Kemaren sore saya chatting dengan kakak iparku yang di Jakarta, saling ‘curcol’ saling menguatkan, hmmhh… walaupun dia kakak ipar namun hubungan kami serasa istimewa, selain saya memang gak punya kakak kandung perempuan karena saya satu-satunya perempuan dari empat bersaudara.

Continue Reading »

Untuk Kesekian kalinya surat cinta itu hadir, dengan efek yang menggetarkan. Meresapinya  menghirupnya pelan-pelan dan menghembuskannya dengan penuh perasaan. Laiknya ABG akupun menepi sendiri dalam ruang sunyi yang tercipta, menikmati surat cinta itu, dan tersenyum-senyum sendiri, dengan penuh arti.  Dan betapa itu menghasilkan letupan energi yang dahsyatnya tak terbahasakan. Continue Reading »
Saat saya mengandung Gautama, anak keduaku, saya pernah mengikuti sebuah seminar keluarga di Hotel Shangrila. Dalam seminar itu saya merasa mendapatkan banyak ilmu, dari pembicara pertama hingga pembicara terakhir. Dr Ton, dokter obgyn yang cukup senior di Surabaya membuka seminar dengan gaya dagelannya yang khas, tapi justru dengan gayanya itu ilmu yang disampaikan kepadaku menjadi mancep. Sesi kedua diisi oleh seorang psikiatri Dr. Josephin –kalau tak salah-. Beliau menjelaskan tentang perkembangan anak dengan segala problematika yang sering muncul, dan mencari solusi jitu menghadapi permasalahan tersebut dari sisi psikologi. Beliau ini sempat membuatku iri dengan slide-slide hasil karya anak-anaknya bahkan ungkapan-ungkapan cinta si anak buat mamanya. Menyentuh sekali! Sempat terpikir “Kapan ya dapat surat begituan dari anakkku!
Dunia anak-anak adalah sebuah dunia dengan dinamika ajaib. Perselisihan mereka adalah sebuah perselisihan dengan udara cinta. Bila tak percaya cobalah perhatikan, setiap kali mereka berkonflik sedetik kemudian mereka menjelma menjadi sahabat sejati. Setiap kali mereka berselisih paham tak sampai semenit mereka akan berpelukan seolah tak pernah ada dosa diantara mereka. Dan sejujurnya orang dewasa tak mampu melampaui maqam mereka dalam penyelesaian konflik. Jiwa mereka masih sangat fitri, dan hanya cinta yang bersemayam dihati mereka. Maka peringatan bagi orangtua untuk jangan ikut cawe-cawe dalam konflik mereka, karena cinta itu akan terkotori, kefitrian itu akan ternoda. Continue Reading »

Resep nasi goreng saya ini cocok buat ibu bekerja seperti saya, karena bisa dimasak dalam sekejap dan yang penting dijamin nggak ada ribetnya, tidak ninggalin tempat-tempat kotor yang banyak sehingga acara cuci-cuci piringnya jadi lama, nggak deh! Dan yang paling utama rasanya nendang abis! Para bapak juga bisa mencoba karena resep nasi goreng saya so very simple. Awalnya karena mas Gangga hobi banget makan nasi goreng, dan saya rada-rada jealous dengan tukang nasi goreng yang begitu dicintai mas Gangga karena terus terang saja nasi goreng saya nggak enak –itu sebelum saya menemukan resep ini-. Continue Reading »

berdua di pantai sineMembandingkan anak-anak adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh para pemerhati anak-anak baik psikolog, psikiatri, maupun pembimbing konseling. Namun tak bisa dipungkiri bagi ibu-ibu yang telah mempunyai lebih dari satu anak pasti sering melakukan walaupun mungkin terbatas pikiran di kepala.
Titipan Liburan
Sebenarnya sudah sedikit terlambat tulisan ini, karena liburan telah usai. Namun saya pikir lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Sekali mutiara tetaplah akan menjadi mutiara kapanpun dia digosok. Momen ini adalah ketika saya usai mengambil raport di sekolah Mas Gangga, ketika Kepala Sekolah menyapa Mas Gangga, beliau tahu itu anak didiknya walaupun tidak menggunakan seragam. Entah bagaimana beliau mengenali sosok anak didiknya, mungkin dari baunya kali ya? Hehehe….
“Gimana raportnya Mas Gangga?, Bagus?” tanya beliau. Kalau pertanyaan beginian harus Bunda nih yang ngejawab.
“Alhamdulillah Ustadz, selalu ada perkembangan baik,” jawab saya.
Ya saya patut bersyukur bahwa ketika awal masuk sekolah Mas Gangga termasuk siswa yang belum bisa baca tulis. Hanya bermodal minat dan antusiasnya. Dan syukurlah  dengan modal pemahamannnya yang baik dia mampu mengejar ketertinggalan. Bahkan dia sangat enjoy saat Ustadzah dikelas harus memberinya tambahan pelajaran Bina Prestasi seusai sekolah. Hasilnya … Subhanallah sejak semester satu Ayahnya selalu komentar, “Bener ta ini nilainya Gangga?” dan sejujurnya saya sendiri juga sedikit kurang percaya melihat gaya slenge’an mas Gangga saat di rumah. Pelajaran buat Bunda jangan memberi penialian underestimate terhadap anak sendiri.
Terutama dalam hal pelajaran eksakta seperti matematika dan komputer saya nilai dia sangat bagus pemahamannya. Bukan hasil akhirnya yang kutonjolkan, namun cara dia memahami suatu soal atau permasalahan itu yang kadang membuat saya sedikit exciting. Walaupun di semester akhir kelas satu ini justru matematikalah nilai terendahnya, 8.8. Persoalannya dia terlalu PD dengan pelajaran satu ini, sehingga dia kurang teliti dengan jawaban akhirnya. Pelajaran buat Bunda jangan terlalu pede dengan kemampuan anaknya sehingga mengurangi kekhusyuan Bunda mendo’akannya –jujur yang ini memang iya- Jadi pelajaran buat Bunda segala sesuatu haruslah dalam koridor yang sedang-sedang saja.
Kembali ke Kepala Sekolah yang sempat ditinggal beberapa saat ini.
“Wah liburan panjang nih, Mas Gangga, mau kemana?”tanya pak Kepsek.
“Belum ada rencana Ustadz, mungkin sementara masih dirumah saja,” jawab saya sambil merangkul kepala Mas Gangga yang senyam senyum malu.
“Yah…selamat berlibur ya?, Ibu mungkin saya titip pesen saja buat liburan Mas Gangga, titip sholat dan ngajinya jangan ketinggalan,” ucap beliau.
Subhanallah…asli saya sudah siap dengan titipan klise macam, hati-hati, nanti kembali ke sekolah dengan fresh dsb. Asli tak terpikir bahwa titipan liburan itu adalah sholat dan ngajinya mas Gangga. Terima kasih Ustadz sudah mengingatkan saya dengan titipan sederhana tapi berat itu.
Sholat dan ngaji mas Gangga asli masih bolong-bolong. Kalau diingatkan baru mau melaksanakan, kalau tidak ada yang ngingetin yah bablas wewsss ewess ewesss… Semoga liburan kali ini memang banyak memberi manfaat bagi perkembangan mental spiritualnya, terutama agar bisa menegakkan sholat dan ngajinya dengan tanpa paksaan.
Karena saya memang sangat anti memaksakan segala sesuatu yang belum bisa dipahamkan dengan kemauan dan kesadarannya sendiri. Kami orangtua hanyalah pendorong dan sesekali pengingat saat dia lupa. Kami tak ingin karena pemahamannya belum sampai dia menjalankan sholat dan ngajinya tanpa bobot rasa yang mengiringinya. Karena justru akan memberatkan tugas kami sebagai orangtua. Takutnya dia melakukan sholat dan nagjinya saat ada kami, dan ketika kami tak berada disampingnya dia meninggalkannya, naudzubillahimindalik. Semoga pemahamnnya tertancap kuat dalam ruang cinta, sehingga apapun yang dia lakukan adalah karena ada cinta disana, cinta kepada yang Maha Mencintai. Bi Barakatillah.
Finished 24.10.09
Sebenarnya sudah sedikit terlambat tulisan ini, karena liburan telah usai. Namun saya pikir lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Sekali mutiara tetaplah akan menjadi mutiara kapanpun dia digosok. Momen ini adalah ketika saya usai mengambil raport di sekolah Mas Gangga, ketika Kepala Sekolah menyapa Mas Gangga, beliau tahu itu anak didiknya walaupun tidak menggunakan seragam. Entah bagaimana beliau mengenali sosok anak didiknya, mungkin dari baunya kali ya? Hehehe…. Continue Reading »
Aku mengenal dunia maya sekitar akhir tahun 1999-an saat masih mengerjakan proyek di Jakarta. Perkenalan perdana itu masih sebatas email dan browsing. Itupun dengan account email yang dibuatkan seorang sahabatku, Bisri. Ketika proyek itu selesai kukerjakan saya harus kembali ke base camp, atau kantor pusatku di Surabaya, saya harus puas dengan menghentikan aktifitasku di dunia maya karena di kantorku ini memang belum tersedia jaringan internet.  Sampai-sampai teman-temanku yang rajin mengirimiku email harus komplain karena tidak bisa lagi mengirimiku email karena account emailku sudah terlalu penuh, yang ternyata juga terblokir karena lalu lama tak dibuka.  Barulah sekitar tahun 2002 ketika aku pindah ke Departemen Humas di perusahaanku aku bisa mengakses internet kembali. Account yang telah mati suri itu segera kuaktifkan lagi, dengan ribuan email yang masuk. Rasanya lega, suer!
Aku pernah membaca artikel tentang blog di majalah Intisari. Rasanya tertarik sekali pengen membuat blog, secara saat-saat itu aku mulai sering menulis, menulis tentang keseharian, semacam diary yang kusimpan di folder fileku. Maka segera kucari tahu tentang pembuatan blog ini. Dulu mengenal email aja serasa menemukan ‘keajaiban’ karena kecepatannya mengirim berita. Apalagi sekarang ketemu yang lebih ajaib lagi, karena berbagai tulisan kita bisa berkibar di dunia maya. Rasanya amazing banget, apalagi ketika tulisan itu mendapat komentar. Rasanya puas yang tak terbahasakan.
Awal pembuatan blog ini sangatlah rumit, karena aku benar-benar membuat dengan otodidak, tak seorangpun yang membantuku, kalaupun membantu paling sebatas pertanyaan, “Kalau mau menampilkan menu seperti di blog si A gimana?” kemudian si temen tadi memberi sebuah link kepadaku untuk belajar sendiri. Awalnya sebel juga dengan cara dia mengajariku, maunya aku to the point aja biar gak ribet, namun belakangan aku baru merasakan cara mentoringnya yang seperti itu, karena ternyata itu membuatku melek dengan dunia blogging. Narsisnya, ‘aku jadi lebih pinter’ dengan cara dia mengajariku. Awalnya aku membuat blog di blogspot, dimana Blogger lebih memungkinkan kita berkreasi sepuasnya. Asalkan kita menguasai bahasa HTML. Dan untunglah banyak para blogger yang menuliskan tips-tips untuk merangkai sebuah menu. Walaupun tinggal copas (Copy paste) tapi bila kita tidak mengetahui sedikit banyak tentang bahasa html maka juga akan kesulitan. Saat itu pemilik layanan blog seperti Blogger belum membuat versi bahasa Indonesia sehingga harus sedikit terbata-bata membaca suatu perintah membuat menu di blog, secara Inggrisku tak bergrammar.  Jadilah aku mupeng dengan dunia blog ini selama lebih dari dua bulan. Blogger sebagai pemilik layanan blogspot juga belum se-simple sekarang, saat ini layanan blogspot, dan WordPress sudah sangat memadai untuk membuat tampilan blog kita jadi ciamik soro! Karena ingin menu seperti apa tinggal mengcreate dari dashboard kita tanpa susah-susah menjejalkan berbagai perintah bahasa html, karena fasilitas itu semua sudah tersedia. Kecuali memang kita maniak berdandan di blog tentu blogspot masih membuka peluang itu.
Jadilah pertengahan tahun 2006 aku mencoba menguprek blog, dan alhasil pada bulan September 2006 beberapa tulisanku berhasil nangkring di siuhik.blogspot.com.  Hasil postingan perdana itu tak membuatku puas, karena aku terus menguprek blogspotku hasil dari blogwalking. Dari acara jalan-jalan di dunia maya itu membuatku selalu merasa kurang dengan tampilan blogku, sampai rasanya pusingggg sekali kalau belum bisa memecahkan sebuah hasil tampilan. Dari mengupload foto, membuat root menu, menampilkan kalender, membuat tulisan berjalan, sampai tempelan-tempelan unik lainnya, dulu harus kukerjakan sendiri dengan mencari menu-menu aplikasi dari blog-blog para pakar blogspot. Yang sering saya buka ada blog dari Anang, Kang Kombor, Kang Arif, dsb. Dan dari Kang Kombor pula akhirnya saya bermigrasi ke WordPress, karena terkena iming-iming bahwa di WordPress walaupun tak sebebas Blogspot namun lebih simple, dan juga karena dijanjikan bahwa tulisan saya di Blogspot bisa diekspor atau diunduh ke WordPress. So artikel yang telah terkumpul dari blogspot bisa langsung nangkring di alamat wordpressku lengkap tak tertinggal secuilpun, kecuali komentar-komentar dari Oggyx di blogspotku. Akhirnya dengan BIsmillah kulaunching rumahku di dunia maya yang beralamatkan cahayabintang.wordpress.com. Dan sesuai dengan iming-iming diatas aku memang bisa mengekspor semua fileku ke wordpress dengan langkah yang sangat mudah, semudah membalik telapak tangan *soriii bukan iklan* hingga sekarang aku yang memang lebih berkonsep minimalis lebih nyaman untuk tinggal di perkampungan wordpress. Lebih simple, ga suka rese’ dan yang lebih penting lebih mudah untuk memposting tulisan. Walaupun sekarang blogspot maupun multiply juga tak kalah ciamiknya, semua kembali pada selera.
Untuk dunia jejaring sosial aku masih mempertahankan ID YMku siuhik, karena sejak awal lebih familiar dengan beliaunya itu. Untuk masuk ke layanan semacam facebook, twitter, n so on yang sekarang buanyak sekali aku belum tertarik. Dengan dua dunia blogging n chatting saja aku merasa sudah cukup, sehingga undangan yang banyak banget masuk di imel dari FB, Twitter n so on dengan terpaksa aku tolak semua, maaf!
Begitulah dunia maya merambah diriku, tapi akupun merasakan aku tidak membabi buta. Mungkin karena aku telah mengenalnya lama sehingga setiap ada layanan baru tak serta merta aku membabi buta. Aku setia dengan apa yang ada, bukan berarti aku tak mengikluti perkembangan dunia maya, tapi entahlah aku merasa itu belum kuperlukan saat ini. Aku berusaha untuk tidak ndeso. Setiap ada yang baru jadi berbondong-bondong seolah besok akan kehabisan, sehingga dianggap ga gaul. Tapi semua itu hak mereka, dan aku menghargainya seperti aku juga ingin dihargai dengan pilihanku.
Dunia menulis seolah nyawa bagiku, tak menulis sehari rasanya kepala ini jadi pening. Walaupun tulisan itu masih tulisan sederhana bukan untuk komersial tapi aku puas, aku bahagia bisa menulis sehingga dunia blogging tetaplah menjadi prioritas utamaku. Entah sampai kapan. Tapi rasanya tak mungkin aku tinggalkan.
Finished Ujung, 08.10.09
Aku mengenal dunia maya sekitar akhir tahun 1999-an saat masih mengerjakan proyek di Jakarta. Perkenalan perdana itu masih sebatas email dan browsing. Itupun dengan account email yang dibuatkan seorang sahabatku, Bisri. Ketika proyek itu selesai kukerjakan saya harus kembali ke base camp, atau kantor pusatku di Surabaya, saya harus puas dengan menghentikan aktifitasku di dunia maya karena di kantorku ini memang belum tersedia jaringan internet.  Sampai-sampai teman-temanku yang rajin mengirimiku email harus komplain karena tidak bisa lagi mengirimiku email karena account emailku sudah terlalu penuh, yang ternyata juga terblokir karena lalu lama tak dibuka.  Barulah sekitar tahun 2002 ketika aku pindah ke Departemen Humas di perusahaanku aku bisa mengakses internet kembali. Account yang telah mati suri itu segera kuaktifkan lagi, dengan ribuan email yang masuk. Rasanya lega, suer!

Dialog di Mall

Dialog ini sebenarnya memang tidak untuk diikuti, namun tak ada salahnya kubagi, sebagai sebuah pembelajaran. Siang itu aku mengantar seorang sahabat ke mall saat jam istirahat kantor, sekalian membeli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk ikut dengannya.KAtanya mau beli baju buat anak-anaknya. Aku yang mendengar alasannya sedikit rada nyinyir, tapi kupendam aja, mengingat hak seseorang untuk membelanjakan hartanya.
Sesiang itu kami hilir mudik mencari kebutuhan masing-masing, aku yang memang tak banyak yang ingin kubeli akhirmya mengekor dibelakangnya. Lagi sibuk-sibuk memilih baju, aku berkata padanya, “Ngapain sih orang-orang ini setiap lebaran harus sibuk dengan baju baru, dengan sepatu baru, pokoknya harus serba baru deh!”
Sambil masih memilih-milih baju di kapstok dia menjawab, “Memang kenapa? Khan justru disunnahkan untuk mencari yang terbaik buat dikenakan saat lebaran?” katanya.
“Yah tapi kan nggak harus yang baru? Ngapain maksa-maksain beli yang baru?” kataku.
“Nyindir nih ceritanya?” katanya ngerasa disindir.
“Syukur kalo ngerasa disindir.” jawabku dengan bercanda karena aku tahu kami memang sedang bercanda.
“Gini ya dek, kalau saya sih, memang selalu mencari baju baru saat lebaran, minimal buat anak-anak, untuk aku dan suami bolehlah kalau masih ada lebihnya. Karena memang kita disyariatkan untuk memakai yang terbaik saat Idul Fitri. Nah kalau kami memang baru bisa beli baju baru saat lebaran karena memang baru ada lebihnya rejeki kenapa tidak? Jadi niatan saya membelikan baju anak-anaak mencoba menegakkan anjuran Rasulullah itu, bukan buat sekedar gaya-gayaan, bukan buat mewah-mewahan, karena yang aku beli juga bukan baju yang mewah-mewah, biasa aja deh kayaknya!” katanya rada senewen.
“Jadi jangan nyinyirlah kalau memang ada banyak orang berbondong-bondong membeli baju baru saat lebaran, karena bisa jadi memang mereka baru bisa membeli baju saat lebaran seperti ini dan untuk menegakkan sunnah tadi, jangan salah menilai orang!” lanjutnya sejurus kemudian.
Aku jadi terdiam, ada benarnya juga yang dia katakan.
Kami meneruskan perjalanan, yang tanpa sengaja melewati foodcourt, yang siang itu terasa ramai, sesak bahkan.
“Hmmh, tega betul ya mereka menodai Ramadhan, padahal sudah jelas-jelas Allah mengharamkan makan dan mimun di siang hari saat Ramadhan,” katanya.
“Heh, jangan salah mbak, kok gantian mbak yang nyinyir? Kan bisa jadi mereka non muslim, atau lagi berhalangan, jangan sok deh!” kataku lagi. Gatal juga telinga mendengar omelannya kali ini.
“Yah emang sih, cuma seandainya mereka tahu kemuliaan Ramadhan, saya sempet salut ama temenku yang walaupun dia berhalangan dia tetap tak makan minum disiang hari, dia ikut sahur, dan berbuka juga waktu Maghrib. Dia bilang semua dilakukan karena dia sangat menghormati bulan Ramadhan.” katanya.
“Lah ngapain? Kan haram hukumnya bagi wanita kalau puasa sedang berhalangan ?” dengan pedenya aku menyanggah.
“Iya , dia juga tahu lah kalau puasanya hari itu dihitung haram, dia juga tidak meniatkan untuk puasa Ramadhan, tapi karena begitu hormatnya dia dengan bulan itu sehingga dia menghormati dengan caranya untuk tetap tak makan dan minum saat siang hari,  jadi dia memang semata-mata menghormati waktu Ramadhannya, dan tetap mengganti puasanya sebanyak dia berhalangan itu. Wallahua’lam, tapi saya sangat menghargai pendapatnya, dan mengikuti ijtihadnya untuk menghormati waktu di bulan Ramadhan ini.” lanjutnya.
Untuk kedua kalinya aku terdiam, dan sejujurnya membenarkan pendapatnya. Kulirik orang-orang yang tengah melahap makanannya, yang ternyata banyak juga dari mereka yang berjilbab.
Darinya aku belajar untuk bisa melihat sisi lain dari sebuah permasalahan, untuk tidak selalu menjudge segala sesuatu. Walaupun dengan berpendapat begitu aku juga harus siap untuk dicap sebagai orang yang tak berprinsip. Namun aku mencoba berangkat dari satu hal bahwa tak harus terus menyalahkan, karena bisa jadi merekalah yang benar! Sehingga tak selalu membuatku terheran-heran melihat banyak fenomena kehidupan terutama kehidupan beragama. Mungkin hal itu mengajariku tentang kearifan. Wallahua’lam.
Pacarkembang 5 Oktober 2009
Dialog ini sebenarnya memang tidak untuk diikuti, namun tak ada salahnya kubagi, sebagai sebuah pembelajaran. Siang itu aku mengantar seorang sahabat ke mall saat jam istirahat kantor, sekalian membeli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk ikut dengannya.KAtanya mau beli baju buat anak-anaknya. Aku yang mendengar alasannya sedikit rada nyinyir, tapi kupendam aja, mengingat hak seseorang untuk membelanjakan hartanya.
Sesiang itu kami hilir mudik mencari kebutuhan masing-masing, aku yang memang tak banyak yang ingin kubeli akhirmya mengekor dibelakangnya. Lagi sibuk-sibuk memilih baju, aku berkata padanya, “Ngapain sih orang-orang ini setiap lebaran harus sibuk dengan baju baru, dengan sepatu baru, pokoknya harus serba baru deh!”
Sambil masih memilih-milih baju di kapstok dia menjawab, “Memang kenapa? Khan justru disunnahkan untuk mencari yang terbaik buat dikenakan saat lebaran?” katanya.
“Yah tapi kan nggak harus yang baru? Ngapain maksa-maksain beli yang baru?” kataku.
“Nyindir nih ceritanya?” katanya ngerasa disindir.
“Syukur kalo ngerasa disindir.” jawabku dengan bercanda karena aku tahu kami memang sedang bercanda.
“Gini ya dek, kalau saya sih, memang selalu mencari baju baru saat lebaran, minimal buat anak-anak, untuk aku dan suami bolehlah kalau masih ada lebihnya. Karena memang kita disyariatkan untuk memakai yang terbaik saat Idul Fitri. Nah kalau kami memang baru bisa beli baju baru saat lebaran karena memang baru ada lebihnya rejeki kenapa tidak? Jadi niatan saya membelikan baju anak-anaak mencoba menegakkan anjuran Rasulullah itu, bukan buat sekedar gaya-gayaan, bukan buat mewah-mewahan, karena yang aku beli juga bukan baju yang mewah-mewah, biasa aja deh kayaknya!” katanya rada senewen.
“Jadi jangan nyinyirlah kalau memang ada banyak orang berbondong-bondong membeli baju baru saat lebaran, karena bisa jadi memang mereka baru bisa membeli baju saat lebaran seperti ini dan untuk menegakkan sunnah tadi, jangan salah menilai orang!” lanjutnya sejurus kemudian.
Aku jadi terdiam, ada benarnya juga yang dia katakan.
Kami meneruskan perjalanan, yang tanpa sengaja melewati foodcourt, yang siang itu terasa ramai, sesak bahkan.
“Hmmh, tega betul ya mereka menodai Ramadhan, padahal sudah jelas-jelas Allah mengharamkan makan dan mimun di siang hari saat Ramadhan,” katanya.
“Heh, jangan salah mbak, kok gantian mbak yang nyinyir? Kan bisa jadi mereka non muslim, atau lagi berhalangan, jangan sok deh!” kataku lagi. Gatal juga telinga mendengar omelannya kali ini.
“Yah emang sih, cuma seandainya mereka tahu kemuliaan Ramadhan, saya sempet salut ama temenku yang walaupun dia berhalangan dia tetap tak makan minum disiang hari, dia ikut sahur, dan berbuka juga waktu Maghrib. Dia bilang semua dilakukan karena dia sangat menghormati bulan Ramadhan.” katanya.
“Lah ngapain? Kan haram hukumnya bagi wanita kalau puasa sedang berhalangan ?” dengan pedenya aku menyanggah.
“Iya , dia juga tahu lah kalau puasanya hari itu dihitung haram, dia juga tidak meniatkan untuk puasa Ramadhan, tapi karena begitu hormatnya dia dengan bulan itu sehingga dia menghormati dengan caranya untuk tetap tak makan dan minum saat siang hari,  jadi dia memang semata-mata menghormati waktu Ramadhannya, dan tetap mengganti puasanya sebanyak dia berhalangan itu. Wallahua’lam, tapi saya sangat menghargai pendapatnya, dan mengikuti ijtihadnya untuk menghormati waktu di bulan Ramadhan ini.” lanjutnya.
Untuk kedua kalinya aku terdiam, dan sejujurnya membenarkan pendapatnya. Kulirik orang-orang yang tengah melahap makanannya, yang ternyata banyak juga dari mereka yang berjilbab.
Darinya aku belajar untuk bisa melihat sisi lain dari sebuah permasalahan, untuk tidak selalu menjudge segala sesuatu. Walaupun dengan berpendapat begitu aku juga harus siap untuk dicap sebagai orang yang tak berprinsip. Namun aku mencoba berangkat dari satu hal bahwa tak harus terus menyalahkan, karena bisa jadi merekalah yang benar! Sehingga tak selalu membuatku terheran-heran melihat banyak fenomena kehidupan terutama kehidupan beragama. Mungkin hal itu mengajariku tentang kearifan. Wallahua’lam.
Pacarkembang 5 Oktober 2009
Dialog ini sebenarnya memang tidak untuk diikuti, namun tak ada salahnya kubagi, sebagai sebuah pembelajaran. Siang itu aku mengantar seorang sahabat ke mall saat jam istirahat kantor, sekalian membeli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk ikut dengannya.KAtanya mau beli baju buat anak-anaknya. Aku yang mendengar alasannya sedikit rada nyinyir, tapi kupendam aja, mengingat hak seseorang untuk membelanjakan hartanya.
Sesiang itu kami hilir mudik mencari kebutuhan masing-masing, aku yang memang tak banyak yang ingin kubeli akhirmya mengekor dibelakangnya. Lagi sibuk-sibuk memilih baju, aku berkata padanya, “Ngapain sih orang-orang ini setiap lebaran harus sibuk dengan baju baru, dengan sepatu baru, pokoknya harus serba baru deh!”
Sambil masih memilih-milih baju di kapstok dia menjawab, “Memang kenapa? Khan justru disunnahkan untuk mencari yang terbaik buat dikenakan saat lebaran?” katanya.
“Yah tapi kan nggak harus yang baru? Ngapain maksa-maksain beli yang baru?” kataku.
“Nyindir nih ceritanya?” katanya ngerasa disindir.
“Syukur kalo ngerasa disindir.” jawabku dengan bercanda karena aku tahu kami memang sedang bercanda.
“Gini ya dek, kalau saya sih, memang selalu mencari baju baru saat lebaran, minimal buat anak-anak, untuk aku dan suami bolehlah kalau masih ada lebihnya. Karena memang kita disyariatkan untuk memakai yang terbaik saat Idul Fitri. Nah kalau kami memang baru bisa beli baju baru saat lebaran karena memang baru ada lebihnya rejeki kenapa tidak? Jadi niatan saya membelikan baju anak-anaak mencoba menegakkan anjuran Rasulullah itu, bukan buat sekedar gaya-gayaan, bukan buat mewah-mewahan, karena yang aku beli juga bukan baju yang mewah-mewah, biasa aja deh kayaknya!” katanya rada senewen.
“Jadi jangan nyinyirlah kalau memang ada banyak orang berbondong-bondong membeli baju baru saat lebaran, karena bisa jadi memang mereka baru bisa membeli baju saat lebaran seperti ini dan untuk menegakkan sunnah tadi, jangan salah menilai orang!” lanjutnya sejurus kemudian.
Aku jadi terdiam, ada benarnya juga yang dia katakan.
Kami meneruskan perjalanan, yang tanpa sengaja melewati foodcourt, yang siang itu terasa ramai, sesak bahkan.
“Hmmh, tega betul ya mereka menodai Ramadhan, padahal sudah jelas-jelas Allah mengharamkan makan dan mimun di siang hari saat Ramadhan,” katanya.
“Heh, jangan salah mbak, kok gantian mbak yang nyinyir? Kan bisa jadi mereka non muslim, atau lagi berhalangan, jangan sok deh!” kataku lagi. Gatal juga telinga mendengar omelannya kali ini.
“Yah emang sih, cuma seandainya mereka tahu kemuliaan Ramadhan, saya sempet salut ama temenku yang walaupun dia berhalangan dia tetap tak makan minum disiang hari, dia ikut sahur, dan berbuka juga waktu Maghrib. Dia bilang semua dilakukan karena dia sangat menghormati bulan Ramadhan.” katanya.
“Lah ngapain? Kan haram hukumnya bagi wanita kalau puasa sedang berhalangan ?” dengan pedenya aku menyanggah.
“Iya , dia juga tahu lah kalau puasanya hari itu dihitung haram, dia juga tidak meniatkan untuk puasa Ramadhan, tapi karena begitu hormatnya dia dengan bulan itu sehingga dia menghormati dengan caranya untuk tetap tak makan dan minum saat siang hari,  jadi dia memang semata-mata menghormati waktu Ramadhannya, dan tetap mengganti puasanya sebanyak dia berhalangan itu. Wallahua’lam, tapi saya sangat menghargai pendapatnya, dan mengikuti ijtihadnya untuk menghormati waktu di bulan Ramadhan ini.” lanjutnya.
Untuk kedua kalinya aku terdiam, dan sejujurnya membenarkan pendapatnya. Kulirik orang-orang yang tengah melahap makanannya, yang ternyata banyak juga dari mereka yang berjilbab.
Darinya aku belajar untuk bisa melihat sisi lain dari sebuah permasalahan, untuk tidak selalu menjudge segala sesuatu. Walaupun dengan berpendapat begitu aku juga harus siap untuk dicap sebagai orang yang tak berprinsip. Namun aku mencoba berangkat dari satu hal bahwa tak harus terus menyalahkan, karena bisa jadi merekalah yang benar! Sehingga tak selalu membuatku terheran-heran melihat banyak fenomena kehidupan terutama kehidupan beragama. Mungkin hal itu mengajariku tentang kearifan. Wallahua’lam.
Pacarkembang 5 Oktober 2009

Dialog ini sebenarnya memang tidak untuk diikuti, namun tak ada salahnya kubagi, sebagai sebuah pembelajaran. Siang itu aku mengantar seorang sahabat ke mall saat jam istirahat kantor, sekalian membeli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk ikut dengannya. Katanya mau beli baju lebaran buat anak-anaknya. Aku yang mendengar alasannya sedikit rada nyinyir, tapi kupendam aja, mengingat hak seseorang untuk membelanjakan hartanya. Continue Reading »

Cerita Puasa Mas Gangga – 3
Sabar dan Tegas Dalam Satu Muara
Puasa Ramadhan selalu menyisakan cerita tentang Mas  Gangga. Karena cerita tentang puasanya selalu meninggalkan romansa tersendiri buat saya sebagai bundanya. Yang pasti pelajaran bagi saya tentang hakekat kesabaran dan ketegasan. Tahun 1430 H kali ini adalah gerbong Ramadhan ke-3 yang telah dilaluinya dengan berpuasa. Puasa pertamanya saat ia menginjak bangku TK B, masih puasa Dhuhur, dan sempat berpuasa hingga Ashar diakhir-akhir Ramadhan. Gerbong kedua Ramadhan saat ia duduk dibangku kelas satu SD, ia berpuasa Dhuhur hanya delapan hari, selebihnya dia puasa penuh. Nah, di gerbong ketiga kali ini saya sudah menyemangatinya untuk puasa full sampai maghrib terus. Dianya ho-oh juga. Alhamdulillah.
Ternyata ho-ohnya juga masih harus dengan perjuangan, saya pikir dengan pengalamannya berpuasa tahun kemaren memberikan dia gambaran tentang puasa penuh setiap harinya, sehingga tak akan ada kendala berarti. Oh no! ternyata saya salah! Bahwa dalam sebuah tingkatan akan menemukan sendiri permasalahan dan solusinya. Alhamdulillah awal puasa tahun ini jatuh hari Sabtu yang berarti hari libur kantorku yang berarti saya bisa menemaninya menjalankan puasanya, minimal untuk 2 hari. Bila dalam dua gerbong Ramadhan di belakang saya bisa sukses mengantarkan puasanya dengan kalimat penyemangat, dengan penyelesaian yang selalu win-win solution, maka tidak untuk gerbong Ramadhan ketiganya kali ini. Entah karena saya sudah kelelahan untuk menyemangatinya, atau memang ada pelajaran yang ingin Dia berikan pada saya.
Sore sekitar jam 4 Mas Gangga mulai merengek-rengek haus, bahkan sampai menangis. Saya masih berusaha membujuknya. Bahkan akhirnya saya harus menyerah kalah dengan memberinya iming-iming uang –karena setelah membaca cerita Arzetti Bilbina (model) bahwa masa kecilnya dia puasa walaupun dengan iming-iming uang tapi dia tak merasakan dampak pada dirinya- sayapun berharap siapa tahu memang tak akan berdampak buruk bagi mas Gangga-. Walaupun dengan berat hati akhirnya kuiming-imingi dia dengan uang. Karena saya punya perhitungan lain, saat ini dia sudah bisa berhitung dengan uang, juga banyak keinginan yang ingin diraihnya, salah satunya adalah membeli mobil-mobilan tamiya. Nah, yang ingin coba saya tanamkan bahwa setiap keingininan harus diperjuangkan, kalau ia menginginkan sesuatu yang bisa ditebusnya dengan puasanya kenapa tidak? Seribu rupiah setiap hari, semoga bisa memberi sedikit pelajaran tentang kehidupan padanya, karena kalau urusan pahala puasanya biarlah menjadi hak mutlak Allah saja.  Dan Alhamdulillah sampai Ramadhan ke-4 puasanya sampai di gerbang adzan Maghrib. Untuk hari ke-5 saya mulai mendapatkan kendala, karena dia menangis sejadi-jadinya di jam 14.30, sementara saya masih ada dikantor. Saya hanya bisa menyampaikan pesan ke dia, “Terserah mas Gangga pilihan ada di mas Gangga, apalagi adzan maghrib tinggal sebentar lagi, bila mas Gangga sudah berbuka sebelum Maghrib berarti tidak terhitung puasa, dan artinya reward juga hilang untuk hari ini!” ternyata sesampai saya di rumah jam 16.30 dilapori mbak kalau mas Gangga sudah minum dan makan sebelum Ashar.
Dan dari mulai dia mokel  (batal puasa) hari –ke 5 merembet di hari-hari selanjutnya, yang Alhamdulillahnya tak sampai membuat dia batal lagi, karena saya sempat memwarning-nya dengan keras, saya merasa sekali dia membatalkan puasanya maka rasa perjuangannnya juga ikut luntur. “Kalau MAs Gangga masih merengek-rengek dengan puasanya, besok juga akan begitu lagi, besoknya akan begitu lagi, dan seterusnya, trus kapan Mas Gangga mau puasa dengan keikhlasan?” dengan nada agak tinggi aku mencoba memberinya pengertian, “BUat apa puasa bila tidak dengan keikhlasan Le, hanya akan dapat lapar dan haus, capek!” lanjutku, “Semua orang yang puasa juga merasakan lapar dan haus yang seperti mas Gangga rasakan, tapi kami semua ikhlas, sehingga Allah membantu kami, untuk bisa menahan lapar dan haus, kalau mas Gangga nggak ikhlas dengan puasanya , ya Allah akan enggan bantu mas Gangga!” lanjutku. Dia masih tetap memangis merengek kehausan, saya hanya bisa mendiamkannya setelah memberinya opsi,”Terserah, silahkan mas Gangga makan dan minum, berarti mas Gangga belum siap untuk berpuasa!” kataku. Walaupun masih terdengar isaknya tapi akhirnya dia berbuka setelah adzan Maghrib berkumandang. “Nah, lain kan rasanya bisa berbuka sampai Maghrib dengan mas Gangga batalin puasa?” candaku, yang dibalas dengan senyum manisnya.
Hari-hari selanjutnya memang terasa agak ringan, hanya sekali saya menemukan kendala, sore harinya kulihat dia memandangi siomay ditangan yang dibungkus plastik, padahal masih jam 4 sore. “Lho kok bawa-bawa makanan?” tanyaku. Dengan tersipu malu dia bilang untuk buka puasa, “Dari mana mas Gangga dapetnya?” tanyaku. “Dikasih Mas Lindung” temannya sebelah rumah yang kebetulan non muslim. Duh! Kuhampiri dia, “Tapi bener ya untuk buka puasa?” tegasku masih khawatir dengan komitmennya. Dia mengangguk. “Mas, puasa Mas Gangga bukan untuk Bunda atau Ayah, Mas Gangga bilang puasa tapi kalau pas main di luar yang nggak ketahuan Bunda mas Gangga bisa makan minum sepuasnya, Bunda nggak akan tahu, tapii.. Allah pasti tahu Le!” lanjutku. Dia mengangguk dan tak lupa dengan senyum manisnya.
Mengajari sebuah komitmen pada anak-anak memang gampang-gampang susah, karena seringkali berbenturan dengan emosi saya sendiri. Mengajaknya berpuasa sementara teman-temannya di rumah masih jarang yang puasa penuh, juga banyak teman non muslim, mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Perasaan tak tega , tak sampai hati, seringkali menimpahi keinginan hati untuk mengajarinya berkomitmen –entah untuk puasa, merapikan mainan, alat-alat tulis dsb.- Ditengah rengekannya untuk membatalkan puasa seringkali saya harus berperang dengan diri saya sendiri, “Benarkah dengan apa yang saya lakukan?” “apakah ibu-ibu yang lain juga berbuat seperti yang saya perbuat?” “apakah saya tidak terlalu ‘kejam’ pada anak-anak saya?”, Namun dalam perjalanannya saya mencoba mengembalikan niat ini pada rel yang semestinya, bahwa ketegasan bukan berarti kejam, ketegasan bukan diktator, adakalanya kesabaran Bunda ada batasnya, dan disitulah peran ketegasan mulai diperhitungkan. Dan di usia mas Gangga yang semakin besar harus semakin kuat pula rambu-rambu nilai dan akhlaq untuk ditegakkan agar pengertian yang tertanam diaplikasikan dalam kehidupannya. Wallahua’lam, saya tahu masih banyak titik kelemahannya disini, namun satu yang saya harapkan, bahwa semoga ketegasan ini bermuara dari tangan Al Aziz, bukan nafsu saya semata. Semoga ketegasan yang saya terapkan bisa memberikan jejak kebaikan dalam kehidupannya, semoga!
PacarKembang, 19 Ramadhan 1430 H/ 9.9.09
Refleksi milad Mas Gangga yang kemaren berusia tujuh tahun,
Semoga ia ditakdirkan sebagai anak yang sholeh
Puasa Ramadhan selalu menyisakan cerita tentang Mas  Gangga. Karena cerita tentang puasanya selalu meninggalkan romansa tersendiri buat saya sebagai bundanya. Yang pasti pelajaran bagi saya tentang hakekat kesabaran dan ketegasan. Tahun 1430 H kali ini adalah gerbong Ramadhan ke-3 yang telah dilaluinya dengan berpuasa. Puasa pertamanya saat ia menginjak bangku TK B, masih puasa Dhuhur, dan sempat berpuasa hingga Ashar diakhir-akhir Ramadhan. Gerbong kedua Ramadhan saat ia duduk dibangku kelas satu SD, ia berpuasa Dhuhur hanya delapan hari, selebihnya dia puasa penuh. Nah, di gerbong ketiga kali ini saya sudah menyemangatinya untuk puasa full sampai maghrib terus. Dianya ho-oh juga. Alhamdulillah. Continue Reading »

Halaman Berikutnya »