Tak Sekedar Tes Membaca dan Menulis.


Karena tahun depan saya punya hajat (halah) untuk meneruskan jenjang sekolah Mas Gangga ke SD , maka mulai saat ini bahkan bulan-bulan kebelakang kemaren saya sibuk mencari info seputar Sekolah Dasar. Dari Beberapa Sekolah Swasta Unggulan (mis. : Al Falah, Muhammadiyah Pucang, Al Hikmah, Al Azhar, SDI Luqman Al Hakiem, SAIM, dll) yang ada di Surabaya, rata-rata biaya masuk SD kurang lebihnya sbb.: Uang Pangkal rata-rata kisaran 5 s/d 7 Juta, SPP perbulan rata-rata 500 ribu (termasuk uang makan, karena semua menganut full day school). Ada SPP yang kisaran dibawahnya, bahkan separonya tapi itu belum termasuk uang makan jadi jatuhnya juga hampir sama gitu. Ditambah ada Tes Penerimaan Siswa Baru, selain usia yang juga menjadi pertimbangan juga ada yang mewajibkan tes Baca dan Tulis. Hmmhh… sekolah yang bagus, dengan kurikulum sangat ideal alias membumi dan melangit ternyata sangatlah mahal. Memang betul , “Ono rega ono rupa” (baca : Ada harga ada kualitas).

Saya tidak membahas tentang harga yang harus dibayar untuk sebuah Sekolah Unggulan, namun membahas tentang Tes Baca dan Tulis. Sudah jamak ketika masuk SD tes nya adalah Baca dan tulis. Sehingga sekarang rasanya sudah terbiasa melihat anak-anak usia pra sekolah sudah pintar-pintar membaca. Dari segi kemampuan kasat mata memang itu sebuah kemajuan luar biasa. Seingatku waktu TK ku aku belum bisa baca dan tulis, namun ketika memasuki usia SD kelas satu baru dikenalkan kata dengan kartu-kartu yang disediakan oleh BU Guruku. Sekali lagi baru dikenalkan bukan diajarkan untuk membaca dan menulis. Itupun dimulai membaca satu kata yang kemudian ketika mulai mengerti, kata itu tadi dipenggal-penggal menjadi suku kata. Dan kita berlomba untuk menyusun kartu-kartu tersebut menjadi kalimat yang dicontohkan Ibu Guru. Saya berkesan betul dengan pelajaran baca tulis ini.

Sejujurnya ada semacam “ketakutan atau kegelisahan” menghadapi hajatan saya tahun depan. Selain ketakutan tentang “harga” produk bernama sekolahan juga ketakutan yang lain bernama “Tes Baca dan Tulis.” Bukan saya tak percaya dengan Mas Gangga, tapi mengingat sudah jauh-jauh hari Sekolah Mas Gangga ini mem-warning kami, wali murid, bahwa mereka tidak akan mengajari (baca : mendrill) anak-anak untuk harus bisa baca tulis. Padahal sudah jamak jika lulus TK sekarang dimana-mana pasti harus bisa baca tulis karena memang itu pra syarat untuk bisa masuk SD juga selain syarat usia. Pihak Sekolah hanya menjelaskan bahwa mereka akan berupaya mengenalkan baca dan tulis pada anak-anak. Dan tidak akan memberikan sesi pelajaran baca tulis langsung. Awalnya saya khawatir, dan ternyata saya tidak sendirian. Setidaknya itu terungkap dalam forum Tanya jawab di Sekolah hari Sabtu kemaren. Agenda pertemuan itu membahas tema “Mempersiapkan Bekal Anak Masuk SD, sekaligus dialog dua arah dengan wali kelas masing-masing menjelang berakhirnya semester satu tahun ini.

Pihak Sekolah menanggapi keluhan tersebut dengan memaparkan materi tentang Keaksaraan. Bahwa Pengenalan Keaksaraan bukan berarti anak sekedar lancar membaca dan menulis, namun yang terpenting adalah anak dapat memahami apa yang dibaca dan di tulis. Saya renungkan pernyataan itu. Bener juga , Lha kalau hanya bisa baca lancar tapi tidak tahu maksudnya dimana asiknya? Atau bisa menulis panjang lebar tapi tidak paham apa yang ditulisnya, ngapain susah-susah nulis? Tapi ternyata ada anak-anak yang begitu. Mereka bisa membaca kalimat per kalimat sampai satu paragrap begitu ditanya dengan satu pertanyaan yang berhubungan dengan paragrap tadi ternyata nggak ngeh. Dan setelah ditelusur ke belakang ternyata metode dia bisa membaca dan menulis dengan di drill. Artinya pengetahuan keaksaraan ini dipaksakan untuk dimasukkan ke otak anak untuk mengejar target ia harus bisa lulus ujian tes masuk SD. Padahal kemampuan pemahaman keaksaraan anak-anak sangatlah berbeda. Dan itu tergantung juga pada masalah perkembangan emosi si anak. Dan pada gilirannya perkembangan emosi ini erat kaitannya dengan kematangan usia. Kenapa saya sebut kematangan usia? Karena hal itu juga berbeda pada setiap anak. Walaupun secara teori semakin banyak usia anak biasanya kematangan emosinya pun juga semakin baik.

Ustadzah yang juga sebagai Kepala Sekolah di Sekolah Mas Gangga, menerangkan bahwa amat disayangkan jika keaksaraan ini dijejalkan pada anak tanpa pertimbangan kesiapan emosi anak sendiri. Mungkin dalam skala jangka pendek akan keliatan anak tersebut lebih cepat bisa membaca. Namun sebenarnya ada akibat lain yang kurang disadari dari metode yang memaksakan ini. Dampak inipun juga tidak langsung terasa karena justru akan keliatan pada empat lima tahun mendatang. JIka pengetahuan keaksaraan ini dipaksakan ke anak disaat dia sebenarnya belum matang secara emosi, maka dikhawatirkan grafik minat anak terhadap baca dan tulis akan njeglek (baca: menurun drastic) karena ia merasa jenuh dan lelah secara pikiran. Esensinya akan lain ketika pengetahuan keaksaraan ini dimasukkan sedikit-demi sedikit sambil melihat perkembangan kesiapan mental anak, maka dengan kesadaran penuh minat membaca dan menulis itu tumbuh dengan sendirinya. Ketika minat telah tercapai maka sebenarnya hanya dengan sedikit dorongan saja anak-anak akan mempelajari baca tulis dengan senang hati tanpa paksaan. Sangatlah beda ketika anak-anak melakukan aktivitasnya dengan minat penuh atau dengan modal paksaan.

Sebagai contoh mungkin ada seorang wali siswa pada sesi Tanya jawab beliau mencoba sharing dengan kami tentang pengalaman kedua anaknya. Anak pertamanya dulu ketika TK masuk disekolah model yang di drill dengan pengetahuan baca tulisnya. Dan memang dalam waktu singkat si anak ini sudah sangat piawai untuk membaca sekaligus menulis. Dibandingkan dengan adiknya yang hanya dikenalkan kata, dan suku kata dengan kartu ataupun gambar-gambar, si adik ketika masuk SD belum bisa baca dan tulis dengan lancar. Namun seiring perkembangannya ketika si kakak telah masuk kelas 4 SD mulai terlihat penurunannya dalam minat bacanya. Sementara sang adik ketika melewati usia saat kakaknya mulai mengalami penurunan malah semakin rajin dan gemar membaca. Itu pengalaman nyata dari seorang Ibu yang kebetulan ketika SD kedua putranya itu masuk di Sekolah yang sama.

Diakhir sesi siang itu adalah pertemuan dua arah dengan wali kelas. Kesempatan ini tak kusia-siakan karena banyak yang ingin saya konsultasikan dengan beliau. Apalagi akhir-akhir ini di buku penghubung Mas Gangga tertulis laporan Ustadzah bahwa Mas Gangga sering tidak mengikuti kegiatan di sekolah. Bahkan hari Jum’at dia tidak ikut kegiatan sholat malah naik pohon sampai tinggi di samping sekolah. Dalam dialog itu saya langsung ke pertanyyaan inti apakah MAs Gangga dinilai mampu untuk meneruskan ke jenjang SD? Melihat isi buku Laporannya akhir-akhir ini, juga sebenarnya ketika dia nanti duduk di jenjang SD usianya masih 5 tahun 10 bulan. Jawaban Ustadzah sedikit membuat saya lemas. Ustadzah kembali menjelaskan kronologi emosi Mas Gangga yang akhir-akhir ini kurang stabil, juga tanggungjawab dia terhadap barang-barang pribadi ataupun mengembalikan barang pada tempatnya yang masih kurang, Namun yang cukup membahagiakan bahwa kemandiriannya cukup baik. Intinya masih akan dievaluasi lagi tentang perkembangannya sampai semester ini usai, juga saya diminta untuk ikut memotivasi semangat Mas Gangga (saya ceritakan di lembar yang lain).

Lebih jauh Ustadzah menjelaskan bahwa dunia pendidikan sekarang sedikit salah kaprah. Sebenarnya bekal anak-anak untuk masuk SD bukan dia harus bisa baca dan tulis namun lebih pada aspek Tanggung jawab, emosi dan kemandiriannya yang perlu untuk dimantapkan. Sehingga aspek-aspek yang lebih penting kadang malah diabaikan untuk mengejar aspek yang sebenarnya hanya butuh sedikit dorongan ketika minatnya telah tumbuh. Artinya pembagian porsi pembekalan anak-anak untuk memasuki usia SD menjadi tidak seimbang. Anak-anak seakan dicetak menjadi robot-robot yang siap melakukan perintah apapun dengan target harus sempurna, sementara secara mental dan akhlaq menjadi terabaikan demi mengejar nilai kognitif.
MAsalah baca tulis itu hanya sebuah masalah kecil di dunia pendidikan , diantara masalah-maslah lain yang dilematis bagi perkembangan dunia pendidikan kita. Jangan heran jika sekarang produk bernama sekolahan amat diragukan pencapaian hasilnya. Sekolah yang sebenarnya sebuah lembaga sakral yang diharapkan mencetak kader mumpuni untuk siap terjun di masyarakat akhirnya tak ubahnya seperti deretan counter-counter di mall yang menawarkan barang dagangannya untuk mengejar profit. Sekolah telah menjadi semacam ajang bisnis yang cukup menggiurkan. Entah sampai kapan masalah pendidikan ini mempunyai “hero” yang secara elegan menyelesaikan benang rumit ini.
Semoga tak menunggu kiamat tiba…

Pacar Kembang, 2 Muharam 1429 H
Siu yang tengah merindukan suasana sejuk nan mencerahkan bagi dunia pendidikan anak-anak kita.

Iklan

  1. sitta

    kekawatiran yang sama yang saya rasakan. anak saya, tahun ajaran baru ini minta sekolah SD. karena mas Daffa, begitu kami memanggilnya, sudah sekolah di Genius Kids, tempatnya berinteraksi dengan guru dan teman2nya, sejak dia berumur 2th. setiap th, teman bermainnya mulai lulus dan meninggalkan sekolah. dan tahun ajaran baru 2008 nanti, Mas Daffa mminta sekolah SD, karena mas Tegar dan Mas Alfa, kedua temannya juga akan masuk SD.Padahal, Juni 2008 nanti, Mas Daffa baru berusia 5 th 7 bulan. Melihat semangatnya membaca dan menulis, memang peningkatan yang bagus. Namun, secara emosional, Daffa masih belum stabil.. bagaimana nih, jadi bingung…

  2. Salam kenal Mbak Sitta, problem ibu-ibu banget ya? MAs Gangga juga ngotot banget utk masuk SD tahun depan. Dan setelah saya konsulkan ke gurunya memang idealnya kalau dia mau tinggal satu tahun lagi, namun melihat semnagatnya yang luar biasa utk jd kakak SD saya akhirnya malah ga tega… Mungkin solusi buat Mas Daffa juga bisa dikonsulkan dengan gurunya, kalau memang harus tinggal sebaiknya memang di dialogkan dg M as Daffa, sampaikan saja bahwa BUnda dan Bu Guru ingin sekali Mas Daffa lebih pinter lagi di Genius Kids, Insyaallaoh dengan dialog intens anak-anak akan mengerti, tapi kalau dia keukeuh utk masuk SD ya coba aja untuk disosialisasikan, barangkali dia memang mampu utk ke SD. Cuma saya juga denger-denger minat anak-anak yang kurang umur akan turun sekitar lima sampai sepuluh tahun, dia akan lelah, nah itu pinter-pinternya ortu dan Guru untuk mencermati masa itu agar tidak menjadi masalah serius bagi dirinya. Demikian Mbak Sitta

  3. sepertinya pembikin kurikulum sekarang termasuk orang yang percaya bahwa sebagian besar orang ndak memake kapasitas otaknya dengan maksimal, sehingga perlu dipaksa dari kecil, ndak usah takut anak bakal kenapa-kenapa karena manusia adalah makhluk yang kuat.

    klo ndak kuat?

    ya itu namanya seleksi alam. jiyan!

  4. Tulisan tahun 2008 tapi malah semakin relevan dengan kehidupan anak-anak di masa sekarang. Nice, post mbak! 🙂

    Saya juga merasakan hal yang sama, saya diajari belajar baca-tulis sewajarnya sesuai usia saya pada saat itu, baik di sekolah maupun di rumah sehingga minat membaca saya bertumbuh dengan sendirinya seiring waktu sampai sekarang. And yes, membaca dengan full understanding itu menyenangkan sekali! Seperti ada makna tersirat yang belum tentu bisa dipahami orang lain *halah*

    Salam kenal 🙂




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: