Konflik Anak


Dunia anak-anak adalah sebuah dunia dengan dinamika ajaib. Perselisihan mereka adalah sebuah perselisihan dengan udara cinta. Bila tak percaya cobalah perhatikan, setiap kali mereka berkonflik sedetik kemudian mereka menjelma menjadi sahabat sejati. Setiap kali mereka berselisih paham tak sampai semenit mereka akan berpelukan seolah tak pernah ada dosa diantara mereka. Dan sejujurnya orang dewasa tak mampu melampaui maqam mereka dalam penyelesaian konflik. Jiwa mereka masih sangat fitri, dan hanya cinta yang bersemayam dihati mereka. Maka peringatan bagi orangtua untuk jangan ikut cawe-cawe dalam konflik mereka, karena cinta itu akan terkotori, kefitrian itu akan ternoda.
Adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga ketika saya melewati sebuah momen anak kedua saya (Gautama) berkonflik dengan temannya. Kronologis bermula dari keresahan saya tentang Gautama. Betapa saya merasa belum mampu menggapai dunia Gautama (baca disini). Dan ternyata disekolahpun itu berdampak. Dia yang oversensitive bila melakukan kesalahan, dia yang sangat overresponsive dengan teman-temannya,  bahkan saya menyimpulkan dari uraian ustadzah saat itu bahwa Gautama dalam tanda petik ‘ditakuti’ teman-teman dikelasnya. Karena sikap overreactive-nya tadi menyebabkan teman-teman enggan berdekatan dengannya. Akhirnya saya sepakat dengan Ustadzah untuk meminta bantuan konselor sekolah mengobservasi Gautama. Singkat cerita seusai konseling itu mulai ditemukan titik permasalahannya, dan kami sepakat untuk melakukan perbaikan terutama memberikan ‘ruang nyaman’ bagi Gautama.
Seminggu kemudian perbaikan ke arah positif itu nyata terlihat, saya merasa menemukan dunia dengan Gautama, saya serasa bisa ‘menyentuhnya’. Nah pada saat hangat-hangatnya keluhan tentang dirinya, ia pernah bercerita bahwa ada seorang Ayah teman sekelasnya bilang akan memarahinya kalau dia masih berlaku tidak baik pada anaknya. Saat itu saya sangat memaklumi bila banyak orangtua yang mengeluhkan tentang sikap Gautama. Jadi sikap saya saat itu adalah mengingatkannya untuk lebih menjaga tangannya, mulutnya, dan sikapnya yang membuat temannya tidak nyaman. Saya mencoba memasukkan tentang konsep menyayangi sesama. Dan sesungguhnya saya sudah melupakan keluhannya, bahkan sedikit tak menghiraukannya.
Dan ketika minggu pertama selesai konseling dan saya mulai merasakan dampak perbaikan dalam sikapnya, juga laporan Ustadzah di Buku Penghubung bahwa ‘Alhamdulillah perkembangan Gautama sangat bagus’. Bahkan setiap pulang sekolah dia biasa cerita, “Bunda hari ini aku sayang sama mas Alif, tidak bertengkar dengan Mas Zidan, sayang sama semuanya!”  Dan sayapun memeluknya dan mengucapkan “Terima kasih Sayang, Bunda percaya sama adik, kalau kamu menyayangi semuanya, adikpun akan disayangi semuanya”
Hingga suatu malam ia mengulang lagi kalimatnya tentang ayah seorang teman yang akan memarahinya bila ia masih bersikap tak baik pada anaknya. Saya mulai terusik dan mencermati ceritanya, mencoba menggali kronologi yang terjadi. Karena masih belum puas akhirnya malam itu juga saya menelpon Ustadzah. Sejujurnya telepon itu berangkat dari kekecewaan saya kepada Gautama, ‘barangkali dia ‘berulah’ lagi?’ setelah grafik itu mulai naik. Pada Ustadzah saya sampaikan semuanya, dan memastikan betul apakah Gautama bersikap tak baik lagi? Apakah grafik itu mengalami penurunan (lagi)?. Ternyata jawaban Ustadzah sedikit melegakan bahwa grafik itu tidak sedang turun, bahkan cenderung naik. Mendengar uraian Ustadzah, tiba-tiba ada sebentuk kekecewaan lain hadir? Ada perasaan tidak terima mendapati Gautama –anak saya- diperlakukan seperti itu. Orangtua mana yang bisa menerima sikap orangtua temannya seperti itu? Namun ketika hati saya mulai jernih, mulai bisa berpikir rasional, akhirnya saya sampai pada kesimpulan, ‘bila emosi harus ditanggapi dengan emosi, seperti apa jadinya? hanya akan menguras energi kita’. Dan barangkali sikap yang harus saya ambil adalah semakin menguatkan konsep Gautama untuk lebih menyayangi temannya. Rasanya itu lebih rasional.
Namun ternyata kesimpulan saya, pagi harinya harus mendapat ujian ketika saya mengantarkannya sekolah. Dijalan Gautama dengan kepolosan khas anak-anak bilang pada saya, “Bunda hari ini aku tidak dimarahi Ayah temanku kan?” Memelas sekali nadanya. Rasanya ada sebuah batu besar yang menghantam dada saya dan sungguh saat itu membuat saya tercekat dan mata berkaca-kaca. Dari nadanya saya menangkap ketakutan, dan ia membutuhkan sebuah pengayoman.
Ah, Nak kenapa harus ada yang melukai cinta di dunia kalian, sungguh Bunda yakin sedetik dari perselisihanmu, kalian sudah tertawa bersama lagi, sudah berbagi kue lagi, bahkan mungkin sudah berantem lagi dengan konflik yang beda sama sekali.  Namun disini kamu masih ‘terperangkap’ dalam  sebuah ketakutan. Saya menggigit bibir kuat-kuat mencoba menenangkan rasa, dan berusaha  berucap dengan tenang, “Insyaallah tidak Nak, karena selama ini Gautama sudah menyayangi temannya. Memang kalau kita menyakiti teman, orangtua teman kita bisa marah, dan  Bunda yakin adik sudah menyayangi temannya semua, jadi sudah tidak akan ada yang marah lagi, ya? Adik tak perlu takut, karena adik sudah benar untuk menyayangi temannya ya?” Ingin rasanya saya menjawab” Oh tentu tidak nak, kalau masih ada yang masih berani memarahi adik, bilang aja sama Bunda, Bunda akan buat perhitungan!” Tapi apalah dampak dari kalimat itu selain menanamkan keburukan, dan menyebarkan energi tak pantas pada anak-anak. Sekali lagi dunia mereka adalah sebuah dunia yang tak boleh kita kotori dengan emosi kita. Karena hanya akan menimbulkan luka, dan noda bagi mereka.
Alhamdulillah pihak sekolah mengambil tindakan simpatik, menyampaikan hal tersebut kepada yang bersangkutan,  dan mendudukkan  masalah pada porsi sebenarnya, bahwa selama ini perselisihan anak-anak selalu diselesaikan sebelum mereka pulang dengan saling memaafkan, dan bila ada hal yang masih kurang berkenan terhadap sikap anak-anak, sebaiknya diselesaikan dengan pihak sekolah, jangan langsung kepada si anak.
Dari peristiwa itu betapa saya sangat belajar banyak. Saya setuju dengan pendapat suami saya, bahwa konflik anak-anak harusnya diselesaikan dalam wilayah mereka, tak perlu ada campur tangan kita untuk merasa menjadi wasit untuk menyelesaikannya. Karena penyelesaian mereka jauh lebih indah dari pemahaman kita, dan tentunya jauh dari sikap rasional dari pemahaman kita -orang dewasa-. Bahwa setiap anak yang memukul harus ganti dipukul, tidak!, bukan seperti itu cara penyelesaian mereka. Karena selesai memukul ajaibnya mereka akan tertawa bersama seolah konflik hanyalah banyolan belaka bagi mereka, bumbu pemanis dunia mereka.
Nah, baru bila konflik mereka sudah menjurus ke hal yang berbahaya, semisal menimbulkan luka, menimbulkan lebam yang diakibatkan tindakan salah seorang dari mereka, bolehlah para orangtua ikut menyelesaikan namun tidak dengan mengintimidasi si anak, tapi selesaikan dengan sesama orangtua. Bicarakan dengan musyawarah mufakat dengan penyelesaian win-win solution. Biarkan orangtua si anak yang menyelesaikan persoalannya dengan anaknya sendiri. Dan ada baiknya para orangtua tidak saling menyalahkan karena seringnya yang terjadi adalah pembicaraan sesama orangtua ini justru merembet ke hal-hal yang lebih besar yang sebenarnya tak ada substansinya dengan konflik anaknya. Jangan sampai terjadi anak yang berkonflik sudah makan sepiring berdua sementara para orangtua masih menegangkan urat sarafnya, naudzubillah.
Pelajaran lain buat saya adalah untuk lebih intensif membangun silaturahmi, baik kepada Ustadzah di sekolah maupun kepada para wali murid. Karena dengan membangun silaturahmi tak perlu muncul hal-hal remeh temeh yang menimbulkan energi tak penting seperti ini. Semoga ke depan tak perlu lagi ada hal-hal seperti ini.
Akhirnya dari peristiwa ini saya menutup dengan kalimat, “Pernahkah kita berpikir bahwa konflik bagi anak-anak adalah ungkapan cinta walaupun dengan bentuk yang lain. Maqam itulah yang belum bisa kita lampaui”. Wallahu’alam.
Pacar Kembang 10 Januari 2010
Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: