Aku ‘dibantai ‘ orang se RT


Tadi malem adalah jadwal RT ku arisan bulanan. Sebagai warga RT yang baik saya dateng setelah diketuk-ketuk tetangga depan rumah he..he..Soalnya acaranya nanggung buanget, lagi enak-enaknya liat Rossi berlaga dari titik start, udah di kloneng-kloneng suruh dateng. Dengan berat hati deh…(Tapi akhire Rossi menang yo..)
Malam itu arisan agak lama soalnya malem itu diadakan pemilihan ketua RT baru karena Ketua RT yang lama udah dua periode menjabat, aturan mainnya dia udah gak boleh dipilih lagi. Apalagi beliaunya mau nyalon jadi Pak RW. So memang harus dapet ganti yang baru.
Pada arisan edisi bulan kemaren, sudah banyak terutama ibu-ibu sibuk nyalonin Mas Guruh. Yang tak lain dan tak bukan adalah suami saya. Mungkin saya satu-satunya ibu-ibu yang gak setuju dengan wacana itu. Bahkan jadi penentang nomor satu. Suamiku jadi Pak RT, walah gak mimpi..n gak pengen. Akhirnya dengan berbagai dalih kami (suami saya juga sangattt ogah jadi Pak RT) punya alibi kuat, karena ada satu aturan yang tidak mengijinkan Ketua RT terpilih bukan penduduk asli Kelurahan tersebut. Dan kami memang bukan penduduk asli Kelurahan tersebut. KK kami masih numpang di Kelurahan lain. Alhamdulillah….satu alasan kuat cukup mematahkan keinginan mereka. Sore harinya ketika kami sedang ngobrol saya juga udah wanti-wanti agar gak mau jadi Pak RT (GR juga ya?). Saya punya alasan yang baik, demi kebaikan bersama. Sebagai orang terdekatnya saya tahu bagaimana dia. Untuk permasalahan di kampung okelah dia bisa untuk dimintai pertimbangan, namun kalau sudah menyangkut urusan birokrasi dia tidak recommended. Ngurus perpanjangan STNK, KTP, or anything yang berhubungan dengan birokrasi dia itu mbahnya males, selalu minta tolong jasa. Alasannya yaitu tadi, males dengan urusan birokrasi yang katanya “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?” apalagi akan menjadi pelaku birokrasi. Udah deh…basi dan nggak recommended titik.
Akhirnya karena punya alasan kuat untuk menolak pencalonannya aku dengan entengnya dateng diacara arisan. Sampai acara pemilihan acara sedikit kacau, karena figur belum ditemukan. Bahkan ketika ditawarkan kepada bapak-bapak yang lain gak ada yang mau. Juga gak ada yang ngotot untuk maksain. Ada seorang bapak yang jelas-jelas mau dipilih ternyata nggak disetujui audience. Serba salah, akhirnya suamiku angkat bicara, kalau memang malam ini harus terpilih ketua RT sementara tak ada calon jadi, yah lebih baik pak RT nyalon lagi aja. Kalau pada prosesnya nanti pak RT mau nyalon ketua RW yah..itu kan nanti. Akhirnya semua setuju, terpilihlah Pak RT baru yang lama. Walaupun sebenarnya aturannya gak boleh…tapi peraturan diadakan untuk dilanggar ya? He..he… Trik itu tadi sebenarnya untuk menutupi agar ia tidak dipilih jadi Pak RT, karena ada aturan yang katanya kalau sangat terpaksa yang bukan penduduk asli boleh menduduki jabatan ketua RT. Atau RT nya akan digabung dengan RT sebelah. Akhirnya slamet deh…
Tiba giliran Pak RT baru memilih wakilnya dia langsung main tunjuk hidung suami saya. Karena kalau pengurus lain bisa ditunjuk siapapun walaupun bukan penduduk asli. Walah..mulai lagi nih…harus segera diselamatkan. Saya mulai ngomong, tapi setiap saya ngomong selalu dibantah. Terutama ibu-ibu (kok banyak ibu-ibu nge-fans suamiku yo? Gawat!). Saya tahu dengan terpilih jadi Wakil RT suatu saat jika pak RT mangkat, (maksude nyalon jadi RW) otomatis dia harus jadi PJS Pak RT, nah skenario ini yang memberatkan saya. Akhirnya kubilang, Oke silahkan jadi Wakil RT asalkan dengan jaminan Pak RT nggak nyalon RW. (Egois banget ya) Aku pikir emang kayaknya saya yang egois, demi melihat antusiasme orang-orang untuk memilih bulat suami saya. Walaupun alasan saya jelas masuk akal dan di atur dalam peraturan dari kelurahan. Namun jika masyarakat yang memilih dan meminta kenapa saya yang gak boleh? Kenapa saya yang keberatan sendiri jika itu untuk kebaikan bersama? Ada suara yang seakan-akan memberitahuku “Jangan Egois?” (Apakah itu bukan ambisi bangga sesaat melihat semangat orang-orang yang bulat-bulat memilih suami saya? Yang pasti tidak!!) Akhirnya saya mengalah karena suami saya juga sudah tak bisa berkutik. Dengan iringan do’a semoga jika ini untuk kebaikan semua dunia akhirat, semoga Allah memudahkan jalannya. Amin. Semoga penolakan ataupun penerimaan saya bukan berpangkal dari kepentingan dan egosentris pribadi, atau bahkan bangga diri, karena Allah jualah yang menunjukkan hati orang-orang se RT untuk memilihnya. Saya harus ikhlas, saya harus nyadar bahwa seseorang (baca : suami) bukan untuk kita “pek dhewe” namun bagaimana bisa mendukung dia untuk lebih bermanfaat buat orang lain, lebih banyak, dan banyak lagi. Sehingga pada gilirannya akan memberikan efek positif bagi kerajaan cinta kami, semoga. Bi barakatillah..
Pacar kembang, 03.06.07

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: