2 IBUKU


Adalah Ibu Kusniyah Rahayu, binti Gus Komaruddin yang dalam rahimnya Allah meniupkan ruh-ku dan menitipkan jasadku selama sembilan bulan lebih. Dan dari jalan lahirnya aku mengenal dunia. Dengan sepenuh kasih sayangnya aku tumbuh, aku mencecap nikmat dunia.
Ada ungkapan yang sangat sederhana karena aku tak mampu mengungkap kalimat apalagi yang mampu menggambarkannya tentang sosok ibuku ini.

Ibu,
Jika dunia adalah padang untuk mencari Cinta
Sungguh engkaulah oase bagiku
Untuk sejenak berhenti untuk menghela energi
Dan melanjutkan pencarian
Dalam ruang yang tak berujung dan tak berbatas.
Ibu,
jika akhirat adalah pertemuan Cinta
dalam haribaan Cintamu aku ingin melebur
Karena sungguh yang kurindu bukan jasad yang melekat,
Namun karena kasih sayang dan Cinta
Yang sesungguhnya pancaran Asmau’ul Husna

Dan setelah berjuang melawan diabetes mellitus selama kurang lebih 25 tahun, akhirnya beliau berpulang disampingku hari Jum’at kliwon 10 Nopember 2000. Semoga Allah membalas kebesaran dan keagungan cintanya kepada kami, karena hanya Allahlah sebaik-baik pembalas cinta.

Adalah ibu Musrifah binti Kyai Anwar, yang dalam rahimnya Allah tiupkan ruh suamiku dan menitipkan jasadnya selama sembilan bulan lebih. Dan dari jalan lahirnya suamiku mengenal dunia. Lewat nasabnya anak-anakku terlahir. Dan hubungan kami tak lagi bisa disebut menantu dan mertua, karena yang ada diantara kami hanya cinta. Dengan beliau aku banyak belajar, tentang kehidupan, tentang merawat anak, tentang memasak, bahkan belajar tentang berdampingan dengan sakaratul maut . Beliau ibuku juga. Kebesaran cintaku biarlah Allah dan beliau saja yang tahu. Yang jelas aku sangat mencintai beliau apapaun dan bagaimanapun beliau. Dan aku tersentak kaget tak percaya ketika di subuh hari Ahad tgl 18 Februari 2007 harus mendengar beliau berpulang ke Rahmatullah. Aku menangis, aku sedih karena justru disaat yang bersamaan aku harus menunggui anakku yg nomor dua di Rumah Sakit karena muntaber sejak hari Jum’at. Aku harus merelakan suamiku dan Mas Gangga pulang ke Probolinggo. Dalam hati aku mempertanyakan “Ya Allah Engkau tahu betapa besar cinta ini, kenapa Engkau tak memberi kesempatan kepadaku untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau? Disaat bersamaan aku seperti disentakkan oleh satu kesadaran baru bahwa “Jika engkau mengaku mencintainya kamu tidak boleh memberikan penghormatan terakhir kepadanya, karena beliau menginginkan penghormatanmu tidak berhenti ketika beliau meninggal. Kalau engkau mencintainya hormatilah beliau sepanjang hayat hidupmu! Kenanglah beliau disepanjang untaian do’amu, Subhanallah.

Apapun dan bagaimanapun beliau-beliau yang kuceritakan diatas adalah wanita-wanita perkasa yang pernah mengukir jiwa ragaku, menjadi sebuah pahatan yang kaya akan lekuk-lekuk kehidupan. Terimakasih, hanya itu yang mampu kuucap, dan kalaupun kelak di akhirat Allah memberikanku kesempatan untuk bersaksi tentang dua orang itu, aku ingin berkata, Ya Allah, Aku bersaksi mereka berdua telah mengantarku mengenal cintaMu, maka cintailah mereka berdua, dan lapangkanlah kuburnya, kumpulkanlah mereka bersama kekasihMu. Amin.

Ahad, 18 Feb 2007
Aku yang tengah berduka, yang merasakan sunyi di hatiku, dan ada sebagian hatiku yang terhempas hilang

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    w

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: