Kan Itu Jadi Ga Penting?


Kemaren sore saya chatting dengan kakak iparku yang di Jakarta, saling ‘curcol’ saling menguatkan, hmmhh… walaupun dia kakak ipar namun hubungan kami serasa istimewa, selain saya memang gak punya kakak kandung perempuan karena saya satu-satunya perempuan dari empat bersaudara.

Iparku :    “Wi, tulisanmu tentang Ibu yang ceritain masa kecil kalian kapan itu di forward ama Papanya Daffa, dia bilang ‘aku sampai nangis Ma bacanya’, dan menurutku juga bagus Wi”

Aku :         “Ohya?

Aku ingat artikel yang kutulis adalah sebuah Esai yang kuperuntukkan buat Lomba di lapak sebelah, dalam rangka memperingati Hari Ibu kemaren.

Aku :         “Sayangnya artikel itu nggak menang mbak!”

Iparku :    “Hayyah, Kan itu jadi ga penting Wi!”

Dheg! Serasa ada yang nampar mukaku.

Walaupun selama ini selalu bertekad nulis ya nulis aja, kenapa musti repot harus menang lomba! Tulisan itu menceritakan tentang sosok yang begitu kental mewarnai kami, anak-anaknya. Sosok itu adalah almarhumah Ibuku, dan betapa leganya saya ketika mampu merampungkannya, dengan membongkar-bongkar memori masa kecilku tentangnya.  Tentunya itu cukup menguras emosi dan air mata saya.

Ketika mengirimkan untuk sebuah ajang lomba saya memang berharap bisa menang, -ya pastinyalah, ngapain diikutkan lomba kalau nggak untuk njajal awak?- Dan ketika artikel itu tak menang yah sejujurnya ada sejumput kecewa, tapi ya sutralah, ga papa. Keep Writing! Semangat!

Sampai akhirnya kalimat diatas tadi menohokku, untuk kembali ke khittah *tsahh*. Bahwa menulis adalah santapan jiwa, bahwa menulis adalah buah dari bersemadi di ruang sunyi di hati kita, bahwa menulis adalah panggilan jiwa untuk menyuarakan cinta, bahwa menulis adalah nyawa tambahan bagi kematian jiwa, bahwa menulis adalah sebuah persembahan bagi hidup kita, bahwa menulis adalah ladang amal bagi bekal di akhirat kelak, bahwa menulis adalah sajadah cinta tempat bermasyuk manja denganNya, bahwa menulis adalah sesuatu yang hidup dan menghidupkan, bahwa menulis adalah semangat dan cinta….

Dan betapa benarnya kalimat diatas bahwa kemenangan atau kekalahan sudah tidak penting lagi bagi sebuah tulisan, karena yang utama dari tulisan adalah dibaca, syukur-syukur bisa memberikan warna bagi sesama. Kalau sebuah tulisan sudah mampu membuat seseorang menangis tentu itu sesuatu yang luar biasa, dan momen seperti itulah yang bisa memberikan amunisi penuh bagi semangat seorang penulis. Walaupun terkadang itupun juga menjadi tak penting. Karena tanpa menulis saya bisa kering kerontang, dan habis..

05.02.10

Special thx to Mbak Lina yang telah ‘menamparku’ kemaren sore

Iklan

  1. ah, mbak siwi, kadang fety juga begitu saat ikut lomba. kali ini mbak siwi yang ‘menampar’ fety.

  2. iya Fety, sejujurnya yang lebih membuat kecewa saya dalah kenapa saya masih bisa kecewa, kalau sdh bertekad menulis adalah bla…bla…bla… tapi dengan mengakui bahwa saya bisa kecewa dan itu manusiawi, justru melegakan, … TFR ya?….

  3. Nasrul Hanif

    Teruskan nulisnya wi …. saya senantiasa mendukungmu.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: