Tamparan

Saya sedang patah hati, sumpah.

***

Sabtu kemaren saat mengambil raport midsemester, adik ada banyak pesan sponsor dari walikelasnya. Ada banyak PR yang harus saya selesaikan terutama tentang adik. Baca tulisnya yang masih harus lebih ditingkatkan mungkin lebih tepatnya digenjot lagi, tentang sikapnya yng tidak fokus baik terhadap tugas maupun dalam barang-barang milik pribadinya, juga tentang perilakunya yang mem-bully adik kelas Tknya. Bullying-nya sudah taraf membahayakan. Sehingga sesi penerimaan raport itu harus kulalui hampir tigaperempat jam.

Hmmmhh… itu belum cukup, ada satu hal lagi yang membuat saya merasa patah hati, runtuh begitu saja.

Sang Ustadzah bercerita, suatu hari ada pelajaran dengan tema keluarga dimana disana ditayangkan cerita tentang sebuah keluarga dan mengharukan, detil ceritanya saya kurang paham, namun cerita itu dengan backsound lagu Hadad Alwi feat Farhan berjudul Ibu, mampu membuat anak-anak menangis. Tiba-tiba si adik dengan polosnya berkata kepada Ustadzah, ‘Ust, aku kalo jatuh ndak pernah digituin sama bundaku’ Artinya tak pernah ditolong dan diberi obat seperti adegan film yang dilihatnya.

Mendengar detil cerita itu saya menangis. Didepan dua Guru itu.

Membayangkan bibirnya mengurai kata itu didepan gurunya dengan suasana melankolis itu saja sudah membuat saya tiba-tiba sedih yang saya tak mampu membahasakannya.

Dalam perjalanan ke parkir hati saya masih sakit, sakit karena sedihhh, sakit karena merasa momen yg dibicarakannya tak pernah terjadi sejauh dalam ingatan saya. Sejenak saya merasa didolimi, oleh anakku sendiri! Ada perasaan tidak terima ketika sampai detik itu saya merasa momen dia jatuh dan saya tak menghiraukannya itu pernah terjadi, ingatanku benar2 blank!

Yang kemudian tumpah ruah adalah ingatan tentang setangkai bunga itu, momen terbaik itu, pelukan kami, ciumannya yang bertubi, harus lengkap urutannya, kemanjaannya padaku?

Saya merasa dialah orang yang paling menyayangiku, merasa sayalah orang yg paling berarti buatnya, orang yang dibenaknya selalu dirindukannya, orang yang selalu mendapat tempat terbaik dihatinya. Aku menangis, sakit, marah tidak terima, dan tak tahu kepada siapa semua perasaan itu kutujukan.

Dua hari saya merasa hidup dalam  dunia kutukan. Saya merasa tak berdaya, ingin memulai dialog dengannya tapi saya belum sanggup. Saya hanya bisa menangis dalam pelukan lelakiku. ‘Aku percaya kamu tidak seperti itu’ katanya yang justru membuat hatiku terbelah retak dan jatuh dalam kesedihan absolut. Kalau memang dia percaya aku tidak seperti itu, kenapa mulut mungil tanpa dosa itu sanggup mengungkapkannya? Kepadaku? seseorang yang aku merasa paling mencintainya didunia ini?

Sungguh aku merasa runtuh, ya saya! Runtuh tak berdaya dan hanya bisa menangis!

Dua hari yang berat, saya jadi lebih sering menatap wajahnya yang polos, ‘bunda kenapa, bunda abis nangis ya? Bunda nangis karena apa?’ pertanyaan polos, sepolos wajahnya…

Senin pagi, ketika saya merasa sedikit segar, saya menyuapinya, dan seperti muntahan yang bikin mual pertanyaan itu meluncur saja dari bibir saya. ‘Nak, memangnya bunda pernah ya, nggak menghiraukan adik saat adik jatuh?’ tanyaku. Dia masih dengan asyik main mobil-mobilannya sambil mengunyah sarapan menjawab, ‘Pernah!’ spontan dan lugas jawabannya, saya tau itu murni dari hatinya.

Robek hati saya…

Kutahan tangis, kugigit bibir menahan segala gejolak dihati saya, dan tiba-tiba saya ingin menuntaskannya, biar sekalian hancur kalau memang harus hancur, saya siap!

‘emang kapan itu nak? Adik ingat?’ kupeluk dia. Dia diam seolah tengah berpikir…mengingat-ingat tepatnya. Dia masih diam sambil terus bermain dan mengunyah sarapannya. Harus kutuntaskan tanya ini, agar hati saya tidak semakin berat.

‘Pas adik jatuh itu, emang bunda ada?’ tanyaku dengan degup yang entah…

‘ndak ada!’, jawabnya lagi-lagi dengan spontan.

‘emang bunda lagi dimana?’ tanyaku mengejar.

‘lagi kerja, seringnya kalau aku jatuh bunda pas kerja’ katanya tanpa beban pikiran, dan saya yakin yang dibicarakannya tulus dari hatinya.

Jawaban itu bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi saya lega bahwa kalimat yang pernah terlontar ke Ustadzahnya bukan karena ketidakpedulian saya kepadanya, bukan bukti saya tak memperhatikannya, tapi karena kendala keadaan yang masih memaksa saya bekerja. Saya masih mempercayainya bahwa kalimat setiap sore, ‘aku sayang bunda’ dan pelukan hangatnya bukan kalimat basa-basi. Walaupun disisi lain masih menyisakan perih meskipun tak seberat yang saya rasakan dua hari kebelakang.

Tamparan untuk saya, selama ini saya merasa mereka mengerti bahwa saya ‘masih harus’ kerja di luar rumah. Kepada sang kakak yang lebih tua saya merasa dia bisa memaklumi, bisa memanage dirinya tanpa hadir saya di jam-jam kantor krn dia juga pulang hampir bersamaan dengan jadwal saya pulang, sementara si adik memang masih setengah hari, setengah hari dia di rumah bersama Mbak, asisten saya di rumah.

Sungguh saya belajar, belajar banyak hal dari kejadian menyakitkan ini, saya berjanji akan lebih menguatkan mentalnya untuk lebih teguh, saya berjanji akan lebih banyak memberi porsi cinta untuknya. Dan dua hari dari kemaren saya selalu mengucap rapal mantra kepadanya. Setiap dia salim untuk berangkat sekolah saya berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan wajahku dan berkata, ‘bunda percaya adik akan menjadi anak yang terbaik, bunda percaya nak!’ kutatap matanya dengan penuh kesungguhan lalu saya memeluknya dan dia membalas pelukan ini dengan dekapan yang kuat, lalu hati saya akan bergema….’laahaula wala quwwata illa billah’

Pagi hari 25.10.11


  1. berdesiran saya membacanya
    betapa buah hati yang selalu bercerita apa adanya
    meski dari sudut pandang yang berbeda
    dari orangtua tercinta
    membacanya, saya memetik pelajaran
    betapa penting menunjukkan kasih sayang
    juga kehangatan
    kepada buah hati
    dan seluruh anggota keluarga tercinta

  2. duhh.. jadi terharu sya…

  3. halo, saya nunik99 dr ngerumpi.com.. boleh minta emailnya? berhubungan dgn ngerumpi award soalnya hehehe

    email saya nunik99@yahoo.com yahm terima kasih :)

  4. nasrul hanif

    Buat adikku tercinta, jadi ikutan sedih juga pas bacanya. Memang tidak mudah mendidik anak memberikan kasih sayang buat anak, apalagi di jaman sekarang penuh dengan dinamika. Padahal kita dulu sewaktu masih kecil bersama sama belum tentu juga orang tua kita peduli dengan keseharian kita, tapi itu tidak pernah putus kasih sayangnya buat kita. TApi emang beda dengan anak sekarang, kritis dengan keadaan sekitar. Ya sekarang tinggal pinter-pinternya kita menempatkan posisi kita dimata anak – anak. Tetaplah semangat, perjuangan kita belum selesai. saya bangga ponakanku di surabaya ini memang anak – anak yang cerdas …. semoga kelak kalian berdua Gangga dan Gautama menjadi orang – orang yang berguna di Republik ini. Ammiiiinnn Pak De kangen le sama kalian, juga mas Daffa.




Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.