Setangkai Bunga Tanda Cinta


Pernahkah kalian menerima setangkai bunga dari seseorang yang tampan luar biasa dan dengan tatapan menghanyutkan? Saya pernah ..tadi malem tepatnya, dan mau tahu rasanya? Melted…ted…ted… sampai mau nangis rasanya.

Sepulang dari kantor karena tergesa-gesa nyiapin makan buka puasa buat Arjunaku, sampai saya melewatkan golden time dengan si kecil. Masuk garasi langsung ke dapur, menyiapkan makanan yang sudah kubeli. Dan itu membuat si kecil protes nangis berguling-guling, karena biasanya dia pasti ngikut ke boncengan saat saya masuk rumah.

Akhirnya setelah kelar, saya rayu-rayu dia, saya kitik-kitik dia, ga mempan! Asli rada sedih. Tapi setelah dieman beberapa saat dia jadi ga betah juga, sambil senyum-senyum deketin saya. Nggelendot, dan tiba-tiba dia inget sesuatu, dan berbisik di telinga saya, “Bunda aku punya sesuatu buat Bunda!” bisiknya.

Tapi ‘sesuatu’ yang dicarinya tadi ketlingsut entah dimana, sampai agak lama mencari masih juga belum ketemu, si mbak jadi sasaran kejengkelannya, nangis-nangis di depan kamar mandi saat si mbak mandi, “Tadi mbak yang beresin, dimana mbak bungaku?” jeritnya sambil menangis.

Saya yang sedang mengunyah gorengan jadi ikut sibuk juga mendengar tangisannya. Biasanya sih anak-anak kalau bikin kerajinan tangan dari sekolah dan diijinkan gurunya untuk dibawa pulang selalu ditunjukkan ke saya. Saya pikir bunga itu juga bikinannya untukku. Saya coba cari info ke mbak, tentang warna dan bentuk bunganya seperti apa.

Si Mbak dengan tergopoh-gopoh dari kamar mandi jadi riuweuh mencarinya. Aha… akhirnya ketemu juga, dan …woooowww ternyata bunga itu indah. Terbuat dari kertas tissue yang dipilin dipinggirnya sehingga bener-bener menyerupai kelopak, dan warnanya cantik bener, perpaduan kuning lembut dan putih, serta mahkota warna hijau.

Sumpah saya terpesona, ketika kutanya, jawabannya semakin membuatku pengen nangis.

“Bunga darimana sayang?” tanyaku sambil berjongkok dan menatap wajahnya yang masih dihiasi air matanya.

“Aku beli buat Bunda!” katanya kamisesegen.

“Beli?, dimana belinya?” tanyaku sedikit heran.

“Di Mas Iwan Koperasi Sekolah’’ jawabnya kali ini dengan mata lebih berbinar.

“Emang harganya berapa?” tanyaku lagi.

“Harganya seribu, yang seribu buat beli Mountea!,” katanya lagi kali ini dengan binar sempurna.

Saat itu dunia seakan berhenti, memberi jeda hatiku untuk menyesapinya. Sebuah rasa yang tiba-tiba ….ah..sulit untuk kuungkapkan. Saya tahu murid-murid TK Kecil seusianya hanya boleh diijinkan sekolah untuk membawa uang saku tak lebih dari 2000 rupiah. Berarti dengan membeli bunga itu memotong separuh uang sakunya. Dan bunga itu untukku.

hmmmmhhh….Indah Kawan….

Sumpah!!!

Pacarkembang, 03.06.10

Iklan

  1. ugik madyo

    hiks.. hiks.. terharu aku mbak 😦
    adik Tama… bisa… aja…

    makasih ya mbak. udha berbagi. tulisan sampean emang selalu bikin mak nyes 😀

  1. 1 6 Tahun Gautama « Cahaya Bintang

    […] episode tentang setangkai bunga itu benar-benar menorehkan episode terindah dalam hidup saya, dalam dunia yang pernah kami […]




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: