Bekerja Untuk Ibadah


Rasanya ungkapan itu seperti bahasa klise ya? Namun ketika tadi malem ada seoarang yang mengungkapkan kembali kalimat tersebut membuat saya merenung, bukan apa! Cuma saya merasa masih belum bisa menyinkronkan kalimat tersebut kedalam satunya lisan, pikir dan rasa saya. Bekerja untuk Ibadah, ibadah yang bagaimana? Kalau sekedar ditanya, memang ideal jawabannya begitu, tapi ibadah yang bagaimana yang bisa saya hayati dengan bekerja? Kalau sholat, puasa, zakat, dzikir, memang sudah selayaknya disebut ibadah. Atau bisa dengan alasan begini, “dengan bekerja menghasilkan uang sehingga bisa menjadi bekal untuk melaksanakan ibadah dengan lebih khusyuk. Atau bekal untuk menunaikan rukun kelima, berhaji, atau untuk membeli mukena, sarung, membeli tanah untuk diwakafkan dsb, adalah bentuk aplikasi bekerja untuk ibadah, tapi saya merasa masih terlalu klise. Belum bisa saya masukkan dalam dunia rasa saya. Lha wong bekerja itu untuk dapet uang kok! Melibatkan rasa bahwa dalam bekerja terkandung nilai ibadah itu yang sulit bagi saya.

Lisan biasa berkata “Aku bekerja untuk ibadah” pikirpun mampu diperintah “ hee kamu bekerja untuk ibadah lo ya?, jangan macem-macem!” Nah memasukkan dalam rasa kita bahwa pekerjaan kita suatu ibadah itu yang membutuhkan proses. Proses menguasai pikiran, dan merasakan dalam alam jiwa kita. Sebenarnya rasa kita itu tergantung pada niat, bukan niat dilisan namun keyakinan seberapa kuat kita mensugesti pikiran kita untuk menyinkronkan dengan rasa kita, itulah Niat! Kalau hanya seberapa kuat menstimulus pikiran tanpa mengharmonisasi rasa kita, itu hanya akan memberikan efek paksaan yang tidak menyamankan hati kita. Namun jika pikiran telah kuat tersugesti dan melebur dalam rasa dan menimbulkan kenyamanan dalam jiwa kita, maka itulah keikhlasan. Nah hubungannya dengan “bekerja adalah ibadah” adalah ketika kita mampu memancang niat, bahwa setiap langkahku ini adalah butir tasbihku, bahwa setiap helaan nafasku semoga dihitung sebagai amalan yang dicatat malaikat dipundak kanan saya, dan semoga apa yang saya hasilkan dari pekerjaan saya akan menjadi barokah bagi saya, istri/suami & anak-anak saya, keluarga saya, bagi sesama, bahkan bagi seluruh makhlukNya. Bahwa dalam diri kita telah bersemayam ‘penjaga hati’ sehingga dalam bekerja tak perlu ada bos yang memantau kerja kita, tak perlu ada satpam pencatat absensi kita, tak perlu dipaksa-paksa untuk tunduk pada aturan yang telah disepakati, karena kesadaran untuk bekerja sebagai ibadah telah mengakar dalam otak, pikiran, hati dan rasa kita. Sehingga kita hanya berusaha memberikan hasil terbaik bagi pekerjaan kita, dan berusaha memberi manfaat sebesar-besarnya bagi sesama. Kalaupun dengan hasil pekerjaan kita menimbulkan reward tersendiri biarlah itu menjadi hak mutlak Allah sebagai pembagi rejeki.

Dan ketika kita mampu menancapkan niat dipikiran dan rasa bahwa Allah menitipkan sebagian hak-hak anak yatim piatu, dan fakir miskin, janda-janda miskin, dsb, pada harta yang telah kita peroleh, maka Insyaallah dengan otomatis Zakat, Infaq, Shadaqah tertunaikan. Tak perlu dipaksa-paksa, takperlu diiming-imingi pahala sekian ratus kali lipat, karena memang hanya Allah saja tujuan kita. Saya teringat ungkapan seorang Anand Krishna :
Bekerja adalah ibadah yang dibayar,
Bekerja adalah rekreasi yang dibayar,
Bekerja adalah belajar yang dibayar.

Hmhh… memasukkan rasa kita dalam menghayati apapun pekerjaan kita dan hanya Allah saja tujuan kita, begitu indah dirasa. Begitu nikmat dicecap, begitu ringan langkah dan hati ini bergerak, dan ajaibnya semua menjadi terasa indah. Tirai telah disibakkan, sehingga nyala cahayaNya yang menyinari langkah-langkah selanjutnya, sungguh …betapa indah kawan!

Pacar Kembang 20 Januari 2009
Dalam sebuah perenungan (mungkin sedikit ngaco ya?)

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    w

    Connecting to %s