Jembatan Suramadu


Jembatan Suramadu

Sebenarnya kalau disurvey oleh lembaga survey yang kredibel, mungkin saya termasuk orang yang paling sering melewati kawasan Suramadu. Sejak mulai pembebasan tanah, hingga pembangunan sampai akhirnya diresmikan SBY, saya orang yang sangat setia untuk melewati akses Suramadu. Bukan karena fanatik, namun karena lokasi Jembatan Suramadu dekat dengan kantor, dan aksesnya lebih dekat dan mudah untuk mencapai rumah. Jadilah saya setiap hari melewati akses Suramadu dan menikmati setiap proses pembangunannya.

Satu hal yang membuat saya salut dengan pembangunan akses Suramadu yang di sisi Surabaya tentunya, bahwa pembangunannya hampir tidak pernah menutup jalan. Dari saat pembebasan lahan, memindahkan aliran sungai –seumur-umur baru saat itu saya melihat proses memindahkan aliran sungai- membeton sungai, membeton jalan, sampai merapikan dengan membuat taman-taman disepanjang jalan. Walaupun menutup jalan mungkin hanya memindahkan jalur-jalurnya saja, namun tak pernah menutup total jalan. Mungkin jadwal yang terencana dan sistematis serta pelaksanaan yang rapi yang membuat akses Suramadu selalu lancar dilewati walaupun disana-sisni sedang berlangsung pengecoran untuk jalan.

Dan ketika akhirnya…akhirnya…Suramadu dapat tersambung, saya termasuk orang yang ikut merasakan euphoria kelegaannya. Walaupun tak ikut meletakkan batu pertama, tak ikut merencanakan, tak ikut melempar ide, apalagi ikut meresmikannya. Cukuplah menjadi penikmat sejati, hehehe…

Dan tak salah setelah hari Rabu, 10 Juni 2009 diresmikan oleh SBY, maka hari Minggu saya dan family berencana untuk menyeberanginya. Kebetulan ada Mbak Iparku dari Probolinggo tengah berkunjung ke Surabaya, maka sekalian aja memanfaatkan momen untuk menyeberangi Jembatan Suramadu –mumpung masih gratis-. Sepulang adik Gautama pentas pada acara Wisuda & Pelepasan kakak TK B, kami langsung meluncur ke jalan Kenjeran kemudian di perempatan Kedung Cowek kami belok kekanan langsung masuk di jalan akses Jembatan Suramadu. Seperti yang telah kami prediksi jalan pasti akan macet, selain karena sudah terbiasa dengan traffic light di perempatan ini yang selalu sukses membuat macet jalan –entah kenapa sebabnya- juga karena momen libur pasti akan banyak orang akan menikmati Jembatan baru ini. Tapi begitu kita lepas dari traffic light ini jalanan cukup lancar.

Bisa sedikit saya gambarkan, Jalan akses Suramadu ini terbagi atas empat ruas jalan. Dua jalan yang lebarnya masing-masing kurleb 5 m  terpisah oleh sungai. Dua ruas jalan yang menggunakan cor beton ini adalah akses utama untuk menuju gerbang tol Jembatan Suramadu. Satu sisi untuk dari arah Surabaya, satu sisi untuk arah dari Madura. Disamping kiri-kanan ruas jalan tadi dipisahkan oleh beton pembatas jalan untuk akses ke kampung-kampung yang ada di kanan-kiri jalan. Saat kami melaju mendekati bentang tengah yang terdiri dari dua buah pylon kembar setinggi kurang lebih 130 m dan disangga cable stayed menjadi pemandangan tersendiri di bentang tengah. Saat kami sampai di bentang tengah jalanan mulai macet -total-. Karena banyak pengendara yang asyik berfoto ria di bentang tengah, bahkan ruas jalan untuk mobil dimasuki kendaraan roda dua, sehingga menambah keadaan tambah semrawut. Untuk ruas kendaraan roda dua jangan ditanya macetnya, yang disebabkan orang yang telah sampai di bentang tengah asyik berfoto sehingga kemacetan di ruas ini mencapai jalan masuk hingga ke bentang tengah berarti kurang lebihnya 2,5 km dari total panjang kendaraan yang 5 km lebih. Banyak kendaran roda dua yang terpaksa menuntun kendaraannya karena kehabisan BBM, belum yang bannya bocor. Suasana semrawut itu disempurnakan dengan panas yang menyengat disiang bolong. Akhirnya kami berinisiatif untuk kembali  alias balik kucing setelah melewati bentang tengah karena ada rantai pembatas jalan yang dilepas sehingga kami bisa putar balik. At least, kami harus puas menyeberangi setengah jembatan karena kemacetan yang luar biasa itu. Hmmhh… pengalaman perdana menyeberangi Jembatan Suramadu.

Bukan kemaruk kalau akhirnya saya berhasil menyeberangi Jembatan Suramadu versi lengkap, nggak pake setengah lagi. Pasalnya sejak Jembatan itu dibangun teman-teman sekantor sudah berencana untuk mengunjungi teman sekantor kami yang rumahnya sangat dekat dengan akses Suramadu disisi Madura. Tepatnya didaerah Labang, Sukolilo, Bangkalan. Kami berangkat hari Selasa tgl 16 Juni 2009 kemaren saat jam istirahat kantor kami meluncur dengan sukses, akhirnya menginjak tanah Madura dengan teman-teman sekantor. Dirumah teman kami tersebut sudah tersedia ikan panggang lengkap dengan sambal kecap dan sambal terasi. Ditambah ikan Manyong dan Glomoh goreng. Ada ikan Sembilang dimasak kuning, ada cumi-cumi disambal goreng, plus Es Blewah sebagai pelepas dahaga sekaligus sebagai penutup makan siang. Kami yang tengah kelaparan –memang niat banget- segera menuntaskan niat,  apapun yang terhidang didepan kami jadi licin tandas. Sedapnya…top markotop aja lewattt. –kok malah bahas makanan ya?-

Mungkin itulah sedikit yang bisa saya ceritakan tentang Jembatan Suramadu yang aksesnya cukup dekat dengan rumah saya. Membayar tagihan dari Mas Nursalam untuk cerita Jembatan Suramadu. Semoga Suramadu memang akan menjadi Jembatan Budaya bagi masyarakat Madura – seperti harapan Zawawi Imron-. Bahwa dengan adanya Jembatan Suramadu akan banyak hal yang diberkahi, akan banyak manfaat yang mengiringi, yang pada gilirannya akan membawa kebaikan kepada semua. Semoga!

Pacarkembang 18.06.09

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: