Indahnya 1 Syawal 1426 H


Saya dan suami sepakat untuk menentukan 1 Syawal dengan ru’yatul hilal, karena kata Kyai, Rasulullah selalu menentukan 1 Syawal dengan melihat hilal. Adapun metode-metode lain yang lebih canggih kami jadikan acuan untuk membantu keyakinan kami. Akhirnya kami sepakat untuk menunggu hasil ru’yah pemerintah. Setelah buka puasa hari Ahad tgl 22 Okt 2006, kami berangkat dari Leces ke Tulungagung untuk Sholat Id di sana, di Leces takbiran sudah berkumandang sejak usai Sholat Maghrib. Tapi kami telah meneguhkan hati untuk menunggu hasil ru’yah. Dan untuk mengantisipasi perbedaan lebaran kami telah menunaikan zakat fitrah hari Ahad demi amannya. Ditengah perjalanan kami sibuk mencari informasi tentang hasil ru’yah. Sekitar jam 8 malam kami dapat kabar dari saudara di Probolinggo, hilal gagal dilihat di 30 titik yang disebar oleh pemerintah. Berarti lebaran hari Selasa. Di sepanjang perjalananpun takbir yang berkumandang masih relatif sepi. Sesampai di rumah Tulungagung, ternyata semua juga sepakat lebaran hari Selasa, karena kami sampai sudah tepat tengah malam akhirnya kami ngobrol sambil menunggu sahur, mengisti’malkan bulan Ramadhan. Ditengah-tengah sahur kami menerima sms lagi dari saudara di Probolinggo bahwa Kyai Zaenal dari Bangkalan telah melihat hilal. Berita itu telah disebar melalui radio, selebaran, bahkan instruksi langsung dari walikota. Kamipun mencari informasi ke saudara yang lain, dan satu keyakinan baru bahwa jika hilal terlihat berarti lebaran. Ternyata Pak Lurah yang masih putra Mbah Haji Sirodj di Kalidawir lebaran hari Senin, Anak cucu Mbah Haji Sirodj alias Mbah Kakung (alm) juga lebaran hari Senin, KH Mujab Mujib di Sembung juga lebaran Senin, KH Moedhaffar Ma’shum di Srengat Blitar juga Senin. Dari deretan saudara yang kami telepon hanya KH Mahfudh Syaubari di Pacet dan Ponpes Al Fattah Mangunsari tempat kami biasa Sholat Id yang lebaran hari Selasa. Dengan satu keyakinan bahwa hilal telah terlihat dan melihat deretan orang-orang yang kami merasa mereka lebih tahu akhirnya kami sepakat membatalkan sahur dini hari itu. Dan kami memutuskan untuk lebaran hari Senin.
Allahu akbar-Allahu akbar Allahu akbar, laailaahaillallah huwallaahu akbar Allahu akbar walillahilhamdu.
Indahnya perjalanan memutuskan 1 Syawal 1427 H, semoga keyakinan kami berijtihad menentukan 1 Syawal 1427 H, Allah catat sebagai amalan yang jika salah Allah masih menjanjikan satu pahala, dan jika benar Allah menjanjikan dua pahala. Bukan pahala, bukan ganjaran tujuan akhir kami, namun semoga Allah ridho dengan keputusan kami. Amin Allahumma amin.
Taqobbalallahu minna waminkum shiyamana wa shiyamakum, taqobbal ya Kariim. Amin.

Ujung, 31 Okt 2006Rasa capek selama mudik tergantikan oleh barakah silaturahmi

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: