Menantu Vs Mertua


Mitos menantu versus mertua memang hampir melegenda. Banyak sekali contoh kasus dimana menantu selalu berseberangan dengan mertua, terutama jika menantu itu adalah istri anaknya alias menantu perempuan. Untuk menantu laki-laki agak jarang ditemukan kasus sebanyak menantu perempuan. Entah kenapa. Saya tidak membahas hal ini, tapi satu hal menarik , justru mitos menantu versus mertua ini tak pernah saya jumpai dalam kehidupan rumah tangga kami.

Saya wajib bersyukur bahwa selama usia pernikahan kami yang memasuki usia tujuh tahun tak pernah berpolemik dengan mertua saya. Bahkan saya merasa hubungan kami bagaikan ibu dengan anak kandungnya. Mungkin memang beliau ditakdirkan sebagai figur pengganti ibu saya yang ketika saya menikah baru saja meninggal dunia.  Walaupun sekarang ibu mertua saya juga telah meninggal, namun kenangan yang mengukir jiwa saya selama bersama beliau, luar biasa indahnya. Bahkan momen terakhir saya bersama beliau sebulan sebelum beliau meninggal, waktu itu saya pulang ke Probolinggo  bertakziah mengantar kakak ipar yang baru pulang dari Jakarta, ke rumah almarhum kakak ibu mertua saya. Saya pengen sekali makan jenang grendul, adat disana setiap memasuki bulan Safar orang-orang membuat bubur yang terbuat dari tepung ketan yang dibuat seperti pentol bakso, diberi gula merah dan dimakan dengan saus santan yang kental nan gurih. Nah, saat itu bukan bulan Safar sehingga agak susah cari jenang grendul kecuali bikin sendiri. Dan bikinan Ibu Mertua ini jangan ditanya nikmatnya, pokoknya PW…Paling Wenak!. Hari itu beliau bersusah-susah menghidangkan jenang grendul nan legit untuk kami. Andai saya tahu itulah pertemuan terakhir kami. Tak pernah ada firasat, tak pernah ada wasiat.

Ibu Musrifa namanya. Ketegasan menyirat jelas dari wajah yang telah keriput karena usia. Ayu wajahnya masih terlihat walaupun mulai pudar karena masa. Pertemuan pertamaku dengan beliau adalah saat ada pengajian di rumah kakak ipar yang sekarang saya tempati. Saat itu tak ada yang istimewa, karena juga saat itu tak ada hubungan apa-apa antara saya dan suamiku, karena kami sama-sama teman dalam sebuah majelis pengajian.  Baru terasa istimewa ketika saya diperkenalkan suami saya yang saat itu notabene masih calon suami saya dengan ibunya. Intro dari calon suamiku saat itu adalah ibunya sedikit galak, tapi sebenarnya baik. Tergantung kamu bagaimana menyikapi sikap beliau. Aku cuma bisa mesam-mesem aja waktu itu, Mau ketemu camer gitu loh!! Asli walaupun wajah mesam-mesem tapi hati lumayan gludhugan. Tapi Alhamdulillah pertemuan pertama itu meninggalkan kesan yang begitu baik, preambule suami yang menyebut beliau sedikit galak tak nampak, bahkan selama kami berinteraksi selama saya berumahtangga dengan anaknya. Malah saya sering diwarisi resep-resep andalan beliau, karena beliau adalah koki yang handal. Resep-resep asli yang tanpa berbau pengawet , perasa ataupun kimia-kimia lainnya. Yang ada hanyalah menggunakan bahan-bahan pilihan.  Saya juga harus lebih banyak bersyukur dan mendo’akan beliau karena satu resepnya hingga kini menjadi andalan bisnis kecil-kecilan saya, sirup pokak. Ya, walaupun beliau telah meninggal namun melalui satu resepnya beliau masih memberi saya satu pintu rejeki, Subhanallah, semoga itu digolongkan sebagai amal jariyah yang nilainya tak akan putus selama ilmu itu diamalkan.

Saya juga yakin bahwa keindahan, kemesraan dan cinta dalam hubungan saya dengan mertua tak lepas dari do’a almarhumah ibunda saya, Kusniyah Rahayu. Teringat saya dalam satu momen ketika ibunda pernah bercerita bahwa dulunya beliau pernah menjadi menantu yang tak disukai mertua. Betapa beratnya hidup saat itu, namun tak pernah ada benci ataupun dendam dalam jiwa ibunda, bahkan perhatian setulus hati beliau curahkan untuk mertua tercinta. Dan saya yakin bahwa ketulusan yang terpancar dari kedalaman dan kebeningan jiwa, akan tercermin, akan sampai pula ke hati yang masih memiliki nurani.  Lambat laun beliau diterima bahkan menjadi menantu kesayangan mertua. Subhanallah… Wasiat paling istimewa yang ibunda tinggalkan untuk bekal hidup saya adalah, sebenci apapun engkau kepada seseorang, jangan pernah tampakkan di depannya, jangan pernah sakiti hatinya. Luarbiasa… Kepada orang yang kita benci saja beliau mewasiatkan untuk tak pernah menyakitinya, susah bener… Saat itu beliau penah ‘bersumpah’ didepan saya bahwa beliau akan berusaha mencintai menantunya seperti ia mencintai anak-anaknya, karena mereka adalah pilihan cinta anak-anaknya. “Kalau anak-anakku bahagia dengan suami istrinya masing-masing kenapa saya harus menjadi penghalangnya? Insya Allah restu saya akan mengiringi untuk melengkapi keberkahan rumah tangga kalian”. Ya saat itu saya belum ngeh dengan kalimat ibunda, karena saya masih duduk di tingkat SMP. Baru sekarang…ya baru sekarang saya merasakan efek ‘sumpah’ itu. Subhanallah… Semesta menyimpan ‘sumpah’ itu untuk kami, anak-anaknya, walaupun hanya ada seorang menantu yang masih bisa merasakan pancaran cintanya, istri kakakku yang pertama. Ketiga anaknya yang lain belum menikah ketika ibunda masih ada. Aku melihat hubungan mereka kala itu bukan lagi hubungan anak dan menantu, karena bagi kamipun kakak ipar itu juga anak ibunda. Ibunda memenuhi janjinya untuk mencintai menantunya. Cinta ibunda akan senantiasa menjadi warna pelangi dalam jiwa saya.

Saya belajar bahwa hanya dengan cinta segalanya mempunyai makna. Cinta tanpa memandang pamrih, cinta yang berlaku untuk semesta.  Saya merasa hanya cinta yang mampu menjadi senjata pamungkas dalam menghadapi segala problema. Saya sangat bersyukur hidup diantara begawan cinta yang mengajarkan arti cinta sebenar cinta, cinta yang hanya terpancar dari kemurnian Asma’ul Husna.

Ujung, 12 Mei 2008
Dedicated to almarhumah Ibu Kusniyah Rahayu dan almarhumah Ibu Musrifa dengan sepenuh cinta…

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: