Surat Cinta – Part 2


Untuk Kesekian kalinya surat cinta itu hadir, dengan efek yang menggetarkan. Meresapinya  menghirupnya pelan-pelan dan menghembuskannya dengan penuh perasaan. Laiknya ABG akupun menepi sendiri dalam ruang sunyi yang tercipta, menikmati surat cinta itu, dan tersenyum-senyum sendiri, dengan penuh arti.  Dan betapa itu menghasilkan letupan energi yang dahsyatnya tak terbahasakan.
I Love Mom
I Love Mom
Keping tadi malam menyisakan sebuah momen yang sedikit terlewatkan. Ketika sepulang kantor dia menggelendot manja dengan suara sedikit di cedal-cedalkan, pertanda dia meminta perhatian lebih. Dan disela-sela pembicaraan kami, dia menitipkan pesan ada sesuatu di tas merahku. Dan karena kesibukan mempersiapkan Ulangan Akhir Semesternya, titipan pesan itu sedikit terlupakan. Hingga pagi ini aku menyempatkan mengambil sesuatu itu, yang ternyata sebuah surat cinta dalam bentuk sederhana namun betapa itu mewakili semuanya. Mewakili kerinduannya, mewakili cintanya, mewakili semesta yang tengah melingkupinya dan mencoba ia tuangkan dalam kalimat sederhana namun sarat makna. Secarik kertas berhias coretan krayon berwarna hijau, yang ditengahnya ditempeli kertas berbentuk awan diwarnai hijau bergradasi hijau tua. Ditengah awan yang ditempel pada kertas yang ber background hijau tadi kalimat sakti itu tertulis dengan gaya tulisan khas anak-anak.
I Love Mom
I Love Mom.
Dalam dua baris kalimat sederhana itu aku menagkap getar kerinduannya denganku, aku menangkap getar cintanya yang mendalam buatku, aku menangkap kecemasannya akan diriku, aku menangkap kerinduan akan kehadiranku. Dan betapa getar itu tak terbahasakan.
Surat cinta itu sudah yang kesekian kalinya dan selalu getar yang sama melingkupinya. Dan kurasakan begitu  cantik dan eksotiknya cara ia mengungkapkannya. Selalu diletakkan ditempat tersembunyi, yang pasti suatu saat akan bersinggungan denganku.  Ah romantis sekali kau!
Rasanya aku tak tahu harus dengan apa membalas sepenuh cinta darimu, walaupun dari binar matamu aku tahu kau tak menuntut lebih, hanya di dengarkan, dipeluk, dihargai. Memandang wajahmu dengan antusias ketika kamu bercerita betapa itu sudah mewakili kepuasanmu, aku tahu dari sorot mata bahagiamu. Melepasmu berangkat sekolah dengan mengaminkan do’amu, aku tahu binar matamu itu adalah bahagia dengan memandangiku sampai di tikungan sehingga kamu tak terlihat lagi. Jangan disuruh makan ikan dan sayur hanya itu pintamu saat makan, yang seringkali malah tempe goreng kecap kesukaanmu yang menemani jadwal makanmu. Maafkan aku kalau sering tak meluluskan pintamu untuk makan dengan mie instan kesukaanmu, hanya saat kau tak mau makan saja aku meluluskan pintamu, “daripada tak makan sama sekali pikirku” Itu karena aku menyayangimu. Maaf Nak bila Bunda belum bisa memenuhi pintamu hatta, “Jangan kekantor Bunda!”, walaupun mengingatmu adalah sebuah telaga dengan kedalaman rasa.
Terima kasih Nak sudah membukakanku dunia penuh cinta dalam kemurnian dengan kandungan oksigen murni, membeningkan!
Finished 20.01.10
Iklan

  1. mbak siwi, juga ikut bergetar membacanya..




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: