biji yang bertunas


Malam itu barangkali menjadi puncak kewarasan saya sebagai seorang Ibu. Setelah hampir 2 bulan harus dijejali dengan laporan perkembangan anaknya yang ‘tidak baik’. Dari sikapnya yang arogan sehingga ditakuti teman-temannya, tentang prestasi kognitifnya walalupun bukan laporan ‘buruk’ tapi selalu dengan ending nilai rendah karena tidak mau menyelesaikan tugas yang diberikan dengan alasan capek nulisnya. Gregetan saya sudah dalam tingkat akut, sehingga jujur itu menyesakkan dada saya, seolah saya sendiri yang terteror.

Malam itu saya merasa sudah dalam titik kulminasi tak sanggup lagi dengan dosis dan takaran seberapa untuk menghadapinya. Hingga saya merasa ‘hidayah’ itu datang. Tiba-tiba saya ingin sekali bertemu dengan waka kesiswaan di sekolahnya. Seorang Ustadzah yang sangat bersahaja, namun selalu memberikan solusi jleb begitu saja. Saya mengenalnya ketika mas Gangga mengenal dunia Play Group. Saya selalu merasa punya ‘klik’ dengan beliau.

Singkat cerita sampailah saya dan Mas Guruh malam itu ba’da isya’ ditengah hujan yang cukup lebat mengguyur. Perumahan Bumi Madinah malam itu hening, ketika kami menjumpainya, dan mulailah sesi curhat saya dengan beliau. Setelah puas barulah beliau memaparkan hal-hal yang begitu makjleb aja buat saya. Orang bilang itu pencerahan.

Beliau selama ini ternyata juga selalu mengikuti perkembangan Gautama, bahkan mulai dari kelas 1. Gautama adalah tipe anak dengan pemikiran dominan otak kanan (sesuatu yg baru buat saya) dimana otak kanan memang cenderung dengan pemikiran abstrak, global, dan lebih ke art. Dia cenderung menghindari hal-hal yang rumit, sistematis, dan logic. Lebih lengkap gambaran otak kanan bisa di cek disini.

Jadi penanganan Gautama memang tidak bisa disamaratakan dengan yang lain. Ini hal yang membuat saya salut dengan sekolah ini. Dan ternyata kasus Gautama menjadi perhatian rapat dewan Guru (byuh ini bagian yg sedikit membuat lost confidence awalnya). Ternyata dari rapat dewan guru diputuskan bahwa Gautama membutuhkan pengajar yang bisa menyeimbangkan dominan otak kanannya. Dia dipindah ke kelas 2A karena Ustadzah di sana pemikirannya otak kiri banget ‘begitu istilah Ustadzah, sementara dikelas lamanya Gautama bertemu dengan Ustadzah yang pemikirannya cenderung sama dengannya. Dan itu kurang dianjurkan dengan beliau karena melihat sudut keseimbangan tadi.

Yang patut saya syukuri bahwa, sekolah ini ternyata tak hanya menuntut nilai kognitif dari anak didiknya, tapi perhatian mereka jauh sampai ke hal-hal yang cukup dalam. Mereka menggali potensi setiap anak dengan sangat rumit dan teliti. Itu membuat saya takjub sekaligus terharu.

Tak sedikit memang pengorbanan Ustadzah baru dengan saya untuk saling menyemangati (ngaku saya yang paling banyak disemangati) hamper setiap malam sebulan pertama dari kepindahannya selalu menjadi menu kami menjelang tidur. Mencari solusi dan dukungan kedua belah pihak. Segalanya menjadi mengalir begitu saja.

Ternyata semua memang butuh ujian, untuk meyakinkan bahwa kita sedang berada di jalur yang benar. Maka ujian itu datang, tepat sebulan atau minggu keempat kondisi semakin tidak membaik, bahkan hampir membuat saya putus asa. Karena tak sekedar bersikap kurang baik, tapi sikapnya sudah menjadi legenda di teman-temannya bahwa dia menakutkan, sering membuat temannya terluka, baik sengaja atau tidak. Bahkan ada seorang siswa yang curhat ke mamanya mau pindah sekolah saja karena tak tahan dengan perlakuannya. Sungguh robek hati saya, merasa sia-sia saja selama ini.

Suatu malam saya berbicara berdua saja dengannya, sambil berbaring menjelang tidur. Setelah membaca sms Ustadzah bahwa tadi di sekolah ia menabrak temannya yang kebetulan postur tubuhnya kecil dan mengakibatkan kakinya terkilir, bahkan akhirnya sampai seminggu tak masuk sekolah karena bengkak tak bisa berjalan. Dan kami mengakhiri sesi malam itu dengan saling peluk dan menangis, tapi ada janji disana untuk bisa menjadi lebih baik, menjaga sikap untuk lebih menyayangi temannya.

Sebagai pembelajaran saya mengajak Gautama untuk menjenguk kondisi temannya di rumahnya. Dia seperti tercenung melihat temannya berjalan ‘dhingklang’, saya melihat ada penyesalan disana dan semoga bukan penyesalan sesaat. Dan Alhamdulillah temannya juga tipe anak yang ‘sangat dewasa’ dengan tulus bilang kalau sakitnya ngga apa-apa. Dengan tulus dia dan keluarganya mamaafkannya. Insyaallah itu menjadi pembelajaran yang baik baginya.

Dari situ sepertinya meninggalkan jejak penyesalan di hatinya, namun saya juga tak mau kecolongan lagi. Setiap hari saya ‘menginterogasinya’ kegiatan di sekolah, dan apakah hari itu dia sudah menyayangi teman-temannya? Berbekal buku penghubung dari sekolah, saya dan Ustadzah berkomunikasi lebih intensif lagi, bahkan tidak tanggung-tanggung sms Ustdh bisa sampai 5 sms sekali menulis. Saya hanya merasa tidak enak dengan Ustdh walasnya ini, karena disekolah sudah direpotkan dengan urusan anak-anak didiknya dan tambahan perhatian untuk Gautama. Dan malam hari masih juga menjalani diskusi khusus  dengan saya, subhanallah. Tulus sekali pengorbanan beliau.

Hingga suatu malam penantian itu mulai berbuah, biji itu mulai bertunas, tanggal 15 feb 2013 sebuah sms datang pada jam 22.20 bunyinya seperti ini : ass. Bunda, maaf sms malam2. Saya belum bisa tidur. saya teringat kejadian di sekolah ttg ananda. Dalam mengerjakan tugas, ananda msh membutuhkan waktu yg lebih dr yg ditargetkan, ‘ustadzah, maaf ya saya mau tanya, hanya tanya saja kok, boleh gak tak buat PR’ dg santunnya ananda berkata kepada saya. Hr ini saya pun dibuat terharu sblm pulang ‘ustadzah, aku kan tadi belum selesai, ayo ustadzah, mana kertasnya? Mau tak kerjakan sekarang’ subhanallah makin hari saya terasa dibuat sayang kpd ananda. Semoga ananda bisa menjadi kebanggaan ayah&bunda, n kebanggaan buat kami. Salam saya tuk ananda. Met istirahat.’

Membutuhkan 4 sms untuk menuliskan tulisan yang cukup panjang itu, dan ketika membacanya membuat dunia saya terasa berjeda, berhenti sejenak, dan sukses membuat menangis. Duhai sesungguhnya janjiMu selalu benar, hanya kadang batas kesabaran hati ini menjadi penghalang atas turunnya rahmatMu. Terimakasih Rabb atas sajian istimewa dalam selipan episode hidup saya.

Ungkapan cerita yang mungkin sederhana bagi orang lain, tapi perkembangan itu sangat bermakna bagi kami, yang tiap malam sangat intens membicarakan perkembangannya. Dan ternyata itu menjadi martir yang sangat hebat untuk mendongkrak pede pada keyakinan saya sendiri. Duhai para bunda, seberapa kuat kita bisa meyakinkan diri kita sendiri bahwa anak-anak kita mampu dan istimewa maka sekuat itulah do’a-do’a kita memberkahi kehidupannya, duhai dahsyatnya.

Pacarkembang, awal maret 2013

special thanks to Mas Guruh, tanpa sepenuh dukunganmu I’m nothin’

insyaallah oksigen kita selalu dengan cinta murni

Iklan

  1. Sinta Nisfuanna

    berharap nanti bisa nemu sekolah seperti itu

  2. potrehkoneng

    aku mewek moco iki mbak 😦

  3. lha lapo mewek? kakehan nonton drama korea kui..:|
    :)) :))
    suwun yo sdh mampir…:)

  4. kita mmg selalu diberi “pelajaran berharga” dr Allah melalui malaikat2 kecil itu. Sukses ya mbak




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: