Jangan Remehkan Feeling Seorang Ibu


Dulu saat saya masih kecil sering dibuat takjub dengan keajaiban yang diciptakan ibu saya (almarhumah). Banyak hal-hal yang kurang bisa dinalar bisa terjadi, yah semacam miracle gitu.

Suatu hari pernah Ibu bilang bahwa kakak tertua saya akan datang malam itu, padahal kangmas saya itu posisinya jauh di Semarang, sementara kami di selatannya Jawa Timur. Jaman dulu belum ada teknologi telepon apalagi hape, jadi harus lewat surat-menyurat ato telegram kalau mau berkirim kabar. Dan kangmas saya ini sudah lamaaa ga pulang pun kirim kabar via surat n telegram. Ajaibnya malem itu dia bener-bener hadir ditengah-tengah kami persis seperti prediksi Ibu.

Juga saat saya sedang sakit di kos-kosan jauh dari ortu, tiba-tiba ajaibnya besok ibu sudah mengetuk pintu kamar kos saya, sampai saya nangis kejer dibuatnya.

Pernah ada kejadian horor kangmas saya yang lain, digondhol genderuwo *asli ini nggak mbujuk* Ibulah orang yang pertama kali merasa gelisah kehilangan putranya ini, telat sedikit pasti kangmas saya ini sudah kalap di dunia lain. Alhamdulillah, kangmas saya ini slamet seger waras sampai sekarang.*ngelap kringet*

Buanyakkk sekali kejadian yang melibatkan ‘rasa’seorang ibu yang saya alami. Dan rasanya memang ajaib. Bahkan saat saya ketemu sama soulmate saya, Ibulah orang yang berperan penting didalamnya. Bukan dijodohin, tapi sekali lagi faktor feeling seorang Ibu. Padahal pertama kali datang ke rumah saya saat itu soulmate saya itu sudah dalam posisi milik orang *tapi janur melengkungnya belum* dan justru mau ngenalin temennya ke saya, etapi malah si doi ini yang sering2 disinggung n ditanyain sama Ibu saya. Elhadalah beberapa tahun kemudian takdir mempertemukan kami dipelaminan. Padahal saat ketemu pertama kali itu kami bener2 pure temenan. *dibahas.. ;))*

Begitulah intinya, ‘jangan remehkan feeling seorang Ibu’.

Dan ketika ‘here I am’ jadi seorang Ibu, saya sepertinya juga ngerasain keajaiban itu, walopun dalam skala richter yang lebih kecil. Semacam ada ‘panduan’ saat melakoni peran saya sebagai seorang Ibu. Ada semacam warning yang memberi tanda adanya bahaya, dsb. Saat anak saya sakit, feeling bahwa dia harus dibawa ke dokter, feeling dia sedang troble dengan dirinya, dia laper, haus, dan feeling-feeling yang lainnya. Dan menurut saya, sebenarnya ‘feeling seorang Ibu’ ini sudah built-in dalam diri seorang Ibu *sok teu /:) CMIIW*

Hmmhh… mikir panjanggg…

So, bagi yang berstatus ‘anak’  beruntunglah karena bisa mengaca dari kebeningan hati Ibu. Berbahagialah karena dari feeling beliau kita bisa belajar tentang kehidupan. Percayalah!
Dan untuk yang sudah naik status jadi Ibu, yuk maree lebih mengasah kepekaan kita tentang ‘feeling’ ini. Karena bisa jadi, itulah cara Tuhan menjaga anak-anak lewat tangan kita. What amazing, mother!

Saya juga pengennnn *triple n menunjukkan pengen banged* untuk bisa jadi Ibu yang feelingnya sebening dan semanjur almarhum Ibu saya. Amin…

Ujung, 02 Nop 2010

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: