Maukah Engkau Jadi Pengamen?


Sekilas tadi pagi saya membaca sebuah artikel di majalah Cahaya Sufi  kurang lebih isinya begini : Apakah kita mau jadi seperti pengamen? Yang ketika kita selesai menyanyi berharap segera diberi uang?

Tak terasa perilaku pengamen seringkali terjadi dalam setiap permohonan kita padaNya. Pengen setelah melantunkan pengharapan  maka sesegera mungkin untuk diberi jawaban sesuai pengharapan kita. Bahkan jika belum juga diberi teriak-teriak dari luar pagar. Dan nggak etisnya lagi selesai diberi uang langsung ngeloyor pergi.

Ya … kadang pengharapan kita terlantun ketika sedang membutuhkan sesuatu. Kita berharap-harap sangat cemas. Pengen segala sesuatu itu sak deg sak nyek artinya pada saat diminta pada saat itu pula ingin dikabulkan. Padahal kata Mbak Neno Warisman, Bungkus kado Allah itu bisa dalam kertas koran, bisa dalam kertas HVS putih mulus, bisa dengan bungkus daun, bisa dengan kertas kado nan cantik, bisa juga dengan kain yang sangat kumal, bahkan bentuknya bisa besar, atau kecil, . Artinya bungkus kado itu bisa bermacam bentuk. Nah, sekarang tinggal mengatur mindset kita dengan kado itu. Apakah karena kekurang sabaran kita menghayati sehingga bungkus kado tadi menjadi penghalang kita untuk membuka isinya? Padahal saya yakin isinya pasti mutiara. Ya yang sering terjadi adalah kekurangistiqomahan kita dalam menyikapi bungkus kado sehingga mutiara yang mestinya tergenggam tertutup bungkus kado yang masih sibuk kita perdebatkan.

Kemana cinta yang kita dengung-dengungkan setiap hari, setiap detik, setiap saat? Bahkan sehari minimal lima kali kita bersumpah dihadapanNya “Bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untukMu.” Hmmhhh ngeri saya membayangkan sumpah itu dengan perilaku keseharian kita. Apakah setiap Adzan berkumandang kita tinggalkan segera aktivitas kita untuk mendirikan sholat?, Bagaimana dengan malam-malam kita? Bagaimana derajat puasa kita? Sudahkah hak-hak anak yatim dan fakir miskin yang Allah titipkan lewat rizki kita terpenuhi? Sudahkah hak-hak orang tua, suami/istri, anak-anak, saudara-saudara kita telah terpenuhi? Tak perlulah semua itu dijawab, karena sesungguhnya guru didalam dirimu telah menjawabnya secara otomatis.

Yang ada adalah perlakuan kita yang seperti pengamen tadi. Mengharap-harap sepertinya Tuhan itu jin yang baru kita gosok dari lampu ajaib, agar dapat memenuhi segala keinginan manusia. Padahal keinginan itu nafsu belaka. Allah lebih tahu tentang kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Sehingga sebenarnya tak perlu kita berlaku bagai pengamen tak tahu diri. Sudikah engkau menjadi pengamen itu?

Iklan

  1. “Allah lebih tahu kebutuhan kita, bukan keinginan kita…”

    He…he..he… Dasar kita pengamen ya bu… Selalu sok tahu dan pemaksa…

    Tapi biarlah saya tetap jadi ‘pengamen’
    yang selalu puas kalau Allah tahu bahwa saya hanya membutuhkan segalanya dari-Nya…
    Dan tahu kalau Allah pasti memberikan…
    Walau bukan sekarang,
    atau memberi yang lain…
    karena tahu bahwa saya demikian bodoh sehingga meminta ‘barang’ yang salah…

    Salam kenal

    Sony

  2. YAh boleh kalo mo jadi “pengamen” tapi yang santun ya? Nyanyikan lagu dengan suara termerdu yang anda punyai, pakai pakaian terbaik yang anda miliki, mainkan music dengan sepenuh penghayatan hati, kalaupun belum diberi uang tak usahlah memaki, dan jika seketika diberi uang segeralah mengucap terimakasih dengan sepenuh hati, isn’t it?




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: