Kids Ramadhan


Punya dua anak yang sedang belajar puasa, ternyata banyak menginspirasi saya, njajal kasekten saya dibidang kesabaran dan ketegasan. Dimana sabar harus diletakkan, dimana tegas harus ditegakkan. *uhuks-uhuks…


Ternyata butuh seni tersendiri untuk membuat Ramadhan mereka ceria. Gak keinget lapernya, gak keinget hausnya, dan membuatnya ceria walaupun dengan lemes-lemes dikit. (perasaan puasa mereka ga pake lemes-lemesan ya?) Dasar sang adek juga susah makan jadi dianya rada enjoy aja menjalani puasa bedugnya. Sementara sang kakak yg sudah berusia 8 tahun sudah menikmati puasanya hingga Maghrib tanpa rintangan berarti.

Membantu saya ngiris-ngiris sayuran, bermain kartu Uno, bersepeda sore sepulang kerja, ato cerita seru-seru example tentang mimpi kita semalem, godain adik yang emang lucu abis karena pelafalan huruf ‘r’ nya mendal-mendal kayak orang keminggris *lain sama cedal ya, kalau cedal kan mengganti huruf ‘r’ dengan ‘l’, halah dibahas* kadang saya ajak hanging out ke supermarket hatta cuma beli tomat sama wortel, ato kalau libur ngabuburit ke pantai Kenjeran, ato sekedar puter-puter, nonton Ipin Upin, main tebakan huruf yang pake jari, misalnya nebak buah, nama hewan, nama pemain bola, main tebak-tebakan, yang sering sih baca buku.

Dan jangan dikira kegiatan ‘remeh temeh’ diatas tidak membutuhkan effort yang besar. Oh no, salah besar kalau nganggep enteng. Karena sometimes waktu kita yang sering berbenturan. Saat saya siap mendampingi mereka main Uno, eh mereka siapnya maen sepeda. Saat saya diuber-uber waktu bedug Maghrib yang mepet-mepet justru mereka pengen ‘bantuin’ ngiris-ngiris sayuran, (note : bantuan mereka berarti menambah durasi waktu, kalau menolak ntar dikira tidak menghargai bantuan mereka? serba salah kan?)

Satu pelajaran untuk saya tentang puasa anak-anak ini, karena kekuatan Bunda untuk mensugesti diri sendiri bahwa anaknya pasti kuat, ternyata menjadi do’a tersendiri. Karena jika  beberapa hari sebelumnya Bunda sendiri juga ngga yakin jika anaknya bisa kuat berpuasa penuh. Ternyata setelah saya meyakinkan diri sendiri bahwa anaknya pasti mampu (yah beda-beda dikit dengan “tega” gitu!), hasilnya berimbas pada mereka. Wallahua’lam.

Mengajari sebuah komitmen pada anak-anak memang gampang-gampang susah, karena seringkali berbenturan dengan emosi saya sendiri. Mengajaknya berpuasa sementara teman-temannya di rumah masih jarang yang puasa penuh, juga banyak teman non muslim, mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Perasaan tak tega , tak sampai hati, seringkali menimpahi keinginan hati untuk mengajarinya berkomitmen untuk puasa.

Ditengah rengekannya untuk membatalkan puasa seringkali saya harus berperang dengan diri saya sendiri, “Benarkah dengan apa yang saya lakukan?” “apakah ibu-ibu yang lain juga berbuat seperti yang saya perbuat?” “apakah saya tidak terlalu ‘kejam’ pada anak-anak saya?”, Namun dalam perjalanannya saya mencoba mengembalikan niat ini pada rel yang semestinya, bahwa ketegasan bukan berarti kejam, ketegasan bukan diktator, adakalanya kesabaran Bunda ada batasnya, dan disitulah peran ketegasan mulai diperhitungkan. Dan di usia mereka yang semakin besar harus semakin kuat pula rambu-rambu nilai dan akhlaq untuk ditegakkan agar pengertian yang tertanam diaplikasikan dalam kehidupannya.

Wallahua’lam, saya tahu masih banyak titik kelemahan saya disini, namun satu yang saya harapkan, bahwa semoga ketegasan ini bermuara dari tangan Al Aziz, bukan nafsu saya semata. Semoga ketegasan yang coba saya terapkan bisa memberikan jejak kebaikan dalam kehidupan dimanapun kelak mereka berada, Bibarakatillah!

Ujung, 6 Ramadhan 1431 H/16 -8-10

Iklan

  1. ah ibu yg hebat
    🙂

  2. Yakob

    Assalamu’alaykum wr wb. . .ak ga banyak ngtik lah. .cuma hanya ingin bilang. .mantaft dan bagus bu . .mg . .jd pelajaran bagus buat pembaca yang lain. .wassalamu’alaykum, –




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: