Mudik dan Lebaran 1429 H


Seandainya tak ada mudik dan lebaran saya tak tahu apakah saya akan sanggup berpisah dengan Ramadhan?

Sungguh indah Allah mengatur segala sesuatunya, saya ibarat anak kecil yang tengah asyik masyuk dengan permainan saya, dengan dunia saya, dengan imajinasi saya, dengan segala gula-gula kenikmatan yang ingin saya reguk. Dan ketika tiba saatnya saya harus meninggalkan segala kenikmatan itu, meninggalkan gula-gula yang terhidang didepanku, dan keasyikan tersendiri dengan permainan dan segudang imajinasinya. Rasanya saya tak akan sanggup, namun ternyata Allah telah menyiapkan skenario indah dengan perpisahan itu, dan menggantinya dengan mainan yang lebih menyenangkan, lebih menguras energi saya sehingga perpisahan dengan Ramadhan tak begitu menyakitkan.

Mudik dan berlebaran, selalu menimbulkan dejavu yang sulit tergambarkan. Padahal hanya pulang, pulang berkumpul dengan seluruh keluarga, dengan kakak yang setiap saat bisa saya telepon, dengan Abah yang setiap saat bisa saya dengarkan suaranya melalui hape. Namun dengan dibungkus mudik, muatan pertemuan itu jadi lain. Padahal hanya perjalanan Probolinggo dan Tulungagung, namun persiapannya bikin heboh, jauh-jauh hari menyiapkan bekal, dari oleh-oleh titipan, mengepak baju, bekal dijalan yang dibuat senyaman mungkin, ah….indah !

Ketika puasa ke 28 kami harus berbuka di sebuah POM bensin dengan menu sederhana, nasi bungkus, uihh sedap! Ketika sampai di Pasuruan menuju perjalanan ke Tulungagung saya merasakan ekstase itu, riuh rendah dihati saya, dan sungguh itu benar-benar menghibur hati saya yang sesungguhnya berattt ditinggal Ramadhan.

Ramadhan memang mempunya berjuta rasa bagi jiwa saya. Bukan karena saya rajinnnn sekali beribadah, tapi entah setiap langkah dan mata ini memandang segalanya jadi indah. Bau khas nasi matang dari dandang aja cukup  membuat saya terbawa emosi, teringat dulu waktu masih kecil , menjadi tugas rutin saya selama Ramadhan, membantu Ibu menyiapkan buka puasa.  Bau teh yang diseduh dengan gula saja bisa membuat saya termenung lama, karena itulah minuman yang dibuat almarhumah ibu mendampingi menu kami saat sahur, yang rasanya begitu sedap dengan campuran teh bandulan dan teh cap 999. Bubur kacang Ijo, bubur ketan hitam, atau es buah bisa membuat saya menangis karena teringat dulu Ibu membagi ke mangkok-mangkok untuk kami berempat (saya empat bersaudara plus Abah) menjadi menu takjil kami sepulang dari sholat Tarawih. Ya takjil selalu kami santap sepulang dari sholat tarawih, bukan saat berbuka, karena saat berbuka perut kami pasti telah terisi penuh dengan es teh buatan almarhumah Ibu. Dan kami akan berebut untuk segera sampai di rumah dan dengan tak sabar menyantap menu takjil itu. Dan jujur sampai sekarang tak ada yang mampu menandingi kelegitan rasa bubur itu, entah sampai kapan kerinduan lidah ini terlunaskan, atau hanya akan menjadi kenangan rasa terindah bagi lidahku.

Puasa juga membawa sejuta rasa, karena tepat dimalam ke 27 saya dilahirkan berdasarkan penanggalan Hijriyah. Malam ke 27 selalu membuat bobot rasa saya menjadi lain….Ah!

Pun Ramadhan kali ini yang dengan sukses menurunkan berat badan saya hingga 5 kg, sehingga saya tak perlu bersusah payah mencari baju baru karena dengan membongkar baju lama dan mengenakannya cukup membuat orang berkomentar “ Baju baru ya?”.hehehe… Pissss!

Yang justru membuat saya berbangga hati adalah karena puasa Mas Gangga yang full, nggak ada bolongnya, bahkan ia hanya puasa sampai Ashar seminggu pertama, selebihnya ia mampu menyempurnakan puasanya  sampai Maghrib. Tak ada yang menandingi kebahagiaan saya, selain melihatnya tekun mengerjakan puasanya. Barakallah senantiasa untukmu.

Puncak ekstase mudik dan lebaran selalu saya rayakan bersama hati saya saat berangkat menunaikan sholat Ied. Mungkin karena aura rasa kami semua tengah berada dalam frekwensi sama, suasana pulang, suasana rindu yang terlunaskan, sehingga binar bahagia, aura kebahagiaan terpancar pada setiap wajah yang kutemui. Melihat sorot mata Abah saya seakan tengah berteduh dalam rindang pohon beringin, sejuk menyegarkan. Sungkem dipangkuannya seakan melarutkan segala sombong, memeluknya seakan sirna segala resah gundah. Ah Abah, Ijinkan airmata ini sebagai tanda cinta kami yang selalu meluap untukmu! Tradisi sungkeman ini seakan melunturkan segala ego yang rajin berkecamuk dalam hati ini. Mencium tangan Mas Guruh, berpelukan   dengannya memohonkan segala khilaf yang sudah pasti sering menghampiri saya baik disengaja maupun tidak, rasanya kelegaan yang barangkali hanya bisa tertandingi oleh segarnya air telaga Kautsar. Menerima uluran tangan mungil-mungil dari para keponakan, dan dua malaikatku serasa merengkuh indahnya surga.

Apalagi di hari kedua Syawal sebuah kecupan indah mendarat di kening dan pipiku saat aku belum terbangun, bahkan disusul ciuman-ciuman dari mulut-mulut mungil yang rasanya menggetarkan, karena mereka kompak berucap, “Selamat Ulang Tahun Bunda!”. Hohoho… bahkan saya sendiri lupa bahwa hari itu saya berulangtahun berdasarkan penanggalan Masehi.

Saya bersyukur mempunyai momen Mudik dan lebaran, tempat bersatunya hati dan rasa untuk pulang, pulang untuk menjadi sebaik-baik ummat, Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Itulah sepenggal bait Sms lebaran yang kukirim kepada teman-teman, sahabat, dan sodara. Yang kuketik ditengah perjalanan antara Pasuruan – Bangil menuju ke Tulungagung, dan saat saya merasakan dejavu yang tak tergambarkan…

Taqabalallahuminna waminkum, shiyamana wa shiyamakum, mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah melimpahkan barakah Ramadhan disebelas bulan kedepan, sehingga kita mampu berRamadhan sepanjang masa, bi barakatillah.

Ujung, 07 Syawal 1429H/07 Okt 2008

Iklan




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: