Ketika Fatwa Haram Menjadi Terpelintir


Masih sangat hangat bahkan cenderung memanas ketika tak ada angin tak ada hujan Ponpes sejawa timur mengeluarkan fatwa Haram bagi pertemanan di jejaring sosial semacam Facebook, Friendster, dsb. Semua sibuk dengan pro – kontra. Saya tidak ingin menyeret diri saya dalam pro kontra yang rasanya memang tak ada ujungnya. Saya hanya mencermati dua sisi yang sedang dipertentangkan. Keuntungan dan kemudharatan dalam situs pertemanan itu.

Sebenarnya sangat banyak keuntungan yang dapat kita ambil dari jejaring social itu, dalam waktu hitungan detik kita akan terhubung dengan jutaan manusia. Networking dapat terjalin dalam sekejap. Urusan bisnis bisa jadi sangat lancar. Dulu jual pulsa harus dengan voucher yang digosok-gosok, dengan kecanggihan jejaring sosial semacam Yahoo Messenger kita dapat mengisi pulsa dalam hitungan detik, tanpa menggosok-gosok. Data-data penting yang mendesak untuk dipergunakan dapat segera terkirim tanpa susah-susah lagi. Teknologi internet terutama dengan jejaring sosialnya sangatlah bermanfaat bila kita memang mampu mengambil sisi positifnya. Bahkan kita amat sangat akan terbantu, terutama bila berhubungan dengan dunia bisnis. Komunikasi dapat terjalin dengan amat mudah, semudah membalik telapak tangan, walaupun lokasi mereka sangat berjauhan. Informasi dapat segera didapat karena networking telah terjalin dengan baik di jejaring sosial, bahkan dibelahan bumi yang lain. Itulah manfaat terbesar yang dapat kita petik dari situs jejaring social yang tengah diharamkan keberadaannya. Rasanya memang nggak rela ya?

Namun kalau anda juga mencermati betapa teknologi itu juga telah jauh memasuki (baca : meracuni) banyak keluarga, menghancurkan banyak pikiran-pikiran polos, meluluhlantakan lembaga bernama pernikahan, maka anda mungkin akan sedikit menghela dada.  Beberapa kali saya dicurhati teman-teman yang pasangannya mulai keranjingan internet. Facebook menjadi semudah membeli kacang goreng, membuka email semudah nongkrong di WC, chatting bisa dilakukan dengan memeluk dan mengelus-elus sang istri/suami. Semudah itu mendapatkan layanan jejaring social itu. Dan dampaknya hubungan rumah tangga menjadi sedikit kacau, bahkan ada seorang teman yang mengaku bangun tidur , blackberry yang dicari dulu, jika mau tidur blackberry yang terakhir berada digenggaman tangannya. Sebegitu jauh teknologi jejaring sosial itu menginfiltrasi jutaan rumah. Bagi para ABG seolah menemukan surga dunia. Bisa ngocol sepuasnya, bisa tebar pesona semaunya, bisa narsis sepuasnya, bisa gaya selamanya, pokoknya anti mati gaya!

Dan surga itu juga bukan buat para ABG, para manusia dewasa pun menemukan wahana untuk kasak-kusuk nggak jelas tanpa khawatir dimonitor pasangannya. Bagi yang iseng-iseng berhadiah juga akan benar-benar dapat durian runtuh kalau memang sedang untung. Nah disitulah celah perselingkuhan itu terbuka lebar, seolah menemukan habitat dan komunitas yang tepat. Dunia maya ‘dunia tanpa batas’, ada sebagian orang berpendapat menemukan Nabi baru, bahkan seorang atheis seolah menemukan Tuhan baru. Karena segala keingintahuan dan ketidak tahuan kita akan terjawab entah benar-entah tidak dengan sekejap, tak perlu membuka kitab halaman dan ayat berapa.

Menurut saya, dunia maya adalah sebuah rimba raya yang sama dengan kehidupan dunia. Disana kita juga punya rumah, punya identitas, punya jatidiri. Kalau kita cerdas kita bisa meraup keuntungan dari teknologi ini, namun jika kita terbuai, jika tak punya pedoman, bila tak punya tali, bila tak punya kompas kita akan tersesat, jauh dan hilang. Tali itu ada pada diri kita sendiri, yaitu hati nurani. Ambilah hal-hal positif yang bisa dimanfaatkan, buang segala pernik-pernik yang justru merusak kita. Kepada para ABG gunakanlah sebaik-baiknya untuk menjalin pertemanan yang sehat, jangan biarkan dirimu terseret dalam rimba gelap. Pertukaran informasi pengetahuan, pertukaran informasi pendidikan, pertukaran informasi yang bersifat membangun. Masa depan kalian masih sangat jauh, biarkan berkembang dan mekar pada waktunya jangan malah membiarkan layu sebelum berkembang. JIka kalian bisa cerdas mencermati teknologi ini, akan sangat manfaat pengetahuan positif yang dapat diambil. Pilihlah jalan cerdas! Kepada yang telah berumahtangga jangan biarkan vrus ini mengganggu wilayah stabilitas istana kita. Jangan mau membayar mahal hal-hal remeh seperti ini. Silahkan membangun networking yang positif, jujur, dan sehat. Kadang chatting memang melenakan karena kita bisa mengekspresikan segala macam emosi kita tanpa perlu sungkan-sungkan lagi, namun akankah perjanjian kita denganNya saat kita mengucap ikrar ijab Kabul, ikrar kesetiaan sehidup semati dengan pasangan kita harus dinodai dengan hal yang menurut saya remeh-temeh seperti ini.

Saya berijtihad sendiri dengan fatwa ini, bahwa pertemanan yang dibangun pada jejaring sosial, chatting, dsb.  Mubah hukumnya selama teknologi itu digunakan secara tepat guna, secara positif, jujur, dan sehat. Haram hukumnya bila telah mendekati hal-hal yang merusak moral, merusak keimanan. Jika masih terus didesak hubungan seperti apa yang merusak moral? Merusak keimanan? Saya mengutip kalimat Kyai kesayangan saya Mustofa BIsri, kalau sudah banyak pertanyaan seperti itu jawabannya adalah Istafti qalbak, tanyakan pada dirimu sendiri! Karena dirimu sendiri lebih tahu jawabannya. Karena saya yakin dengan sekecil apapun penyimpangan bila engkau menanyakan pada nuranimu yang muncul adalah perasaan malu!

So, marilah kita menjadi adimanusia, manusia yang mempunyai moral adiluhung, karena itulah alasan utama Allah menciptakan kita menjadi sebaik-baik makhlukNya!

Ujung, 13 Juli 2009 (finishing touch)

Iklan

  1. info yang menarik, trim’s. Saya setuju dengan anda….

  2. KangBoed

    pertamaaaaaaxxxxxzzzzz… hehehe.. sapa nyang dagang FATWA.. hiihihi.. tatuuuuutttt aaaah

  3. KangBoed

    Waakaakakak.. kaduaaaxxxxzzzz.. jangankan jadi ADI MANUSIA.. menemukan fitrah diri dalam JIWA yang TENANG saja lupaaaaaa.. lupaaaa.. lupaaaa.. sampai masuk kuburan
    Salam Sayang

  4. buat kang Boed ga ada hatricks ya?Apa Kabar Kang Boed? Seneng dikomentari njenengan…. adi manusia itu saya temukan saat membaca novel Senopati Pamungkas-nya Arswendo, bagus kang… betul kang memang susah jadi adimanusia, tapi apa dengan susah berarti kita tak mau dan tak berusaha? hehehe…




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: