tak berarti apa-apa, tapi dari buku itu saya belajar bagaimana menangkap esensi suatu kejadian menjadi pelajaran penuh cinta. Seperti kejadian malam itu.

Hari Minggu malam ada agenda arisan RT di kampung. Setiap ada arisan pasti anak-anak yang paling heboh karena ini adalah kesempatan mereka berlari-lari sepuasnya di jalan pavingan depan rumah. Biasanya pak RT menutup jalan untuk digelar tikar ditengah jalan. Seperti malam itu, semua balita digang 5 D turun ke jalan tak terkecuali, berteriak-teriak, berlari-lari, bercanda, heboh deh pokoknya. Padahal saya harus mempersiapkan mas Gangga UAs besok pagi. Tapi Alhamdulillah semua materi sudah dia pelajari tadi sore, dan memang agenda malam ini dia harus istirahat, tapi demi melihat teman-temannya diluar apalagi saya dan Mas Guruh –suami saya- juga harus datang, mau tak mau harus ikut mengijinkan dia untuk keluar bermain dengan temannya. Mereka bermain sepuasnya dan ikut minum dan makan hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Tak berapa lama akhirnya acara pun usai. Kami bersiap pulang, sementara adek Gautama masih kebingungan mencari sandalnya yang sebelah. Aku curiga sandal itu jatuh ke got karena disekitar dia meletakkan sandal sebelahnya ada lubang di tutup got yang cukup besar, bisa melahap sandal itu jatuh. Setelah dipinjami senter tetangga sebelah ternyata memang benar sandal itu sudah nyungsep didalam got. Si Adek sudah menangis keras.
“Dik tuh sandalnya udah ketemu, kita ambil tongkat besi buat ngambil ya?” jelasku ke dia. Dia mengangguk tapi sudah terlanjur menangis keras. Singkat cerita si sandal berhasil diambil dengan bantuan si mbak sebelah rumah. Akhirnya kucuci bersih, “Adek… nih sandalnya sudah bersih so nangisnya berhenti ya?” kataku meredakan tangisnya yang masih keras. Si mas Gangga yang dari tadi diam jadi ikut bersuara “Ya Dek, besok pagi juga sudah kering, sudah jangan nangis lagi?” katanya. Sambil berjalan masuk ke rumah dia berbisik padaku, “Bunda …aku tadi kasihan banget sama adek,” katanya.
“Memang kenapa kok kasihan?” tanyaku.
“Ya tadi waktu sandal adek hilang, trus adek nangis,” katanya lagi.
“Tapi kan sandalnya sudah ketemu?” kataku lagi.
“Iya, untung ketemu, soalnya sandal itu sandal kesayangan adek” katanya lagi.
Berulangkali dia mengucapkan kalimat “kalau sandal itu hilang kasihan sama adek karena sandal itu sandal kesayangan adek”

Entah kenapa tiba-tiba ada yang berdesir di hati saya, keharuan yang menyergap hati saya, dengan kalimat itu dia menyentuh kesadaran paling terdalam dihati saya dan pada akhirnya mendorong telaga air mata saya tak terbendung. Dia tahu persis bahwa sandal itu kesayangan adeknya, dan dia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan adeknya. Hmhhh… pelajaran-pelajaran kecil namun begitu kuat menggosok hati saya menjadi bening. Sebuah jendela kesadaran seolah tengah diajarkan kepadaku, tentang arti kesetiakawanan, arti saling menyayangi, arti kebeningan cinta. Jujur saya saja tidak tahu bahwa sandal itu menjadi sandal kesayangan adek. Setahuku dia memang selalu memakai sandal yang itu walaupun ada sandal yang lain. Indah…

Seringkali saya berpikir (mungkin lebay) …anak-anak itu ibarat malaikat yang diutusNya untuk menerangi rumah tangga saya. Mereka pengingat saya dikala saya lalai, mereka penghibur saya disaat kesedihan merundung saya, mereka motivator sejati saya saat saya merasa nothing, mereka pendorong disaat saya berada pada nol kilometer, dengan sentuhan yang kadang saya sendiri tak pernah memikirkannya. Seperti kejadian diatas. Mungkin itulah cara tanganNya menjaga saya. Yang semoga senantiasa teguh untuk bisa menangkap sekecil apapun kejadian untuk bisa memberi sebesar-besar hikmah untuk membeningkan hati saya.

Pacar kembang, 11 Juni 2009


Leave a Comment