Seni Berjuang dalam Menggenggam Hasil …(Walah Serius Men judulnya)


Berteriaklah pada kami,
Maka kami akan mengangkat trofi
(Duddy Fachruddin)

Tulisan diatas yang mengilhami saya untuk menulis artikel ini.
Saya ingat ketika saya harus menyelesaikan kuliah dulu. Harus berdarah-darah…(hihhh?!). Dan hampir nggak kelar. Padahal cuma nempuh D3. Rasanya berattt banget kuliah sambil kerja. Pulang kerja menjelang Maghrib trus harus cepet-cepet mandi dan sholat kalau mau mengejar kuliah. Bahkan ada dua mata kuliah yang sering kutinggalkan karena waktunya berbenturan dengan jam kerja di kantorku. Sehingga saya harus memohon-mohon untuk bisa lulus di mata kuliah tersebut. Walhasil walaupun akhirnya diberi tugas dan hasil ujian dengan nilai A saya tetap harus puas dengan nilai kumulatif C, karena absensiku bernilai E. Pun ketika di semester keempat saya harus bertugas ke Jakarta selama kurang lebih 6 bulan. Kuliahku naga-naganya bakal ancur deh…kalau nggak ada temen-temen yang baik hati ikut memperjuangkan kuliahku. Mereka ikut melobi dosen-dosen yang kutinggalkan kuliahnya. Dan Alhamdulillah dengan seijin Allah, walaupun kutinggalkan selama 6 bulan aku masih diijinkan untuk mengikuti UAS. Subhanallah wal hamdulillah. Akhirnya aku ngebut di semester 5 dan 6. Bersyukurnya lagi selama tiga tahun kuliah bayar kuliahnya cuma 1 tahun karena saya rajin mengurus bea siswa.
Dan ketentuan takdir itu harus kujalani ditengah kuliahku yang nyaris kelar…menikah! Aku agak down lagi khawatir kuliah ini terhambat,…padahal saat itu udah di pertengahan semester terakhir. Hingga kalimat sakti itu membakar semangatku untuk menyelesaikan skripsiku as soon as possible.

Ada seorang entah sirik entah memang ingin menantangku bilang, “Alahhhh, paling juga kuliahnya bakalan terhenti karena nikah, dia kuliah kan cuma buat gaya aja, biar cepet dapet jodoh?!, Ditunggu aja !!”
Haaa…?! Sempat speechless denger dia ngomong seperti itu. Yang jelas ngomongnya tidak di depanku. Tapi syukurlah kalimat seperti itu sempat terlontar dan sempat kudengar walaupun dari mulut orang lain. Karena demi mendengar kalimat itu energiku untuk menyelesaikan bab demi bab skripsiku menjadi beribu-ribu kali lipat. Subhanallah…mestinya dia harus kutulis nomer wahid di lembar terima kasihku (sayang waktu itu belum kepikir) Mungkin akan kutulis seperti ini, “Terima kasih kepada ….karena Skripsi ini dapat tersusun cepat dan dengan energi penuh atas umpatannya kepada saya”.

Juga ketika menginjak bab ke –3 dan waktu pengumpulan skripsi kurang 3 minggu saya harus menjalani operasi KET (hamil di luar kandungan). Saat itu rasanya bener-bener hilang confidence, rasanya gak mungkin aja menyelesaikan bab utama dari skripsiku dalam waktu 3 minggu disela-sela Idul Fitri lagi. Belum cari data, belum bikin hasilnya. Untunglah kalimat pembakar itu datang lagi…kali ini bukan dari orang yang sama, tapi dari suamiku sendiri, “Apapun yang terjadi kuliahmu harus kelar…ibarat main bola kamu tinggal ceploskan bola ke gawang, kenapa harus ragu, ayo kamu pasti bisa!!.”

Akhirnya dengan Bismillah aku lanjutkan skripsi dengan kecepatan 200km/jam. Sampai ketika ketiduran karena lelah, dan terbangun harus geragapan melanjutkan begadang di depan komputer. Jam berapapun saya bangun pasti langsung ngadep komputer lagi. Paling cuma diselingi Ishoma dan kerja. Tak lupa sms cinta dari suamiku yang terus setia menemaniku di jam-jam sunyi, walaupun kami masih jauhan (dia di Bandung sementara saya di Surabaya). Akhirnya hari bersejarah itu tiba juga, aku menghadapi Ujian Skripsi! karena skripsiku sudah kelar sehari menjelang batas akhir pengumpulan. Dan Luar biasanya lagi, ketika akan berangkat ujian sempat ngetest urine karena udah telat seminggu, hasilnya positif!! Subhanallah…
Dengan iringan do’a suami yang hari itu khusus datang dari Bandung untuk menjadi suporter fanatikku, saya maju ujian, hasilnya lumayan untuk proyek yang agak tergesa-gesa, B+. Agak meleset dari target A. Karena memang saat ujian saya hilang konsen akibat berita kehamilan yang cukup menghebohkan hati saya.

Namun diatas itu semua saya sungguh bersyukur, bisa mampu menyelesaikan kuliah dengan IPK kumulatif 3,…Walaupun harus berdarah-darah…(tuh kan mulai lagi bahasanya!). Jika tak ada cemoohan, jika tak ada pelecut, jika tak ada tulus do’a orang-orang terkasih di sekitar saya, jika tak ada kesempatan, jika tak ada kemauan, jika tak ada strong struggle (weleh..), jika tak ada tangisan dari kesungguhan do’a, Jika tak ada Ijin dan IradahNya, rasanya saya tak akan mampu. Sungguh…!
Inilah kalimat yang kutulis pada lembar persembahanku :

Kepada abahku dan almarhumah ibuku, tak ada yang mampu kuucap selain terimakasih yang tak terhingga atas do’a restu serta kasih sayangnya selama perjalanan hidupku hingga kini,
Kepada keempat kakakku, terimakasih atas dukungan semangat, do’a dan kasih yang tercurah padaku,
Dan….
Kepada Suamiku tercinta, terimakasih atas segala dukungan, tulus do’amu dan sepenuh cintamu, sehingga kulalui semua dengan penuh semangat.
Semoga Allah membalas segalanya, karena Dialah Pembalas segala Cinta.”
Ujung,28.05.07
Yang mencoba mengingat kembali tentang arti sebuah perjuangan
Ketika kita tengah dilecehkan
Ketika kita sedang diremehkan
Semoga semua itu tak mampu melelehkan hatimu
Karena saat itu engkau sedang ditarbiyah
Karena yang berhak atas segalanya adalah Dia!!

Iklan

  1. Zacc
    Jun 22nd, 2007 at 4:02 am

    So Sweet
    Q lg mo ujian Skripsi
    Sama juga perjuanganx berdarah-darah
    Hari ini batas pengumpulan berkas terakhir
    Malem jm 10 aq br dapet acc dari dosen dengan revisi yg lumayan
    Thanks God
    hehe…
    Thank 4 the share…

  2. Alhamdulillah kuliahnya beres 🙂




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: