Archive for the ‘cerpen bahasa ind’ Category


Sampeyan sudah pernah denger nggak, kalau harga seekor tokek dengan berat badan tertentu bisa mencapai sepuluh digit? Hmhhh… Fenomena konon *konon adalah sumber yang tidak dapat dipercaya* itu sedikit banyak mengusik para pemimpi di negeri ini. Salah satunya sebut  saja Mas Parjo. Lanjut Baca »


Alkisah tersebutlah seorang penjual kue Lumpia, Pak Bejo namanya. Ia juga seorang pengajar ngaji anak-anak kecil di sekitar rumahnya. Ia menempati rumah atau lebih tepat disebut kamar kos-kosan sempit, kira-kira berukuran 3 m2. Di kamar itulah dia hidup dengan istri tercintanya. Tempat ia tidur, masak, dan  sekaligus juga digunakan sebagai tempat mengaji anak-anak kecil disekitar tempat tinggalnya. Karena tempat yang sangat sempit itu membuat anak-anak sebelum mengaji harus meminggirkan peralatan yang berada di tempat tersebut. Namun mereka enjoy saja dengan keadaan tersebut.

Suatu hari Pak Bejo berkata pada Istrinya, “ Bune seandainya kita bisa membeli tanah di gang depan itu, mungkin anak-anak akan lebih nyaman mengajinya, Kadang saya kasihan melihat anak-anak harus berhimpitan saat mengaji.”, angan-angan Pak Bejo. Tanah yang dimaksud adalah sebidang tanah kosong milik Pak Haji Ali berukuran 5 x 11 m, berada kurang lebih 50m dari kos-kosannya. Dan apa jawab istrinya ketika Pak Bejo mengutarakan mimpinya, “Alah Pak, uang apa dan darimana buat beli tanah itu?”, sungut istrinya. Pak Bejo hanya diam menanggapi istrinya, dan hati kecilnya membenarkan perkataan istrinya, mengingat pekerjaannya hanya penjual kue Lumpia yang hasilnya hanya pas-pasan buat makan sehari-hari. Lanjut Baca »


Rindu itu begitu menusuk-nusuk kalbuku karena hampir setahun nggak pulang, ketika di bis menuju perjalanan pulang ada sesuatu yang aneh menjalari hatiku. Menjalar pelan seiring laju bis, semakin mendekat kota tujuanku semakin kuat perasaan aneh itu mengalir. Entah, pulang selalu membawa sejuta warna bagi hatiku. Senyum ibu, wajah ayah, tergambar jelas di depanku. Rasanya kangen sekali, mungkin rasa kangen itu yang menimbulkan rasa aneh di hatiku. Aneh tapi rasanya nyaman. Karena kesibukan kuliah dan kerja membuatku menunda kepulanganku. Menunggu momen pas dan longgarnya waktuku. Dan sekarang disaat Ramadhan menjelang, sengaja aku mengambil cuti seminggu dan kebetulan kuliahku selesai ujian. Kesempatan emas tak kusia-siakan. Rasanya lama sekali tak melahap pepes ikan mas bikinan ibu, ditambah sayur asem, dan tempe goreng plus sambel terasi. Uih…nggak terasa aku menelan air liurku. Rasanya kangen ini telah membuncah…! nglanjut?..klik aja!..