PERJALANAN HAJI


Tahun 2006, suamiku mendapat kesempatan tak ternilai, mendampingi ibundanya ke Tanah Haram Makkah Al Mukaramah dan Madinah untuk menunaikan ibadah Haji. Tawaran itu awalnya datangnya dari kakaknya yang bermaksud memberangkatkan ibu dan satu putra/putrinya untuk mendampingi ibu. Dan ibu diminta untuk memutuskan sendiri dengan siapa ibu akan berangkat. Dan beliau memilih suamiku.Subhanallah Jika Allah telah berkehendak.

Akhirnya segera segala sesuatu di urus, karena suami tinggal di Surabaya sementara ibu tinggal di Probolinggo harus sementara pindah KK untuk mendaftar dari Probolinggo. Dan pada saat ia ada tugas ke Yogya, pendaftaran telah dimulai dan ditutup beberapa menit kemudian sehingga hanya terlambat beberapa menit , seat telah habis dan harus menunggu tahun depan.
Subhanallah Jika Allah sudah berkehendak. Ada beberapa usulan untuk berangkat dari yang jatah seatnya agak longgar semisal dari Bali, tapi suami saya memilih, “ Sudahlah, ini perjalanan ibadah, mungkin dengan tertunda akan lebih baik persiapannya.”

Dan setelah tertunda satu tahun. Akhirnya tibalah hari keberangkatan, dan karena alasan finansial dan anakku yang kedua masih kecil 7 bulan dan masih harus minum ASI akhirnya saya harus mengikhlaskan suamiku berangkat sendiri dengan ibu. Semoga Allah memberikanku kesempatan di lain waktu, dan aku berharap semoga waktu itu tak terlalu lama. Ah Baitullah adalah kerinduan abadi bagi jiwa-jiwa muslim.

Ketika kami mengantar jam 1 malam, hanya Mas Gangga yang ikut, adek nggak ikut. Acara pamitan dengan tetangga membuat semua menangis, namun saya sudah bertekad kenapa harus menangis? Ini adalah perjalanan cinta yang didamba semua, so aku memang gak nangis bahkan ketika kami berpelukan di gerbang rumah wakil bupati Probolinggo tempat berkumpulnya JCH KBIH Al Mabrur. Namun ketika aku dan Mas Gangga balik kanan, dan berjalan menjauh menuju parkir mobil, ada yang meleleh di pipi ini, dan semakin deras. Ah..bagaimanapun dia separuh nyawaku dan akan pergi kurang lebih 40 hari, waktu terlama yang pernah terentang diantara kami.

Namun aku bersyukur ia selalu berkirim kabar entah lewat sms ato menyapa lewat telpon. Mendengar renyah suaranya aja sudah mampu menjadi penawar rindu.
31 Des 06 02.18 dia sms,
“Honey, kami sudah di pesawat siap berangkat.”
Kujawab sms itu,
“Selamat jalan, Sayang, selamat menjadi pelayan surga, layani ibu dg sepenuh cintamu, semoga tiap langkah & nafasmu adlh butir tasbihmu pada Allah, tak sambung do’a terus, Insyaallah.”

Akhirnya aku kembali ke rutinitas keseharian, hanya ibadah terasa lain. Entah kenapa menjadi lebih ‘berisi’. Apalagi sering ditengah menjalankan tugas dikantor terdengar nada khas sms dari HP
“Kami sudah di Bandara King Abdul Azis, dlm proses pemeriksaan lgkp, do’akan semuanya lancar,trims ”
Rasanya ada yang bergetar dihati ini.
“Alhamdulillah kami smpi di maktab dlm keadaan ihram tinggal menunggu pelaksanaan thawaf, sa’I, tahallul nanti malam, dukung do’a ya?”
Rasanya seperti berdampingan dengannya, mengikuti setiap berita darinya.

Ketika menunggu waktu pulang kantor HP nada sms bergetar lagi,tgl 8-01-06
“Kami sudah mulai persiapan wukuf di Arofah, semoga lancar tanpa kendala”
Siapa yang tak tergetar mendapat berita ini langsung dari Mekkah.

Tgl 9 Jan 2006, 07.17
“Kami sedang wukuf” Aku teringat do’a wukuf yang kutitipkan, panjang, aku punya kopinya sehingga doa itu pula yang kubaca ditengah hingarnya takbiran.
Esoknya saya dan Mas Gangga, serta adek ke lapangan dekat Masjid untuk menunaikan Sholat Idul Adha, Lebaran Haji tahun ini terasa lain, saya juga heran setelah kurang lebih satu minggu jauh dari separuh nyawaku, memang ada yang kurang, tapi entah kenapa justru rasanya ringan banget melalui hari-hariku. Malah lebih berat kalau ditinggal luar kota 3 hari, suka rindu berat. Tapi sekarang rasanya lain, juga Mas Gangga, ia gak pernah nangis, padahal kalau ditinggal sebentar aja minta telpon, minta Ayah cepat pulang. Apalagi si kecil, ia belum begitu terasa kalau gak ada ayahnya. Bahkan Mas Gangga kalau ada reklame Bank BNI di jalan Darmo gambarnya Ka’bah ia selalu bilang, “Bunda disitu ada Ayah sama Eyang” Dan setiap malem sebelum ia tidur ia selalu baca Al Fatehah, katanya untuk Ayah dan Eyang. Ah..Mas Gangga.

Tgl 13 Jan 2006, 06.56
“Smsmu masuk tepat ketika kami tiba di Jamarat. Alhamdulillah kami selesai dg 3 jumroh, skrg dlm perjalanan ke maktab” Sebelumnya aku memang mengirim sms ingin menanyakan kabar perjalanan haji mereka.

Tgl. 15 Jan 2006 15.35
“ Alhamdulillah akhirnya ibunda Hj. Musrifah binti Kyai Anwar sdh menyelesaikan semua rukun hajinya, saat ini aku persiapan Umroh untuk Bpk Hasijatmin, sambung do’a ya?”
Pada saat suami mempunyai kesempatan berumroh, ia bermaksud meng-Umrohkan aku, kusarankan agar untuk mengumrohkan ibuku yang telah meninggal. Ibu Kusniyah, dan subhanallah saya terbangun dari mimpi di sepertiga malam setelah ibu menyapaku dengan kalimat yang intinya “Matur nuwun Sayang, saya pulang aja nggak ikut ke Madinah’, dan saat itu ibu terlihat sangat cantik menggunakan jibab yang sangat indah berwarna putih berenda pink. Wallahua’lam.
Sebelumnya aku mendapat sms ini “ Alhamdulillah Haji selesai Umroh selesai (Ibu mengumrohkan Mbah Kyai Anwar, aku Bp. Hasijatmin dan Ibu Kusniyah Rahayu, tinggal menunggu Thawaf Wada’ sblm ke Madinah. Subhanallah, semoga barakah Umroh itu memang benar-benar menjadi penerang dalam kubur ibuku Amin.

Tgl. 18 Jan 2006 13.40
Hari ini kami dlm perjalanan ke Jeddah utk ziaroh ke Masjid Apung, Masjid Qishos, Makam Siti Hawa,  Laut Merah. Honey mau ikut?, ntar tak critani ya?
Tak terasa air mata ini meleleh. Betapa indahnya setiap saat diberi kabar seperti ini.

Tgl 21 Januari 2006 jam 07.22 ditengah-tengah Dhuhaku, HP bergetar lagi tanda ada sms masuk
“Alhamdulillah, Barokallah pagi ini aku berkesempatan mencium Hajar Aswad, Maqom Ibrahim, Dinding Ka’bah, dan sholat 2 raka’at di Hijr Ismail, titipan doa sudah kutunaikan.”
Derasnya air mata ini, tubuhku melayang serasa Ka’bah didepan mata.
Cerita dibalik sms ini disampaikan suamiku sepulang dari Tanah suci,
Saat kesempatan mencium Hajar Aswad yg pertama sebenarnya ia sudah dimintai tolong temen-temennya kalau mau cium hajar Aswad sama-sama aja. Tapi Suamiku bilang kayaknya saya gak bisa begitu, karena mencium Hajar Aswad sebenarnya bukan menjadi agendanya di tanah suci. Maksudnya bukan menjadi sesuatu yang bisa direncanakannya. Berkali-kali temen-temennya yang berangkat dengan niatan ingin mencium Hajar Aswad pulang dengan hasil nihil. Bahkan ada yang nyemangati kalau dalam satu maktab ini sudah ada yang bisa biasanya menular.

Tibalah saat sepertinya ada ‘ajakan’ agar ia berangkat masih pagi banget sebelum subuh sekitar jam 2 malem ‘ajakan’ itu datang. Akhirnya ia bangkit membangunkan teman-temannya, namun hanya ada satu orang yang mau. Dan ketika memulai thawaf sepertinya semua mengalir saja, bahkan ia merasa semua orang-orang yang didepannya menyibak, sehingga ia bisa leluasa mendekati Ka’bah, dan tak terasa sekitar 2 meter batu hitam itu ada didepannya, sudah tinggal sejengkal, ketika orang-orang didepannya menyibak dan Subhanallah, bau wangi itu menyentuh hidungnya, ia puaskan menciumnya dalam lantunan do’a yang tak terputus. Ekstase itu dirasakannya.

Begitu tahu suamiku bisa mencium Hajar aswad banyak yang protes kenapa gak diajak, suamiku dengan kalem menjawab, “Demi Allah saya tidak bermaksud dan merencanakan untuk mencium Hajar Aswad, hanya ingin tahajjud di Masjid, dan Allah memberi kesempatan itu, sungguh, lagi pula saya juga sudah berusaha bangunin temen-temen ternyata yang bangun cuma satu. Mereka mengakui entah mengapa malam itu mengantuk sekali.

Kesempatan kedua mencium Hajar Aswad datang ketika ada suami istri yang ingin mencium Hajar Aswad, Si suami sudah bisa, hanya minta bantuan suamiku untuk membantunya mengantar istrinya yang berkeras hati ingin mencium Hajar Aswad, suamiku mau membantu dengan satu catatan agar meluruskan niat hanya untuk Allah saja. Akhirnya mereka beriringan menuju Ka’bah untuk memulai berthawaf.

Sebelumnya aku juga kirim sms bahwa ada temen bilang kalau bisa mendekat ke Ka’bah sempatkan untuk sholat di depan Babut Taubah karena Rasulullah sering menerima wahyu dari Malaikat Jibril di dalam Ka’bah di sisi Babut Taubah.Suamiku bilang, kayaknya sulit, bisa cium Hajar Aswad aja karunia yang luar biasa, apalagi sholat di Babut Taubah, dia bilang sering dijaga Askar. Namun saya hanya menjawab, Ya kalau bisa aja, do’akan kami ya? Sambil di dalam hati berdo’a Ya Allah tidak ada yang tidak mungkin bagiMu, mudahkanlah perjalanannya, Ya Rabb. Sampai akhirnya aku membaca sms ini :
Tgl. 27 Jan 2006 07.01
“Alhamdulillah aku diijinkan cium Hajar Aswad lg, sholat di Babut Taubah & Hijr Ismail, amalan Allahu Akbar dgn melolong”

Subhanallah… jika Allah telah bekehendak, dan sms yang masuk kemudian membuatku merinding, dan memutuskan menghentikan aktivitasku untuk menunaikan sholat entah saya menangis…saya terlarut….
“Insyaallah tepat jam 2 aku melayang setelah cium Hajar Aswad karena penuhnya jamaah sampai ada tangan seorang laki-laki ganteng menarikku menuju Babut Taubah, Subhanallah”
Ternyata setelah ia mengantar suami istri tadi, dan posisinya di depan sementara Hajar Aswad sudah didepan mata akhirnya ia memutuskan untuk menciumnya lagi, bau wangi itu kembali tercium. Dan ia minggir sedikit untuk memberi kesempatan istri teman tadi untuk mencium Hajar Aswad. Dan ketika akan keluar karena penuhnya jamaah mereka bertiga terpencar (Alhamdulillah selamat semua) bahkan suamiku tergencet sampai sesak untuk bernapas, sehingga ia hanya mampu bertakbir berkali-kali dengan suara yang keras sampai seperti melolong karena suaranya hampir habis, sampai kemudian ia merasa melayang beberapa detik dan dari belakang seperti ada yang memeganginya serta mengangkatnya, tahu-tahu ia sudah berada di depan Babut Taubah. Ketika ia diangkat tadi sempat menoleh kebelakang melihat siapa yang telah mengangkatnya dan terlihat seorang yang berwajah bersih, guanteng, berambut agak ikal, badan sedang, sampai sekarang ia tak mampu melupakan wajah ganteng itu.(untung yang diingat wajah ganteng he..he..). Dan ketika ia melakukan sholat dua rakaat tak ada askar yang mengusirnya malah seakan-akan ia dijaga untuk menunaikan sholat disana. Dari Babut Taubah ia menyisir sampai didepan Hijr Ismail, ia puaskan berdo’a, memohon ampun dan berdoa. Subhanallah perjalanan yang luar biasa bagiku. Apalagi yang mengalaminya.
Tgl 28 Jan 2006 23.12
“Alhamdulillah Thawaf Wada’ kami lalui dengan lancar skrg dalam bis menuju Madinah, sambung do’a terus ya? smg semua lancar.”
Ada oleh-oleh yang istimewa darinya buat kami sekeluarga, suamiku menyempatkan dan meniatkan thawaf sambil membawa air zam-zam dalam botol untuk saya, Mas Gangga dan Adik Gautama masing-masing dithawafkan dengan meniatkan semoga air itu menjadi air yang barakah karena dithawafkan di Ka’bah. Oleh-oleh yang istimewa bagiku, sebotol Zam-zam yang berlabel nama-kami masing-masing.
Itulah hari-hari akhirnya di Mekkah, kota kelahiran Manusia agung kekasih Allah Muhammad Rasulullah SAW.

Tgl. 29 Jan 06 12.19
“Kami sdh sampai di Madinah
Kota kedua yang bersejarah dalam perjalanan dakwah Rasulullah, dengan kemuliaan Kaum Muhajirin. Rasulullah memuliakan kota ini dengan do’anya “Semoga Engkau jadikan kota Madinah sebagai kota yang makmur,dan tidak pernah banjir.”

Tgl.31 Jan 06 10.44
Alhamdulillah aku berkesempatan shalat di Raudhah, trus sholat subuh di shaf pertama sebelah kiri imam.
Tak dapat kugambarkan ramainya hatiku saat itu. Siapa tak tergetar merinding membaca sms seperti ini, dari tanah air seolah-olah aku menghadap Raudhah. Seakan tersedot daya magis, blank beberapa saat. Raudhah tempat yang mulia, dimana disana tertanam jasad manusia agung sepanjang sejarah peradaban manusia.

Aku teringat kalimatmu Ya Rasul kekasih Allah, “Ada suatu Umat yang aku rindui,”
“Siapa mereka Ya Rasulullah?” tanya sahabat, “Apakah itu kami? Tanya sahabat lagi.
“Bukan,” jawab Rasulullah, “Kalian adalah umat yang terbaik yang hidup dijamanku. Sehingga sudah sepatutnya kalian mengimaniku, sementara mereka adalah ummat yang ada jauh setelah kepergianku, namun mereka mengimaniku, membenarkanku, merindukanku disaat aku sudah tidak berada disisi mereka lagi, merekalah yang aku rindui” Jawab Rasulullah.
Salammualaika Ya Rasulullah, Salaam.
Salamualaika Ya Habiballah, Salaam.
Semoga kami termasuk manusia beruntung itu.
Saya teringat titipan doaku, semoga aku dan seluruh keturunanku terbimbing dalam akhlaq Muhammad SAW. Amin.

Cerita versinya dalam mencapai Raudhah kurang lebihnya seperti ini, pintu Masjid Nabawi selalu dibuka sekitar 02.30 dini hari, hari itu justru ia agak kesiangan untuk sholat di Masjid.Sehingga ia berdiri tidak di pintu utama, namun disisi yang lain. Dalam hati sudah mengeluh, “Wah sudah telat, nggak bakalan dapet tempat di depan?!” Namun, Subhanaallah hari itu ada pengecualian, yang biasanya pintu utama dibuka lebih dahulu, ternyata petugas membuka pintu sisi yang lain dimana saat itu suamiku berdiri di depannya. Subhanallah ….berkali-kali kalimat itu itu menyesakkan dadanya bagi mitraliur,

Tgl. 31 Jan.06 11.38
“Hari ini insyaAllah kami ke Jabal Uhud, Qiblatain, dll. Ada masukan?”
Ia memang terbiasa mengirimkan kabar kalau ketempat-tempat khusus seperti itu, karena saya pasti menitipkan do’a, dan do’a yang kutitipkan adalah do’a yang ingin kupanjatkan di tempat tersebut, seandainya saya bersamanya saat itu. Semoga barakah itu tersampaikan.

Dan menjelang hari-hari terakhirnya di Madinah ada seorang temenku yang menyarankan untuk menziarahi Masjid Ijabah, karena pernah Rasulullah berdo’a ditempat tersebut dua dari tiga doanya terkabulkan, sehingga dengan ittiba’ Rasul semoga doa yang dipanjatkan disitu mustajabah.
Awalnya ia mengabarkan sulit sekali menemukan lokasi Masjid itu, dan waktunya tinggal setengah hari besok. Karena aku juga ingin rasanya menziarahi Masjid tersebut kubantu dengan do’a seperti ketika ia mampu menuju Babut Taubah ketika berada di Mekkah. Semoga ia diberi kemudahan.
Akhirnya sms itupun kuterima tgl. 06 Februari 06 pukul 15.06 “Aku skrg di depan Masjid Ijabah tp msh tutup nunggu sholat Dhuhur (Arbain telah selesai Subuh tadi) ada titipan?”
Oh…..so pasti Sayang. Subhanallah siapa yang tak tergetar dengan sms-sms seperti ini.

Malemnya jam 22.23 kuterima sms
“Kami sudah dibandara Madinah insyaallah berangkat 1 jam lg, nyampe Juanda sekitar jam 10 siang, proses admin selesai sekitar sore hr, nanti kukabari lagi.”
Ada bahagia yang terselip di hati ini, perjumpaan itu akan tiba. Baru terasa rindu ini. Walaupun beberapa hari terakhir ini, aku juga sering gelisah, sedih yang menggelayut, karena dengan kedatangannya berarti nada sms yang sangat aku nantikan di sebulan terakhir ini juga akan terhenti. Sms cinta bagiku, melebihi kata cinta dari tulisan maestro sastra.

Jam 23.49
“Kami sudah di pesawat siap berangkat sambung doa, trims”
Aku sudah di Leces Probolinggo dengan anak-anak dan adik suamiku yang menyopiri, ketika sms itu tiba.

07 Feb 2006 10.11
“Alhamdulillah kami sdh di Juanda, skrg dlm bis siap menuju Sukolilo, proses sekitar 3 jam trus lgsg Probolinggo.”
Ini sms terakhir yang kuterima dari rangkaian ibadah haji karena setelah itu kami berbicara langsung lewat HP.
Selamat tinggal sms cinta, semoga lain kali aku yang akan menuliskannya!!!. Dan selamat datang tamu Allah, separuh nyawaku.Terima kasih aku telah “dilibatkan” dalam rangkaian ritual hajimu. Semoga barakah itu tersampaikan.

Tepat adzan Ashar ketika Bis rombongan haji itu memasuki masjid Patal Grati tempat beristirahatnya jamaah Haji Kec. Leces. Hatiku deg-degan kayak mau dipertemukan dengan mempelai saja. Ketika akhirnya kami berhadapan kupeluk dia, subhanallah wangi itu membuai hidungku, seperti wangi yang pernah ku hirup ketika aku sholat tahajjud beberapa waktu lalu.  Alhamdulillah semua telah sampai dengan selamat. Kondisi Ibupun yang sempat dikhawatirkan sakit pun , Subhanallah mampu melalui seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancer, dan semoga haji mereka tergolong haji yang mabrur, haji yang penuh barakah, dan haji yang diterima lagi di ridhoiNya. Amin.

Dan satu peristiwa yang ingin kucatat setelah kepulangan haji itu, tentang photo-photonya. Kamera digital itu masih baru dibeli ketika akan dibawa ke Tanah Suci. Sehingga aku sendiri masih suka gaptek mengoperasikannya. Sesampai di Surabaya ada saudara ingin melihat momen2 yang terabadikan. Switch untuk mencari menu di kamera itu tergolong sensitif  sehingga terpencet sedikit aja sudah masuk menu dan langsung ke sub menu ‘delete all?’nah kalo agak panik sehingga tanpa sengaja  akan terpencet tombol ‘yes’ . Aku sebenarnya sudah ingin memindah ke CD, tapi kesempatan itu belum ada karena tamu-tamu yang masih banyak.

Akhirnya kekhawatiran itu terjawab ketika ada tamu yang datang dan kamera itu berpindah tangan kepada saudaraku tadi karena suamiku harus menemui tamunya. Dan pertanyaan delete all? Terjawab “yes’ sehingga yang tersisa adalah tulisan ‘There is no files’ Terjadi kegemparan sejenak, apalagi setelah tamunya pulang. Sampai akhirnya yang ada hanya hening. Kami jadi salah tingkah semua, dan sang saudara yang jelas merasa paling bersalah. Setiap hari ia menelpon menanyakan gimana? Aku? Aku menangis kecewa, sedih, dan atas saran suamiku daripada energi berlebih karena menahan kecewa lebih baik buat sholat aja.

Kamera itu sudah kami bawa ke laboratorium Photo barangkali masih bisa terselamatkan. Semua geleng kepala, nihil. Sampai suatu malem ada temen yang dateng silaturahmi. Yah obrolan mengalir aja, sampai ketika ia mau pamitan pulang nanya-nanya ada photo yang bisa diliat gak selama di Tanah Suci. Dari situ suamiku cerita dari awal, dan subhanallah ia mau coba bantu barangkali masih bisa diselamatkan. Ia memang punya usaha warnet dan berkecimpung di dunia komputer. Akhirnya kamera dan seluruh perangkatnya dibawanya. Sebenarnya dia cuma mau bawa memory card aja tapi ama suamiku udah deh bawa aja semua gimana caranya supaya gambar itu muncul lagi. Gak tau gimana caranya, kubantu dengan doa, karena sungguh dari suamiku kecewa sih ada, tapi ada yang lebih penting di kamera itu banyak momen-momen ibu. Itu yang lebih memberatkan sehingga kami belum mengabari keluarga Leces atas insiden ini.

Esok hari sekitar Dhuhur ada kabar dari temen yang membawa kamera kemaren, gambar-gambar 90% bisa dimunculkan lagi. Subhanallah, Hah….rasanya gak percaya aja, begitu cepat Ia menjawab do’a kami. Malemnya suamiku mengecek ternyata benar hanya sekitar 10 gambar aja yang tak terlihat itupun objek2 yang terphoto dobel. Penjelasan teknisnya katanya karena kamera itu baru jadi belum pernah terisi gambar lain istilahnya masih perawan sehingga memory hanya tergores object yang di Tanah Suci itu. Mungkin kalau di komputer ia bongkar dari recycel Bin-nya kali. Aku sendiri gak tau juga. Yang penting gambar momen-momen tak terlupakan itu dapat terselamatkan. Minimal akan jadi penawar rindu kami pada Baytullah, dan semoga tidak akan menjadi sumber kesombongan bagi kami.

Masih banyak cerita yang tercecer yang akan saya ceritakan kemudian. Karena rangkaian cerita diatas adalah cerita versi saya ketika “mendampinginya” selama berhaji. Walaupun hanya mendampingi dari tanah air, mungkin versi selanjutnya akan saya ceritakan versi dia, sebagai pelaku utama perjalanan hajinya.

menjelang Wukuf di Arofah musim haji 6 Dzulhijah 1427H
Semoga rindu abadi ini akan segera terobati dengan IzinMu

Iklan

  1. Cerita ini menimbulkan kerinduanku untuk bisa menunaikan ibadah haji.

  2. hmhh…ketemu lagi kang..piye kabare..?

  3. far

    aku menangis mengikuti cerita ini, semoga kelak semua saudara2 kita yang diundang untuk menunikan ibadah ini diberikan kemudahan yang serupa

  4. Gatot Subiyanto

    Saya terharu membaca tulisan perjalan haji ini, dan saya berharap mudah mudahn saya dapat melakukan seperti yang diceritakan. Amin




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: