Tulisan lama yang sayang untuk dilewatkan….(lupa blm diposting) 🙂

Saat itu ada even Kejuaraan Futsal di sekolah Mas Gangga, anak pertamaku. Dengan mata berbinar-binar dan antusiasme tinggi dia menceritakan detil kejuaraan yang akan diikutinya itu. Ternyata tidak semua siswa bisa ikut, karena tim dipilih dari Guru Pembina Olahraga. Dan dengan bangganya dia cerita kalau dipilih menjadi Kiper di salah satu Tim Junior yang akan bertanding.

Hari itu, siang yang semakin terik ternyata tak menyurutkan langkahnya untuk menikmati setiap pertandingan di Kejuraan Futsal yang bekerjasama dengan salah satu merk susu terkenal itu. Jujur saja sebenarnya saya nggak tega melihat pertandingannya. Justru saya yang grogi melihat dia bertanding, karena membayangkan bola lawan ada di depan gawangnya saja, perut saya mendadak mules tanpa sebab.

Beruntunglah saya, karena partai pertama pertandingannya berlangsung saat  saya harus menjemput adik yang masih duduk di bangku TK yang sekolahnya masih satu komplek dengan sekolah masnya, sehingga saya ketinggalan partai pertama itu.

“Yah Bunda ketinggalan, tadi mas sudah bertanding,” katanya sambil menghampiri saya.

“Iya, maaf Bunda harus jemput adik, Mas, gimana? menang?” tanyaku walaupun di sudut hati saya ikut lega tak harus melihat langsung pertandingannya.

“Ya Tim mas menang 1-0 Nda, nanti pertandingan finalnya!” katanya dengan peluh membanjir, dan wajah yang sudah semakin gosong aja.

Tim Junior yang bertanding ada 4 grup, yang Tim Senior juga 4 grup. Jadi saat partai pertama menang berarti harus bertanding lagi dengan sesama yang menang.

Akhirnya kami menunggui pertandingan finalnya, setelah para Senior bertanding, tibalah partai final Juniornya. Saya kuat-kuatkan untuk melihatnya bertanding. Saya menyemangatinya dengan mengacungkan dua jempol saya menyalurkan spirit untuknya. Walaupun hati kebat-kebit dan perut mules tak karuan. Saya tabah-tabahin hati untuk mendukungnya.

Ternyata lawannya kali ini sangat tangguh, banyak bola-bola yang mengancam gawangnya, walaupun sejauh itu dia mampu menangkapnya dengan baik, dan harus jatuh bangun, membuat mules perut ini sudah jadi kram, kejang-kejang! Dalam sebuah perebutan bola dia juga terjatuh di tengah lapangan, duhhh.. kenapa harus melihat fragmen ini ya? Walaupun begitu saya harus tetap mengacungkan dua jempol saya untuknya. Babak pertama masih imbang 0-0.

Istirahat 5 menit itu kumanfaatkan untuk menghampirinya dengan menyodorkan air minumnya. Nafasnya masih ngos-ngosan, dan guru pembimbingnya masih memberi arahan, seperti pertandingan bola sungguhan. Heheh..

Babak kedua dimulai. Perpindahan tempat, ternyata malah merugikan timnya karena didaerah yang menghadap matahari langsung sehingga kepanasan.  Dan di babak kedua pertandinganpun berjalan semakin seru dan panas. Tim lawan masih rajin menggocek bola di depan gawangnya. Saya semakin miris melihatnya. Dan dalam sebuah kesempatan salah satu anggota tim lawan yang paling cerdik tinggal berhadapan dengan mas Gangga sebagai kiper. Saya sudah tahan nafas, karena bola tinggal ceplos ke gawang, saya nggak tega melihatnya, sumpah!

Bola meluncur dengan cepat ke gawang, dia menjemput di sudut kiri, sementara bola melenggang ke arah kanan! Saya sudah menutup mata melihat momen itu. “Aduh gol!,” pekikku dalam hati. Tapi… tunggu!…, ajaib! bola itu membentur tiang gawang! oh..Tuhan…terima kasih! Horeee, ternyata tidak jadi gol!!! Saya jingkrak-jingkrak lupa daratan, tapi saya tak peduli, saya merasakan euphoria itu. Dan nggak tahan, langsung lari ke pinggir lapangan, walaupun kepanasan. Memberinya tambahan support.

Setelah momen gol yang gagal, ternyata tidak menyurutkan serangan lawan, bahkan lawannya lebih ganas. Saya memang mengakui materi permainan lawan jauh lebih bagus dan lincah dari permainan tim Mas Gangga, tapi sepertinya keberuntungan belum berpihak pada mereka sehingga sampai menit ini mereka belum sanggup menjebol gawangnya.

Para Ibu-ibu yangmenonton di pinggir lapangan kasak-kusuk memuji Kiper, alias Mas Gangga, saya yang mendengarnya jujur aja hidung jadi kembang kempis mendengarnya. “Untung ya kipernya pinter, jadi gawangnya selamat terus, padahal diserang terus kayak gitu, “ kata ibu disebelahku. Saya hanya tersenyum merekah  dan dengan hidung kembang kempis menanggapi pujiannya, dia nggak tahu kalo saya Bundanya. Kriukkkk…

Dalam sebuah kesempatan terjadi benturan cukup keras antar dua pemain, sehingga memaksa salah satu pemain lawan harus diusung keluar lapangan karena kakinya sedikit cedera. Siang semakin menyengat, saat akhirnya tim lawan mulai kendor perlawanannya. Peluang emas itu ternyata dibaca oleh temen-temen tim Mas Gangga, sehingga dalam sebuah colekan bola yang tak disangka, ternyata gol! Hore!!! Dan kemenangan siang itu disempurnakan dengan sebuah hadiah penalti untuk tim Mas Gangga karena ada pelanggaran di daerah penalti. Kedudukan akhirnya menjadi 2 -0 untuk tim Mas Gangga.

Saya memandang puas ke arahnya, dan memberi pelukan hangat, “Mas Gangga hebat!” pujiku tulus. Dia memang layak mendapat pujian itu karena ternyata tak hanya saya yang menyampaikan selamat padanya, dialah pahlawan di pertandingan itu. Menyelamatkan gawangnya tanpa gol, walaupun serangan lawan jauh lebih baik dan lebih banyak.

Pas perjalanan pulang kami asyik mengobrolkan pertandingan itu dan sekali lagi saya memujinya, “Mas Gangga hebat lo, Bunda bangga sama Mas Gangga!” kataku penuh semangat.

“Iya ta Bunda? tadi aku main bagus ta?” katanya.

“Iya mas Gangga mainnya gini!”, kataku sambil mengacungkan jempolku dengan antusias seolah sayalah yang menjadi juaranya. Seolah sayalah yang tadi bertanding mati-matian.

“Tapi menurut Mas Gangga, kok merasa biasa saja ya Bunda?,” katanya datar saja.

Saya jadi merasa tertohok dengan kalimatnya, saya merasa bersalah juga karena  terlalu banyak memujinya, terbawa euphoria kemenangannya yang dramatis. Saya memandangnya takjub, mungkin ini kesempatan besar buatku untuk terus mengobarkan api semangatnya agar tak cepat berpuas diri!

“Ya Sayang, memang harus selalu punya perasaan seperti itu, biar kita tak cepat berpuas diri, biar terus semangat meningkatkan kemampuannya, biar terus belajar, nggak cepat puas dengan apa yang dicapai, sehingga Mas Gangga akan semakin pinter nggak berhenti sampai disini!” kataku sambil memeluknya.

Hmmhh… anak yang masih berusia tujuh tahun dan baru duduk di bangku SD klas 2 itu mengajari saya apa arti juara sejati, yang tak pernah cepat berpuas diri, untuk terus meningkatkan kemampuan diri, menjadi lebih baik!. Yah Nak, Bunda harus mengakui kamulah Juara Sejati!

Pacarkembang, momen indah di bulan Mei 2010

Gambar diambil di sini 

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    w

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: