Arsip untuk September, 2009


Cerita Puasa Mas Gangga – 3
Sabar dan Tegas Dalam Satu Muara
Puasa Ramadhan selalu menyisakan cerita tentang Mas  Gangga. Karena cerita tentang puasanya selalu meninggalkan romansa tersendiri buat saya sebagai bundanya. Yang pasti pelajaran bagi saya tentang hakekat kesabaran dan ketegasan. Tahun 1430 H kali ini adalah gerbong Ramadhan ke-3 yang telah dilaluinya dengan berpuasa. Puasa pertamanya saat ia menginjak bangku TK B, masih puasa Dhuhur, dan sempat berpuasa hingga Ashar diakhir-akhir Ramadhan. Gerbong kedua Ramadhan saat ia duduk dibangku kelas satu SD, ia berpuasa Dhuhur hanya delapan hari, selebihnya dia puasa penuh. Nah, di gerbong ketiga kali ini saya sudah menyemangatinya untuk puasa full sampai maghrib terus. Dianya ho-oh juga. Alhamdulillah.
Ternyata ho-ohnya juga masih harus dengan perjuangan, saya pikir dengan pengalamannya berpuasa tahun kemaren memberikan dia gambaran tentang puasa penuh setiap harinya, sehingga tak akan ada kendala berarti. Oh no! ternyata saya salah! Bahwa dalam sebuah tingkatan akan menemukan sendiri permasalahan dan solusinya. Alhamdulillah awal puasa tahun ini jatuh hari Sabtu yang berarti hari libur kantorku yang berarti saya bisa menemaninya menjalankan puasanya, minimal untuk 2 hari. Bila dalam dua gerbong Ramadhan di belakang saya bisa sukses mengantarkan puasanya dengan kalimat penyemangat, dengan penyelesaian yang selalu win-win solution, maka tidak untuk gerbong Ramadhan ketiganya kali ini. Entah karena saya sudah kelelahan untuk menyemangatinya, atau memang ada pelajaran yang ingin Dia berikan pada saya.
Sore sekitar jam 4 Mas Gangga mulai merengek-rengek haus, bahkan sampai menangis. Saya masih berusaha membujuknya. Bahkan akhirnya saya harus menyerah kalah dengan memberinya iming-iming uang –karena setelah membaca cerita Arzetti Bilbina (model) bahwa masa kecilnya dia puasa walaupun dengan iming-iming uang tapi dia tak merasakan dampak pada dirinya- sayapun berharap siapa tahu memang tak akan berdampak buruk bagi mas Gangga-. Walaupun dengan berat hati akhirnya kuiming-imingi dia dengan uang. Karena saya punya perhitungan lain, saat ini dia sudah bisa berhitung dengan uang, juga banyak keinginan yang ingin diraihnya, salah satunya adalah membeli mobil-mobilan tamiya. Nah, yang ingin coba saya tanamkan bahwa setiap keingininan harus diperjuangkan, kalau ia menginginkan sesuatu yang bisa ditebusnya dengan puasanya kenapa tidak? Seribu rupiah setiap hari, semoga bisa memberi sedikit pelajaran tentang kehidupan padanya, karena kalau urusan pahala puasanya biarlah menjadi hak mutlak Allah saja.  Dan Alhamdulillah sampai Ramadhan ke-4 puasanya sampai di gerbang adzan Maghrib. Untuk hari ke-5 saya mulai mendapatkan kendala, karena dia menangis sejadi-jadinya di jam 14.30, sementara saya masih ada dikantor. Saya hanya bisa menyampaikan pesan ke dia, “Terserah mas Gangga pilihan ada di mas Gangga, apalagi adzan maghrib tinggal sebentar lagi, bila mas Gangga sudah berbuka sebelum Maghrib berarti tidak terhitung puasa, dan artinya reward juga hilang untuk hari ini!” ternyata sesampai saya di rumah jam 16.30 dilapori mbak kalau mas Gangga sudah minum dan makan sebelum Ashar.
Dan dari mulai dia mokel  (batal puasa) hari –ke 5 merembet di hari-hari selanjutnya, yang Alhamdulillahnya tak sampai membuat dia batal lagi, karena saya sempat memwarning-nya dengan keras, saya merasa sekali dia membatalkan puasanya maka rasa perjuangannnya juga ikut luntur. “Kalau MAs Gangga masih merengek-rengek dengan puasanya, besok juga akan begitu lagi, besoknya akan begitu lagi, dan seterusnya, trus kapan Mas Gangga mau puasa dengan keikhlasan?” dengan nada agak tinggi aku mencoba memberinya pengertian, “BUat apa puasa bila tidak dengan keikhlasan Le, hanya akan dapat lapar dan haus, capek!” lanjutku, “Semua orang yang puasa juga merasakan lapar dan haus yang seperti mas Gangga rasakan, tapi kami semua ikhlas, sehingga Allah membantu kami, untuk bisa menahan lapar dan haus, kalau mas Gangga nggak ikhlas dengan puasanya , ya Allah akan enggan bantu mas Gangga!” lanjutku. Dia masih tetap memangis merengek kehausan, saya hanya bisa mendiamkannya setelah memberinya opsi,”Terserah, silahkan mas Gangga makan dan minum, berarti mas Gangga belum siap untuk berpuasa!” kataku. Walaupun masih terdengar isaknya tapi akhirnya dia berbuka setelah adzan Maghrib berkumandang. “Nah, lain kan rasanya bisa berbuka sampai Maghrib dengan mas Gangga batalin puasa?” candaku, yang dibalas dengan senyum manisnya.
Hari-hari selanjutnya memang terasa agak ringan, hanya sekali saya menemukan kendala, sore harinya kulihat dia memandangi siomay ditangan yang dibungkus plastik, padahal masih jam 4 sore. “Lho kok bawa-bawa makanan?” tanyaku. Dengan tersipu malu dia bilang untuk buka puasa, “Dari mana mas Gangga dapetnya?” tanyaku. “Dikasih Mas Lindung” temannya sebelah rumah yang kebetulan non muslim. Duh! Kuhampiri dia, “Tapi bener ya untuk buka puasa?” tegasku masih khawatir dengan komitmennya. Dia mengangguk. “Mas, puasa Mas Gangga bukan untuk Bunda atau Ayah, Mas Gangga bilang puasa tapi kalau pas main di luar yang nggak ketahuan Bunda mas Gangga bisa makan minum sepuasnya, Bunda nggak akan tahu, tapii.. Allah pasti tahu Le!” lanjutku. Dia mengangguk dan tak lupa dengan senyum manisnya.
Mengajari sebuah komitmen pada anak-anak memang gampang-gampang susah, karena seringkali berbenturan dengan emosi saya sendiri. Mengajaknya berpuasa sementara teman-temannya di rumah masih jarang yang puasa penuh, juga banyak teman non muslim, mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Perasaan tak tega , tak sampai hati, seringkali menimpahi keinginan hati untuk mengajarinya berkomitmen –entah untuk puasa, merapikan mainan, alat-alat tulis dsb.- Ditengah rengekannya untuk membatalkan puasa seringkali saya harus berperang dengan diri saya sendiri, “Benarkah dengan apa yang saya lakukan?” “apakah ibu-ibu yang lain juga berbuat seperti yang saya perbuat?” “apakah saya tidak terlalu ‘kejam’ pada anak-anak saya?”, Namun dalam perjalanannya saya mencoba mengembalikan niat ini pada rel yang semestinya, bahwa ketegasan bukan berarti kejam, ketegasan bukan diktator, adakalanya kesabaran Bunda ada batasnya, dan disitulah peran ketegasan mulai diperhitungkan. Dan di usia mas Gangga yang semakin besar harus semakin kuat pula rambu-rambu nilai dan akhlaq untuk ditegakkan agar pengertian yang tertanam diaplikasikan dalam kehidupannya. Wallahua’lam, saya tahu masih banyak titik kelemahannya disini, namun satu yang saya harapkan, bahwa semoga ketegasan ini bermuara dari tangan Al Aziz, bukan nafsu saya semata. Semoga ketegasan yang saya terapkan bisa memberikan jejak kebaikan dalam kehidupannya, semoga!
PacarKembang, 19 Ramadhan 1430 H/ 9.9.09
Refleksi milad Mas Gangga yang kemaren berusia tujuh tahun,
Semoga ia ditakdirkan sebagai anak yang sholeh
Puasa Ramadhan selalu menyisakan cerita tentang Mas  Gangga. Karena cerita tentang puasanya selalu meninggalkan romansa tersendiri buat saya sebagai bundanya. Yang pasti pelajaran bagi saya tentang hakekat kesabaran dan ketegasan. Tahun 1430 H kali ini adalah gerbong Ramadhan ke-3 yang telah dilaluinya dengan berpuasa. Puasa pertamanya saat ia menginjak bangku TK B, masih puasa Dhuhur, dan sempat berpuasa hingga Ashar diakhir-akhir Ramadhan. Gerbong kedua Ramadhan saat ia duduk dibangku kelas satu SD, ia berpuasa Dhuhur hanya delapan hari, selebihnya dia puasa penuh. Nah, di gerbong ketiga kali ini saya sudah menyemangatinya untuk puasa full sampai maghrib terus. Dianya ho-oh juga. Alhamdulillah. Lanjut Baca »

Mas Gangga selalu punya cerita sepulang dari sekolah. Kali ini dia cerita tentang Ustadzah yang menyetelkan CD tentang anak-anak Palestina. CD yang dilihatnya sepertinya cukup menggugah hatinya, terbukti dia mulai mengoleksi daftar produk yang dipakai keseharian kami. Lanjut Baca »