Benarkah Surga Di Telapak Kaki Ibu?


(maaf tulisan sudah agak lama)

Minggu lalu dalam dua hari saya bawa anak-anak ke kantor karena si Mbak yang jagain di rumah pulang, kakeknya meninggal. Ada senengnya bisa berdekat-dekat dengan anak-anak sepanjang waktu.

Adik Gautama dari pagi ikut saya ke kantor saya titipkan (emang barang apa dititipkan?) di TPA yang dikelola ibu-ibu Gita Pawestri , terus sepulang sekolah Mas Gangga dijemput suami dan diantar ke TPA kantor saya. Ribet ya?…  Resiko pilihan saya untuk menjadi Ibu bekerja.

Nah setelah jam kantor usai, sambil menunggu dijemput suami saya main dengan anak-anak di ruangan saya. Nah lagi asyik-asyiknya kami main, seorang temen yang kebetulan belum pulang juga nyeletuk, “Nggak salah memang kalau surga di bawah telapak  kaki ibu!” Hah?…

‘Surga ditelapak kaki Ibu’, sejak kecil kudengar akrab kalimat itu, dan baru kali ini aku mencerna dengan pelan-pelan. Bahkan tiba-tiba kaki saya jadi gringgingen (baca :
kesemutan). Aku kurang ngeh juga dengan ungkapan temen saya tadi, dia nyindir atau tulus hati mengungkapkan kalimatnya. Nyindir karena, “duh ngantor-ngantor bawa anak! ” atau
barangkali ucapan itu tulus disampaikan untuk saya *GR mode on* karena melihat betapa ribetnya menjadi seorang ibu, yang harus bela-belain bawa anak-anaknya ke kantor.

Apapun maksudnya aku pribadi tidak menghiraukannya, justru ungkapannya itu yang mengganggu pikiran saya seketika itu. Bahkan nggak sadar  saya liatin kaki saya, untung nggak rangen (jamuran, bhs Ind), benarkah surga ada dibawah sana? Dibawah kakiku? Karena
aku seorang ibu?….

Sungguh tanpa terasa malah seluruh badan saya jadi gringgingen, dan bergetar, dan hasil
getaran itu ternyata membuat saya menangis…. Mualuu yang teramat sangat menghinggapi diri saya.

Andai surga Kau tempatkan di hatiku yang paling indah sekalipun rasanya aku belum
pantas Rabb, apalagi di kakiku yang penuh daki. Maluuuuu rasanya membuat langkah saya semakin berat karena beban terlalu agung menyandang surga di kakiku….
Aku semakin tergugu dalam tangisku…

Ah sudahlah, jangan semakin membuatku bertambah malu, cukuplah berjanji, bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemaren!!

gambar diambil tanpa ijin dari sini

12.Maret.2008

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    w

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: