Dialog ini sebenarnya memang tidak untuk diikuti, namun tak ada salahnya kubagi, sebagai sebuah pembelajaran. Siang itu aku mengantar seorang sahabat ke mall saat jam istirahat kantor, sekalian membeli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk ikut dengannya.KAtanya mau beli baju buat anak-anaknya. Aku yang mendengar alasannya sedikit rada nyinyir, tapi kupendam aja, mengingat hak seseorang untuk membelanjakan hartanya.
Sesiang itu kami hilir mudik mencari kebutuhan masing-masing, aku yang memang tak banyak yang ingin kubeli akhirmya mengekor dibelakangnya. Lagi sibuk-sibuk memilih baju, aku berkata padanya, “Ngapain sih orang-orang ini setiap lebaran harus sibuk dengan baju baru, dengan sepatu baru, pokoknya harus serba baru deh!”
Sambil masih memilih-milih baju di kapstok dia menjawab, “Memang kenapa? Khan justru disunnahkan untuk mencari yang terbaik buat dikenakan saat lebaran?” katanya.
“Yah tapi kan nggak harus yang baru? Ngapain maksa-maksain beli yang baru?” kataku.
“Nyindir nih ceritanya?” katanya ngerasa disindir.
“Syukur kalo ngerasa disindir.” jawabku dengan bercanda karena aku tahu kami memang sedang bercanda.
“Gini ya dek, kalau saya sih, memang selalu mencari baju baru saat lebaran, minimal buat anak-anak, untuk aku dan suami bolehlah kalau masih ada lebihnya. Karena memang kita disyariatkan untuk memakai yang terbaik saat Idul Fitri. Nah kalau kami memang baru bisa beli baju baru saat lebaran karena memang baru ada lebihnya rejeki kenapa tidak? Jadi niatan saya membelikan baju anak-anaak mencoba menegakkan anjuran Rasulullah itu, bukan buat sekedar gaya-gayaan, bukan buat mewah-mewahan, karena yang aku beli juga bukan baju yang mewah-mewah, biasa aja deh kayaknya!” katanya rada senewen.
“Jadi jangan nyinyirlah kalau memang ada banyak orang berbondong-bondong membeli baju baru saat lebaran, karena bisa jadi memang mereka baru bisa membeli baju saat lebaran seperti ini dan untuk menegakkan sunnah tadi, jangan salah menilai orang!” lanjutnya sejurus kemudian.
Aku jadi terdiam, ada benarnya juga yang dia katakan.
Kami meneruskan perjalanan, yang tanpa sengaja melewati foodcourt, yang siang itu terasa ramai, sesak bahkan.
“Hmmh, tega betul ya mereka menodai Ramadhan, padahal sudah jelas-jelas Allah mengharamkan makan dan mimun di siang hari saat Ramadhan,” katanya.
“Heh, jangan salah mbak, kok gantian mbak yang nyinyir? Kan bisa jadi mereka non muslim, atau lagi berhalangan, jangan sok deh!” kataku lagi. Gatal juga telinga mendengar omelannya kali ini.
“Yah emang sih, cuma seandainya mereka tahu kemuliaan Ramadhan, saya sempet salut ama temenku yang walaupun dia berhalangan dia tetap tak makan minum disiang hari, dia ikut sahur, dan berbuka juga waktu Maghrib. Dia bilang semua dilakukan karena dia sangat menghormati bulan Ramadhan.” katanya.
“Lah ngapain? Kan haram hukumnya bagi wanita kalau puasa sedang berhalangan ?” dengan pedenya aku menyanggah.
“Iya , dia juga tahu lah kalau puasanya hari itu dihitung haram, dia juga tidak meniatkan untuk puasa Ramadhan, tapi karena begitu hormatnya dia dengan bulan itu sehingga dia menghormati dengan caranya untuk tetap tak makan dan minum saat siang hari, jadi dia memang semata-mata menghormati waktu Ramadhannya, dan tetap mengganti puasanya sebanyak dia berhalangan itu. Wallahua’lam, tapi saya sangat menghargai pendapatnya, dan mengikuti ijtihadnya untuk menghormati waktu di bulan Ramadhan ini.” lanjutnya.
Untuk kedua kalinya aku terdiam, dan sejujurnya membenarkan pendapatnya. Kulirik orang-orang yang tengah melahap makanannya, yang ternyata banyak juga dari mereka yang berjilbab.
Darinya aku belajar untuk bisa melihat sisi lain dari sebuah permasalahan, untuk tidak selalu menjudge segala sesuatu. Walaupun dengan berpendapat begitu aku juga harus siap untuk dicap sebagai orang yang tak berprinsip. Namun aku mencoba berangkat dari satu hal bahwa tak harus terus menyalahkan, karena bisa jadi merekalah yang benar! Sehingga tak selalu membuatku terheran-heran melihat banyak fenomena kehidupan terutama kehidupan beragama. Mungkin hal itu mengajariku tentang kearifan. Wallahua’lam.
Pacarkembang 5 Oktober 2009
Dialog ini sebenarnya memang tidak untuk diikuti, namun tak ada salahnya kubagi, sebagai sebuah pembelajaran. Siang itu aku mengantar seorang sahabat ke mall saat jam istirahat kantor, sekalian membeli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk ikut dengannya.KAtanya mau beli baju buat anak-anaknya. Aku yang mendengar alasannya sedikit rada nyinyir, tapi kupendam aja, mengingat hak seseorang untuk membelanjakan hartanya.
Sesiang itu kami hilir mudik mencari kebutuhan masing-masing, aku yang memang tak banyak yang ingin kubeli akhirmya mengekor dibelakangnya. Lagi sibuk-sibuk memilih baju, aku berkata padanya, “Ngapain sih orang-orang ini setiap lebaran harus sibuk dengan baju baru, dengan sepatu baru, pokoknya harus serba baru deh!”
Sambil masih memilih-milih baju di kapstok dia menjawab, “Memang kenapa? Khan justru disunnahkan untuk mencari yang terbaik buat dikenakan saat lebaran?” katanya.
“Yah tapi kan nggak harus yang baru? Ngapain maksa-maksain beli yang baru?” kataku.
“Nyindir nih ceritanya?” katanya ngerasa disindir.
“Syukur kalo ngerasa disindir.” jawabku dengan bercanda karena aku tahu kami memang sedang bercanda.
“Gini ya dek, kalau saya sih, memang selalu mencari baju baru saat lebaran, minimal buat anak-anak, untuk aku dan suami bolehlah kalau masih ada lebihnya. Karena memang kita disyariatkan untuk memakai yang terbaik saat Idul Fitri. Nah kalau kami memang baru bisa beli baju baru saat lebaran karena memang baru ada lebihnya rejeki kenapa tidak? Jadi niatan saya membelikan baju anak-anaak mencoba menegakkan anjuran Rasulullah itu, bukan buat sekedar gaya-gayaan, bukan buat mewah-mewahan, karena yang aku beli juga bukan baju yang mewah-mewah, biasa aja deh kayaknya!” katanya rada senewen.
“Jadi jangan nyinyirlah kalau memang ada banyak orang berbondong-bondong membeli baju baru saat lebaran, karena bisa jadi memang mereka baru bisa membeli baju saat lebaran seperti ini dan untuk menegakkan sunnah tadi, jangan salah menilai orang!” lanjutnya sejurus kemudian.
Aku jadi terdiam, ada benarnya juga yang dia katakan.
Kami meneruskan perjalanan, yang tanpa sengaja melewati foodcourt, yang siang itu terasa ramai, sesak bahkan.
“Hmmh, tega betul ya mereka menodai Ramadhan, padahal sudah jelas-jelas Allah mengharamkan makan dan mimun di siang hari saat Ramadhan,” katanya.
“Heh, jangan salah mbak, kok gantian mbak yang nyinyir? Kan bisa jadi mereka non muslim, atau lagi berhalangan, jangan sok deh!” kataku lagi. Gatal juga telinga mendengar omelannya kali ini.
“Yah emang sih, cuma seandainya mereka tahu kemuliaan Ramadhan, saya sempet salut ama temenku yang walaupun dia berhalangan dia tetap tak makan minum disiang hari, dia ikut sahur, dan berbuka juga waktu Maghrib. Dia bilang semua dilakukan karena dia sangat menghormati bulan Ramadhan.” katanya.
“Lah ngapain? Kan haram hukumnya bagi wanita kalau puasa sedang berhalangan ?” dengan pedenya aku menyanggah.
“Iya , dia juga tahu lah kalau puasanya hari itu dihitung haram, dia juga tidak meniatkan untuk puasa Ramadhan, tapi karena begitu hormatnya dia dengan bulan itu sehingga dia menghormati dengan caranya untuk tetap tak makan dan minum saat siang hari, jadi dia memang semata-mata menghormati waktu Ramadhannya, dan tetap mengganti puasanya sebanyak dia berhalangan itu. Wallahua’lam, tapi saya sangat menghargai pendapatnya, dan mengikuti ijtihadnya untuk menghormati waktu di bulan Ramadhan ini.” lanjutnya.
Untuk kedua kalinya aku terdiam, dan sejujurnya membenarkan pendapatnya. Kulirik orang-orang yang tengah melahap makanannya, yang ternyata banyak juga dari mereka yang berjilbab.
Darinya aku belajar untuk bisa melihat sisi lain dari sebuah permasalahan, untuk tidak selalu menjudge segala sesuatu. Walaupun dengan berpendapat begitu aku juga harus siap untuk dicap sebagai orang yang tak berprinsip. Namun aku mencoba berangkat dari satu hal bahwa tak harus terus menyalahkan, karena bisa jadi merekalah yang benar! Sehingga tak selalu membuatku terheran-heran melihat banyak fenomena kehidupan terutama kehidupan beragama. Mungkin hal itu mengajariku tentang kearifan. Wallahua’lam.
Pacarkembang 5 Oktober 2009
Dialog ini sebenarnya memang tidak untuk diikuti, namun tak ada salahnya kubagi, sebagai sebuah pembelajaran. Siang itu aku mengantar seorang sahabat ke mall saat jam istirahat kantor, sekalian membeli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk ikut dengannya.KAtanya mau beli baju buat anak-anaknya. Aku yang mendengar alasannya sedikit rada nyinyir, tapi kupendam aja, mengingat hak seseorang untuk membelanjakan hartanya.
Sesiang itu kami hilir mudik mencari kebutuhan masing-masing, aku yang memang tak banyak yang ingin kubeli akhirmya mengekor dibelakangnya. Lagi sibuk-sibuk memilih baju, aku berkata padanya, “Ngapain sih orang-orang ini setiap lebaran harus sibuk dengan baju baru, dengan sepatu baru, pokoknya harus serba baru deh!”
Sambil masih memilih-milih baju di kapstok dia menjawab, “Memang kenapa? Khan justru disunnahkan untuk mencari yang terbaik buat dikenakan saat lebaran?” katanya.
“Yah tapi kan nggak harus yang baru? Ngapain maksa-maksain beli yang baru?” kataku.
“Nyindir nih ceritanya?” katanya ngerasa disindir.
“Syukur kalo ngerasa disindir.” jawabku dengan bercanda karena aku tahu kami memang sedang bercanda.
“Gini ya dek, kalau saya sih, memang selalu mencari baju baru saat lebaran, minimal buat anak-anak, untuk aku dan suami bolehlah kalau masih ada lebihnya. Karena memang kita disyariatkan untuk memakai yang terbaik saat Idul Fitri. Nah kalau kami memang baru bisa beli baju baru saat lebaran karena memang baru ada lebihnya rejeki kenapa tidak? Jadi niatan saya membelikan baju anak-anaak mencoba menegakkan anjuran Rasulullah itu, bukan buat sekedar gaya-gayaan, bukan buat mewah-mewahan, karena yang aku beli juga bukan baju yang mewah-mewah, biasa aja deh kayaknya!” katanya rada senewen.
“Jadi jangan nyinyirlah kalau memang ada banyak orang berbondong-bondong membeli baju baru saat lebaran, karena bisa jadi memang mereka baru bisa membeli baju saat lebaran seperti ini dan untuk menegakkan sunnah tadi, jangan salah menilai orang!” lanjutnya sejurus kemudian.
Aku jadi terdiam, ada benarnya juga yang dia katakan.
Kami meneruskan perjalanan, yang tanpa sengaja melewati foodcourt, yang siang itu terasa ramai, sesak bahkan.
“Hmmh, tega betul ya mereka menodai Ramadhan, padahal sudah jelas-jelas Allah mengharamkan makan dan mimun di siang hari saat Ramadhan,” katanya.
“Heh, jangan salah mbak, kok gantian mbak yang nyinyir? Kan bisa jadi mereka non muslim, atau lagi berhalangan, jangan sok deh!” kataku lagi. Gatal juga telinga mendengar omelannya kali ini.
“Yah emang sih, cuma seandainya mereka tahu kemuliaan Ramadhan, saya sempet salut ama temenku yang walaupun dia berhalangan dia tetap tak makan minum disiang hari, dia ikut sahur, dan berbuka juga waktu Maghrib. Dia bilang semua dilakukan karena dia sangat menghormati bulan Ramadhan.” katanya.
“Lah ngapain? Kan haram hukumnya bagi wanita kalau puasa sedang berhalangan ?” dengan pedenya aku menyanggah.
“Iya , dia juga tahu lah kalau puasanya hari itu dihitung haram, dia juga tidak meniatkan untuk puasa Ramadhan, tapi karena begitu hormatnya dia dengan bulan itu sehingga dia menghormati dengan caranya untuk tetap tak makan dan minum saat siang hari, jadi dia memang semata-mata menghormati waktu Ramadhannya, dan tetap mengganti puasanya sebanyak dia berhalangan itu. Wallahua’lam, tapi saya sangat menghargai pendapatnya, dan mengikuti ijtihadnya untuk menghormati waktu di bulan Ramadhan ini.” lanjutnya.
Untuk kedua kalinya aku terdiam, dan sejujurnya membenarkan pendapatnya. Kulirik orang-orang yang tengah melahap makanannya, yang ternyata banyak juga dari mereka yang berjilbab.
Darinya aku belajar untuk bisa melihat sisi lain dari sebuah permasalahan, untuk tidak selalu menjudge segala sesuatu. Walaupun dengan berpendapat begitu aku juga harus siap untuk dicap sebagai orang yang tak berprinsip. Namun aku mencoba berangkat dari satu hal bahwa tak harus terus menyalahkan, karena bisa jadi merekalah yang benar! Sehingga tak selalu membuatku terheran-heran melihat banyak fenomena kehidupan terutama kehidupan beragama. Mungkin hal itu mengajariku tentang kearifan. Wallahua’lam.
Pacarkembang 5 Oktober 2009
Dialog ini sebenarnya memang tidak untuk diikuti, namun tak ada salahnya kubagi, sebagai sebuah pembelajaran. Siang itu aku mengantar seorang sahabat ke mall saat jam istirahat kantor, sekalian membeli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk ikut dengannya. Katanya mau beli baju lebaran buat anak-anaknya. Aku yang mendengar alasannya sedikit rada nyinyir, tapi kupendam aja, mengingat hak seseorang untuk membelanjakan hartanya. Continue Reading »