Surat Cinta – Part 1


Saat saya mengandung Gautama, anak keduaku, saya pernah mengikuti sebuah seminar keluarga di Hotel Shangrila. Dalam seminar itu saya merasa mendapatkan banyak ilmu, dari pembicara pertama hingga pembicara terakhir. Dr Ton, dokter obgyn yang cukup senior di Surabaya membuka seminar dengan gaya dagelannya yang khas, tapi justru dengan gayanya itu ilmu yang disampaikan kepadaku menjadi mancep. Sesi kedua diisi oleh seorang psikiatri Dr. Josephin –kalau tak salah-. Beliau menjelaskan tentang perkembangan anak dengan segala problematika yang sering muncul, dan mencari solusi jitu menghadapi permasalahan tersebut dari sisi psikologi. Beliau ini sempat membuatku iri dengan slide-slide hasil karya anak-anaknya bahkan ungkapan-ungkapan cinta si anak buat mamanya. Menyentuh sekali! Sempat terpikir “Kapan ya dapat surat begituan dari anakkku!
Mungkin rasanya bahagia, senang, tersentuh, terharu saat anak-anak ungkapkan cinta mereka. Apalagi dengan tulisan seperti itu. Saya pernah melihat tayangan iklan Susu Bebelac, dimana si anak sering menyelipkan surat-surat cinta buah tangannya. Saya sering senyum sendiri kalau melihat tayangan itu.
Ternyata saat itu datang juga padaku, walaupun harus ditebus dengan meninggalkan mereka selama 2 hari dua malam, hiks! Ceritanya minggu kemaren saya harus menghadiri pernikahan keponakan kakak ipar saya di Magelang. Terpaksa saya harus berangkat sendirian karena anak-anak sekolah dan suami tidak bisa cuti. Jum’at malam berangkat dan sampai di rumah minggu malam, saat anak-anak sudah tidur. Baru keesokan harinya, saya ketemu mereka dan Mas Gangga menyerahkan segebok tulisan-tulisannya kepadaku dengan malu-malu. Kubuka  satu persatu kertas-kertas dari guntingan buku tulisnya itu. Ada sekitar tiga tulisan yang nadanya sama. “Aku sayang Bunda”, “Aku sayang Bunda dan Ayah”, “Aku ‘tanda love’ Bunda”. Tiba-tiba ada yang berdesir di hatiku.
Bait sederhana itu seolah menyampaikan kerinduannya kepadaku, dan jujur membuat sesuatu dihati saya menjadi gerimis. Betapa cinta mereka begitu murni, tanpa pernah ada dendam, walaupun saya sering memarahi mereka, menyakiti mereka, melarang ini, itu, belum memenuhi semua permintaan sederhananya hatta , “Bunda ndak usah kekantor!” , ah Nak betapa cintamu adalah semesta, tanpa batas. Begitu sempurna ceruk-ceruk cinta itu selalu engkau hadirkan kepada kami, tanpa pamrih, tanpa meminta imbalan, tanpa maksud apa-apa bahkan cintapun kau utarakan dengan lugas, ‘Aku Sayang Bunda’ Sungguh tiba-tiba Bunda malu pada diri Bunda sendiri, melihat kebelakang hari ternyata Bunda masih-tertatih-tatih memaknai cinta kalian yang menyemesta dalam jiwa ini. Lalu siapakah yang sebenarnya banyak memberi? Cinta siapakah yang lebih murni, benarkah cinta anak sepanjang jalan, dan cinta Bunda adalah sepanjang masa? Bila benar kenapa Bunda masih memarahimu? Terkadang sumbu pendek sedemikian pendeknya hingga meledak tanpa kontrol? Ah maafkan Bunda Nak, yang belum mampu mencintaimu selevel dalam maqam cinta yang kalian hidangkan untuk kami. Sungguh maafkan Bunda!
Finished 6 Januari 2010
Betapa membuncah dada ini menerima surat cinta pertamamu
Iklan

  1. postingan ada dua mbak siwi:)
    tapi, ah benar, mbak siwi, siapa yang tidak bergetar hatinya membaca surat cinta itu..

  2. Indah … sungguh indah membaca surat2 yang dikirimkan oleh anak2 kita. Hati pun menjadi mendesir saat menerima dna membacanya. Mungkin kita harus menanamkan hal2 yang membuat mereka dekat kepada kita, sehingga mereka pun bisa berani mengirimkan surat. Terima kasih sudah mengingatkan….

  3. @Fety, thx Fety sudah membacanya, yg kedua rencananya hr ini di posting, hehehehe…

    @ Bang aswi, sebuah kehormatan dikunjungi Bang Aswi di lapak saya yg lecek ini, ssstt… sy penggemar tulisan Bang Aswi juga lo! TFS ya?




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: