Engkau Yang Bertahta Di Hatinya


Bila sekedar ingin menjadi objek cintanya maka kecantikan, ketampanan, keseksian, bibir bergincu, atau perut sixpact cukuplah menjadi bekalmu, namun bila kau ingin bertahta dihatinya maka ketulusan cinta yang utuh dan penuh, layak engkau jadikan bekal memperjuangkannya.

Sudah hampir 10 tahun Abah saya hidup sendiri tanpa didampingi istri tercintanya. Tepatnya 10 Nopember tahun 2000 Ibunda saya tercinta meninggal dunia. Hari itu seakan masih kemaren. Senyum ayunya seakan masih tertinggal di pelupuk mata ini setiap harinya. Bau tubuhnya seakan tak pernah hilang dari ingatan hidung kami. Rasanya baru kemaren saya merajuk di pangkuannya, menggeledot manja di lengannya. Rasanya baru kemaren coklat yang kau bawakan itu habis kukunyah perlahan-lahan di kamar kosku. Saat dulu aku sekolah jauh dari dirimu. Rasanya baru kemaren rindu itu begitu menggelegak, dan tak tahu harus kemana menggenapinya?

Betapa sepuluh tahun tak pernah mengusik kedudukanmu dihatinya, tahta itu tetap utuh dan penuh disana. Aku yakin itu. Karena setiap kami berempat mengajaknya ke makammu dia selalu menggeleng, “Rasanya Abah belum sanggup!” sambil mamalingkan muka, yang sepertinya ada kristal bening di sudut matanya. Apalagi pertanyaan dan tawaran untuk menikah lagi, selalu dijawabnya dengan senyum kecil entah ataukah senyum kecut dan berkata “tidak!” dengan tegas. Dan yang sebenarnya yang kulihat dari senyum itu adalah kegetiran, kerinduan yang dalam akan hadirmu. Cintamu terlalu agung untuk sekedar dilupakan.

Saya tak tahu cinta seperti apa yang bersemayam dihatimu yang mampu membuat hatinya membatu untuk hanya mencintaimu semata, selamanya (mungkin)? Cinta berbentuk apa yang kau persembahkan bagi jiwanya sehingga lekukannya membuatnya tak mampu melepaskan pesonanya?

Yang kutahu cintamu sederhana saja, menyisihkan lauk pauk menu hari itu, dalam sebuah mangkuk selesai engkau memasak dan selalu kau bilang “Ini untuk Abah yang sudah bersusah payah mencari rejeki buat keluarga!” aih Indahnya! Dan ketika ia tiba dari kerja, segera kau songsong dengan binar cintamu, menungguinya melahap masakanmu hingga kunyahan terakhirnya. Mengaminkan setiap ucapannya. Khusyu’ menjadi jamaahnya, mendukung apapun dia. Sangat menghormatinya hatta dia hanyalah seorang guru Tsanawiyyah. Tak pernah terdengar tuntutanmu tentang materi karena yang ada hanyalah kesyukuran yang penuh atas gaji yang tak seberapa untuk menghidupi keempat anak-anakmu. Dalam kekuranganmu bukan tuntutan yang kau ajukan, justru mencari solusi pemecahannya. Membuka warung sembako salah satu usahamu mendukungnya. Bahkan ketika usahamu membuka Warung Makan Sate An Ni’mah penghasilannya melebihi gajinya, penuh kesyukuran itu yang selalu kau tunjukkan, tanpa pernah sekalipun menyinggung harga dirinya sebagai laki-laki.

Mungkin justru kesederhanaan itu yang telah memenjara hatinya, hanya untukmu. Tak ada yang sanggup mengusiknya. Dan tahukah engkau setelah sepuluh tahun cinta itu teruji dengan hasil luar biasa?. Dia masih sering menangis hanya karena melihat anak-anakmu yang tumbuh berkembang, mempersembahkan cucu-cucu untuknya. Dia sering bergumam, “Seandainya engkau masih ada!” Dia mengingatmu, hanya mengingatmu, yang kuyakin bukan tubuh yang melekat di jasadmu, bukan rambutmu yang tergerai, bukan… aku yakin yang dirindukannya adalah hangat kasihmu, sepenuh cintamu, dan ketulusan jiwamu. Seperti pula yang hingga kini tak sanggup kami lupakan.

Yang justru sekarang mengusikku adalah, bisakah aku kelak bila sampai waktuku bisa dikenang seperti dirimu dikenang suamimu? Anak-anakmu? Indah Mom, semua kenangan yang kau goreskan dalam hidup kami, semuanya indah… dan tak tergantikan… How can am I? Mom I Miss U … So Much…

12 Februari 2010

Dedicated to Ibunda Kusniyah Rahayu dan Abah Imam Rohani…

Terimakasih atas sesi pelajaran tentang cinta yang tak tergantikan

Iklan

  1. Nasrul Hanif

    Sampe’ nangis rek aku bacanya …. Bisa nggak ya kita mewarisi cinta mereka …

    Ndak terbayangkan.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: