Bersahabat dengan Alam


Di Jawa Pos hari Minggu tgl 11 Februari 2007 salah seorang wartawan koran tersebut menulis dengan judul yang cukup menggelitik, “Tidak Mampu Melawan Alam, Bersahabatlah dengan Alam”. Saya tertarik karena sudah beberapa tahun kebelakang negeri kita tergerus oleh fenomana alam. Mulai tsunami, gempa, gunung meletus, kecelakaan transportasi baik darat, laut, dan udara yang terus bertubi-tubi menghajar kita, lumpur Sidoarjo, dan masih banyak lagi.

Kata orang alam sedang “murka”, sebenarnya kalau kita mau peka sebelum murka, alam telah memberi warning, namun kita sibuk menyalahkan alam. Karena taqdir, karena kondisi alam. Pertanyaannya adalah, alam bisa sebegitu rusak oleh ulah siapa juga?

Saya setuju dengan Mbah Maridjan bahwa alam itu juga hidup, punya ruh, yang ketika ia di cecar dengan gangguan ia juga punya ambang batas kesabaran. Alam punya filter tersendiri untuk menyeimbangkan keadaan, namun justru lewat tangan-tangan manusia yang notabene sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi ini alam menjadi rusak. Justru dari tangan makhluk terbaik yang pernah diciptakanNya alam menjadi tak berdaya.

Menurut saya alam tidak sedang murka, namun justru alam sudah tak mampu mempertahankan kelangsungan dan keseimbangannya sehingga terjadilah bencana-bencana. Alam menjadi tak seimbang dan keharmonisannya terganggu. Saya tak ingin memperpanjang penyebab fenomena ‘ketidakberdayaan’ alam, karena itu sebuah lingkaran setan yang tak akan ada awal dan ujungnya. Seperti kita memperdebatkan, duluan mana ayam dan telor?. Saya tidak ingin mencari siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab. Biarkan nurani yang lebih memfilter moral pemimpin dan orang yang punya kewenangan atas segala musibah yang melanda negeri ini. Yang ingin saya ceritakan adalah fenomena lain dimana jika mampu bersahabat dengan alam ternyata alam juga tidak tinggal diam, Alam tahu bagaimana harus berterima kasih.


Adalah Bagas Kurniawan pemilik Ninety Nine Trees Community Kampung Rusa. Ia mempunyai bisnis yang mampu berdampingan dengan alam membentuk suatu harmoni yang manis. Ia mempunyai lahan sekitar 5 hektare. Diatas lahan itu terbangun semacam komunitas yang benar-benar hidup dari alam. Mereka terdiri dari sepuluh keluarga. Mereka menanam padi sendiri, sayuran, buah-buahan, serta beternak ikan.

Awalnya lahan ini berupa tanah gundul yang kemudian mereka tanami pohon keras seperti nangka, durian, rambutan, dsb, yang ketika lahan itu siap untuk dihuni tanaman itu sudah menghasilkan buah yang dapat mereka konsumsi sendiri. Bahkan sekarang menjadi display produk bagi Masyarakat Pertanian Organik Indonesia, juga menjadi tempat outbound, untuk berbagai sekolah dan instansi. Jadi kalau paradigma orang selama ini mencari uang diluar rumah maka paradigma itu berlaku terbalik bagi mereka, dengan bersahabat dengan alam uang datang ke rumah mereka, bukan mereka yang mencari uang.


Adalah, Om Pran, masih kerabat dari suamiku. Ia hidup sendiri di lereng gunung Lawu. Luas rumahnya saya tak tahu persisnya, yang jelas luas, dan dipenuhi tanaman-tanaman langka dan mahal-mahal. Bukan bermaksud berbisnis, tapi banyak orang yang datang ke rumahnya meminta untuk membeli tanaman yang ada di rumahnya, termasuk perusahaan batik kenamaan Keris Galery. Tak ada orang yang tak kerasan tinggal di rumahnya, semua serasa menyatu dengan alam. Rumahnya sendiri kecil untuk ukuran sebuah keluarga, namun karena beliau hidup sendiri, jadi cukuplah. Halaman rumahnya dipenuhi gazebo dan tanaman-tanaman dengan berbagai corak dan warna, dari yang sekelas rumput sampai kelas aglonemia, adenium, anggrek, tanaman teratai, dsb. Belum pohon-pohon besar yang tak berbilang. Dan satu hal yang unik beliau ini selalu memperlakukan tanaman-tanamannya bak seorang teman, jadi ya diajak ngobrol sambil dilap pakai serbet, di pupuk dengan baik, dan disiram dengan cukup. Dengan hatinya beliau berdialog dengan tanaman-tanaman itu. Harga tanaman yang terbeli teman-temannya mencapai 50 juta. Itu jika nilai uang yang dijadikan ukuran keberhasilan.


Adalah KH Mahfud Syaubari, yang mencoba memadukan konsep keseimbangan alam pada rumahnya yang asri di Pacet Mojokerto. Rumahnya yang menyatu dengan Pondok Pesantren binaannya, serta sebuah bangunan Masjid yang besar di samping rumah induk. Dirumahnya yang cenderung berbukit-bukit mengikuti pola alam di Pacet, dibawahnya mengalir anak sungai yang cukup deras khas sungai di daerah pegunungan. Air itu tidak dibiarkan mengalir tanpa dimanfaatkan, tapi ditampung di kolam dengan beberapa jenis ikan didalamnya. Di kolam air deras ini ikan akan cepat tumbuh besar. Bahkan kolam ikan dibawah kamar tamu utama, ikannya sebesar anak seusia dua tahun jadi besar-besar. Diatas kolam yang lain dibelakang masjid di taruh kandang ayam, dan dipinggir-pinggir kolam ditanami terong, kacang, talas, cabai, pohon turi putih dan merah, serta beberapa sayuran lain. Turun kebawah kita dapati tanaman jagung, padi, bawang, umbi-umbian, juga beberapa pohon besar seperti durian, nangka, rambutan, apel, petai, alpukat, dsb. Kyai satu ini selalu memanjakan tamu yang berkunjung ke rumahnya, setiap tamu yang datang harus makan, dan yang pasti makan dari masakan yang bahannya didapat dari kebun sendiri. Ada gulai ikan, lalapan, sayur, penyet terong, jamur goreng, n so on. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dapur hanya memerlukan bumbu dan gas untuk api saja, karena kalau bahan makanan cukup memanen hasil kebun sendiri.


Saya yakin masih sangat banyak contoh-contoh tentang konsep bagaimana bersahabat dengan alam, dan satu yang dapat kita tarik benang merah, bagaimanapun alam mampu berterimakasih kepada manusia.


Lalu akankah manusia yang notabene makhluk sempurna yang pernah diciptakan-Nya terus menggerus alam demi memenuhi ambisi sesaat? Ingatlah peringatan Allah dalam firmanNya dalam QS An Nahl : 66
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagimu. Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih diantara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

QS Ibrahim : 7
Dan ( ingatlah juga ) tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.

Dalam QS An Nahl : 112
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.

Dan diteruskan di QS Al Anfal : 53
Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam QS Al Hijr : 19-20
Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keprluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.

Semoga goresan ini memberi inspirasi dan men-spirit pada kita untuk lebih berbaik-baik dengan alam. Tidak harus yang besar-besar seperti yang dilakukan oleh tiga orang contoh diatas, namun dengan membuang sampah sesuai tempatnya, dengan menghemat air, menghemat pemakaian listrik, menghindari pemakaian plastik, dan styrofoam, lebih care dengan kebersihan lingkungan, dan masih banyak lagi.


Karena pada dasarnya alam diciptakan untuk kesejahteraan kita, sejauh kita mampu mengelolanya dengan seimbang.

12.03.07
Kuselesaikan di sela-sela demam karena flu berat

Iklan

  1. 1 PENGUMUMAN ARTIKEL INSPIRATIF DAN PUISI TERPILIH UNTUK BUKU ANTOLOGI ESKA « Cahaya Bintang

    […] Bersahabat dengan Alam: Siu Elha […]

  2. 2 BlogE Sang Juara Sejati » Bisakah Kita Bersahabat dengan Alam??

    […] Bersahabat dengan Alam […]




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: