Mengaji Al Hikam (2)


Keinginanmu untuk lepas dari urusan duniawi, padahal Allah membekalimu dengan sarana penghidupan, adalah syahwat yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk mendapatkan sarana penghidupan, padahal Allah telah melepaskanmu dari urusan duniawi adalah suatu kemunduran dari cita-cita luhur. (Alhikam -2)

Kalau membaca ayat kedua Al Hikam ini panjenengan mengerutkan kening, berarti wajar, sayapun juga begitu. Gimana tidak? Intinya kan kalau kita melepas urusan duniawi, ndak usah kerja, ndak usah cari rejeki sampai jungkir balik, toh sudah ada yang menjamin rejeki kita, yaitu Allah Yang Maha Kaya, dan mempersembahkan hidup kita untuk bermasyuk manja denganNya itu adalah syahwat yang samar, dan tidak beradab. Sementara kalau kita ngotot untuk urusan duniawi, padahal urusan rejeki itu adalah hak mutlak Gusti Allah, maka kengototan itu tadi dianggap sebagai kemunduran dari cita-cita yang luhur untuk sampai kepadaNya.

So, bagaimana kita harus bersikap? Kalau terjemahan bebas saya ya, harus tetap ngotot kerja, jadi orang yang cukup (kaya), sehingga dengan harta kita bisa berbuat banyak. Saya masih tetep memandang orang-orang kaya yang berbuat banyak untuk sesama itu sesuatu yang keren, yang cihuy, pokoknya saya salut berattt.

Ada orang yang secara finansial cukup kemudian ia merawat anak-anak yatim di rumahnya -dirumahnya- bukan menyumbang panti asuhan. Ada pengusaha yang mempekerjakan orang-orang yang berkebutuhan khusus. Menggaji sama adil denganmereka yang normal. Orang yang menciptakan inovasi alam sehingga menghasilkan seperti di komunitas Ninetynine Trees, Kampung Rusa. Bagi saya orang-orang seperti itu yang sudah mampu menerjemahkan ayat kedua dari Al Hikam ini. Kita harus tetep kaya, untuk bisa berbagi dengan sesama dengan niatan mencari ridhoNya. Itu tujuan akhirnya. Ridho Allah. Kalau kekayaan hanya untuk pamer, untuk unjuk kemuliaan dirinya, untuk sekedar gaya hidup, untuk sekedar menjunjung harkat martabat, walaupun atas nama agama –sekali lagi agama- bukan atas nama Allah maka saya yakin akan sia-sia belaka. Karena agama bisa jadi hanya sebuah nama, bukan sesuatu yang kita imani didalam hati.  Wallahua’lam. Ilmu saya masih dangkal, mohon maaf.

Demikianlah, tetep bekerja sekuat kemampuan dengan tetep menyebut asmaNya dalam setiap langkah, meniatkan untuk mencari keridhoanNya, hanya Allah saja tujuannya, dan biarlah hasil ataupun gagal menjadi urusan Allah, tugas kita untuk menjalani proses sesempurna mungkin. Dan biarlah Allah sendiri yang memberi penilaianNya, karena semua menjadi tidak penting kecuali Cinta Allah. Untuk apa berkubang kemuliaan namun Allah tiada ridho, hanya kehinaan saja akhirnya. Naudzubillahimindalik.

2 Ramadhan 1432 H/ 2 Agustus 2011

Iklan



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: