Arsip untuk Oktober, 2008


Tak terasa sudah setahun lalu saya bercerita tentang Puasa Pertama Mas Gangga, dan tahun ini Alhamdulillah dia sangat menikmati puasanya, sahur walaupun dengan mata terpejam rapat, dan harus disuapin, semoga tak mengurangi keberkahan puasanya. Yang patut saya syukuri bahwa semua itu dilakukannya dengan tanpa paksaan. Atas kesadaran sendiri ia ngikut sahur dan berbuka. Lanjut Baca »

Iklan

(Boleh gak ya meresensi buku sendiri? Ini bukan buku beneran tapi buku jadi-jadian… Obsesi punya buku sendiri..hehehe…)

Berawal dari pengen ungkapkan cinta saya buat Ustadzah-ustadzah KB/TK Mas Gangga buku  ini lahir (kalau bisa disebut buku sih!). Mengingat sekolah Mas Gangga yang tinggal menghitung hari di KB TK Yaa Bunayya saya pengennn sekali mengungkap cinta saya yang meluap kepada segenap pemangku sekolah Mas Gangga. Pengen memberi tanda cinta berupa barang,  selain nggak kuku’  dengan duitnya, juga saya ketakutan sendiri kalau hanya memberi ke beberapa orang saja. Mengingat Kepala Sekolah pernah memwarning kami untuk tidak memberi mereka uang atau barang kepada seluruh pengurus KB TK Yaa Bunayya diluar ketentuan sekolah. Dan saya tahu Komite Sekolah setiap tahun mengkoordinir uang suka rela untuk memberi tali asih kepada guru. (baca : Juga keinginan hati yang pengennya memberi sesuatu yang beda), maka sekitar setahun yang lalu sebenarnya niat untuk mengumpulkan tulisan-tulisan tentang Mas Gangga mulai saya seleksi, yang sekiranya layak untuk dijadikan kumpulan artikel. Lanjut Baca »


Hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2008 kemaren saya sekeluarga mengantar kakak dari Jakarta, mereka pengen ke Bromo.  Kami berangkat agak siangan, meniadakan kesempatan melihat sunrise di Penanjakan, karena mengingat peserta yang ikut kebanyakan nak kanak children, dan suhu disana kalau musim kemarau sangattt dingin, apalagi di pagi hari. Karena  kalau maksa nguber sunrise kami harus berangkat dini hari. Itupun kalau kita ngga kehabisan sewa mobil Hardtop dari terminal Ngadisari sebelum ke Gunung Bromo. Biasanya kalau musim liburan begini mobil Hardtop habis disewa, padahal jumlahnya mencapai 150 an. Juga persiapan anak-anak yang rada ribet. Belum mobil Kakakku yang bannya pecah sepulang dari Pacet, harus dibelikan gantinya. Akhirnya baru jam 10.30 kami bisa berangkat. Lanjut Baca »


Seandainya tak ada mudik dan lebaran saya tak tahu apakah saya akan sanggup berpisah dengan Ramadhan?

Sungguh indah Allah mengatur segala sesuatunya, saya ibarat anak kecil yang tengah asyik masyuk dengan permainan saya, dengan dunia saya, dengan imajinasi saya, dengan segala gula-gula kenikmatan yang ingin saya reguk. Dan ketika tiba saatnya saya harus meninggalkan segala kenikmatan itu, meninggalkan gula-gula yang terhidang didepanku, dan keasyikan tersendiri dengan permainan dan segudang imajinasinya. Rasanya saya tak akan sanggup, namun ternyata Allah telah menyiapkan skenario indah dengan perpisahan itu, dan menggantinya dengan mainan yang lebih menyenangkan, lebih menguras energi saya sehingga perpisahan dengan Ramadhan tak begitu menyakitkan.

Mudik dan berlebaran, selalu menimbulkan dejavu yang sulit tergambarkan. Padahal hanya pulang, pulang berkumpul dengan seluruh keluarga, dengan kakak yang setiap saat bisa saya telepon, dengan Abah yang setiap saat bisa saya dengarkan suaranya melalui hape. Namun dengan dibungkus mudik, muatan pertemuan itu jadi lain. Padahal hanya perjalanan Probolinggo dan Tulungagung, namun persiapannya bikin heboh, jauh-jauh hari menyiapkan bekal, dari oleh-oleh titipan, mengepak baju, bekal dijalan yang dibuat senyaman mungkin, ah….indah !
Lanjut Baca »