Musuh utama cinta bukanlah selingkuh, uang, atau yang lainnya, namun sang waktulah yang akan menjadi kendala utama. Menaklukkan cinta seseorang yang diidamkan tentulah sebuah gengsi tersendiri, sebuah prestasi yang tak kecil, namun pencapaian itu masih terasa biasa karena ada yang lebih berat yaitu melawan sang waktu untuk mempertahankan cinta tetap indah seperti sedia kala. (inspired by tulisannya)

Maaf bila  konteks pasangan disini adalah mereka yang telah menikah. Walaupun tak menutup kemungkinan bagi yang masih penjajakan. Namun biasanya masa penjajakan jarang muncul problem ‘waktu’ karena masa itu masih dipenuhi aroma keindahan. Segala yang dilihat masih sempurna. Itulah kenapa pernikahan dianggap sebagai penyempurnaan separuh agama. Karena dalam pernikahan seluruh topeng yang melekat pada  diri kita runtuh. Diri kita tampil murni, apa adanya. Polos.

Ketika gerbang pernikahan dilalui, pasangan kitalah yang paling tahu borok maupun wanginya kita.  Kebiasaan ngorok waktu tidur, ternyata rada jorok, suka ngupil, ga bisa masak, nyuci baju masih belepotan, setrikaan jauh dari rapi yang ada malah ancur, dan sebagainya. Dan proses itu membutuhkan energi cinta yang tak kecil. Bahkan terkadang proses itu mampu mengikis cinta kita.

Masa itu menjadi batu sandungan pertama atas nama cinta. Pernikahan adalah deal untuk mencapai kompromi. Bila pernikahan dilandasi komitmen kuat, tak sekedar bersatunya dua raga dimalam pertama, namun juga bersatunya dua nyawa dan jiwa, maka jalan kompromi menjadi salah satu cara untuk bertahan. Tak perlu memperbesar hal-hal kecil selama tak menyentuh wilayah prinsip. Maka seberapa cerdas kita mengakomodasi berbagai macam kepentingan untuk bermuara dalam kenyamanan berdua, akan menentukan kualitas hubungan kita. Bagaimana meleburkan dua nyawa, dua kepala, dua jiwa menjadi selaras dan seirama. Tergantung fokus mana yang akan kita pilih.

Bila hanya berkutat, cemberut dan gondok dengan perbedaan, ‘ih ternyata dia jorok’, ih ternyata panuan’, ‘ih ternyata suka ngupil,’, ‘ih ternyata … ih ternyata…. Itu  masih yang menyentuh wilayah badaniah, belum urusan yang prinsip, ‘deuh capek ternyata pelitnya minta ampun’,’sholatnya molor-molor’, ngajinya nggak pinter’, ya ampun istriku boros banget, nggak tau apa cari duit susah setengah mati, dia enak aja main buang!’ n so on, yang saya yakin akan sangat menguras tabungan energi positif kita. Belum permasalahan berdua yang harus ditangani, kontrakan rumah, cicilan kendaraan, bayar telepon, bayar listrik, bayar air, masak, n so on, eneg deh pokoknya!. Segala keindahan masa penjajakan menjadi perlahan lurus grafiknya, bahkan kalau parah bisa jadi terjun bebas tanpa ampun!

Inilah masa rawan pernikahan yang sebenarnya masih kecil, bila dibanding yang ada dibelakangnya. Nah bila ujian pertama bisa lulus kita lampaui, jangan leha-leha dulu…!

Ketika ujian pertama menjadikan kita pasangan yang lebih solid, lebih dewasa, lebih matang, maka ujian kedua telah menunggu. Kekompakan, keserasian, keharmonisan, dan  kematangan tadi akan teruji oleh sang waktu, apakah hal itu akan menjadi sesuatu yang langgeng atau akan terkikis habis seiring berjalannya masa.

Dulu jamannya saya masih gadis *tsahh…gadis* sering bengong-bengong mendengar komentar bapak-bapak sekantor yang bilang ‘kalau udah menikah lama-lama akan jadi seperti temen’. Gyaa… terus apa asiknya menikah? “Ya, itu sebuah proses yang normal aja”, kata mereka. Waktu itu yang ada di benak saya adalah betapa gamangnya saya  dengan sebuah pernikahan, lha coba bayangin kalau cuma endingnya jadi temenan dimana asiknya menikah? Ya mending temenan aja, biar ga ribet? 😀

Namun ternyata saya menikah juga, dengan segala romantikanya dan seiring perjalanannya bahwa menikah mau tidak mau adalah sebuah fitrah, sebuah perjalanan manusia, sebuah pilihan manusia untuk hidup didunia ini. Menikah dengan segala keribetannya tetaplah menjadi pilihan yang asyik. Tergantung sudut pandang mana yang akan kita jadikan fokus. Keasyikannya atau keribetannya?.

Lalu bagaimana menaklukkan sang waktu agar tak menjadi momok dalam perjalanan cinta kita? Kalau aplikatifnya sih bila sekedar jemu, monoton, bete, boring, kenapa tak sesekali memberikan jeda waktu atas rutinitas yang mencetak kita bak robot tanpa hati? Banyak cara sederhana,  menonton, hanging out berdua, makan berdua yang tak harus candle light dinner, karena makan nasi pecel pinggir jalan lebih terasa nikmatnya karena dalam perjalanan kedua tangan saling menggenggam. Menonton bisa jadi jeda yang asik bila saat masuk ke studio berjalan bergandengan sesekali merengkuh pinggang sang istri, merentangkan tangan dibahu sang istri selama pertunjukkan, menggenggam penuh percaya diri saat menyeberang jalan, itu sudah lebih dari cukup dari sekedar mulut mengatakan cinta hingga berbusa. Bisa jadi akan  merekatkan simpul cinta yang perlahan kendor, urat-urat tegang karena perselisihan kecil, dsb.

Kepada mereka yg sudah mempunyai anak-anak, cobalah sedikit tega untuk meninggalkan mereka sejenak, saya pikir itu bukan dosa! Karena dengan mencharge cinta berdua dengan pasangan pastinya berimbas pula kepada anak-anak.  Sehingga apa yang mengalir pada merekapun energi yang diudarai oleh cinta kita. Saya yakin anak-anak yang tumbuh dari bahan bakar cinta yang murni, tulus dan penuh akan melahirkan generasi yang berintegritas.

Aplikasi diatas tentunya tak sekedar keluar berdua, tak sekedar menonton, tak sekedar bergenggaman tangan, karena haruslah ada bobot rasa yang mengiringinya. Dengan selalu melibatkan hati, saya yakin perjalanan kita seolah menjadi punya panduan.  Bahwa hati hanyalah penerima sinyal dari yang Maha mempunyai hati, Arrahman Arrahim. Bahwa cinta pada akhirnya adalah manifestasi dari persembahan kita kepada yang Maha Segalanya. Ketika kita memberi kenyamanan, kebahagiaan dan cinta kepada pasangan kita maka sejatinya kita tengah mempersembahkan yang terbaik dari kita untukNya.

Maka ketika segala keribetan pernikahan bermuara pada kedalaman sang Maha Mencintai, waktu akan terlipat, menjadi sebuah energi maha dahsyat sebagai amunisi menggempur sang waktu. Waktu akan menjadi jalan surga, waktu akan menjadi lorong bahagia, waktu akan bertabur dengan keberkahan.

Adakah yang mampu melampui derajat keberkahan dalam hubungan pernikahan kita?

***

Iklan

  1. jujur nih… saya merasa menemukan hidayah pada tulisan ini. :)) ide2 yg ditawarkan sangat menggoda.

  2. wah curang itu sih.. ngomong bener kok dibilang ngeledek. hidayah kan bisa ditemukan di mana saja, lagian seperti kata pak ustadz, jika anda menemukan sesuatu yang baik dalam penyampaian saya, maka sesungguhnya itu datangnya dari Allah. 🙂

  3. na’am Pak Ustadz, kualat saya kalo masih membantah 😛

    :))




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: