Jembatan Suramadu
Sebenarnya kalau disurvey oleh lembaga survey yang kredibel, mungkin saya termasuk orang yang paling sering melewati kawasan Suramadu. Sejak mulai pembebasan tanah, hingga pembangunan sampai akhirnya diresmikan SBY, saya orang yang sangat setia untuk melewati akses Suramadu. Bukan karena fanatik, namun karena lokasi Jembatan Suramadu dekat dengan kantor, dan aksesnya lebih dekat dan mudah untuk mencapai rumah. Jadilah saya setiap hari melewati akses Suramadu dan menikmati setiap proses pembangunannya. Continue Reading »
Dulu saat saya pertama kali membaca buku berjudul “17 Anugerah Terindah Untuk Orang Tua” (kalau tidak salah ketik) terbitan Kaifa pengarangnya saya lupa, ada sebersit tanya, mosok se?. Jadi buku itu menceritakan tentang sebuah fakta bahwa anak-anaklah yang banyak memberi kepada orangtuanya, bukan orang tua yang banyak memberi kepada anak. Didalamnya juga diberikan contoh-contoh konkret pemberian apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak kita. Buku yang sangat menyentuh walaupun saat itu saya belum menemukan esensi yang pas, karena saya membacanya ketika saya masih belum menikah, belum mempunyai anak-anak. Buku itu sejujurnya sangat menginspirasi paradigma saya tentang anak-anak. Buku itu mengajari saya seni menggali ‘pemberian’ anak-anak kepada orangtuanya. Dan sekarang saya sampai pada sebuah kesimpulan, buku itu benar! Bahwa anak-anaklah yang banyak menyentuh saya, menyentuh kesadaran terdalam dari hati saya. Menemukan sebentuk cinta yang begitu bening, begitu indah. Pelajaran-pelajaran kecil yang mungkin bagi orang lain tak berarti apa-apa, tapi dari buku itu saya belajar bagaimana menangkap esensi suatu kejadian menjadi pelajaran penuh cinta. Seperti kejadian malam itu. Continue Reading »
Karena Gola Gong adalah penulis favorit saya sejak SD semasa menulis Balada Si Roy di Majalah Hai, maka suatu kehormatan bagi saya untuk memposting Proposal Rumah Dunia ini, semoga ada teman-teman yang membaca untuk membantunya. Proposal ini saya copas dari blog Udo Yamin
Assalamu’alaikum Wr Wb
Sahabat semua…
Sebagai bentuk dukungan dan do’a terhadap pembebasan tanah seluas 2873 M2 untuk Rumah Dunia yang didirikan oleh Kang Gola Gong, maka saya posting proposalnya, siapa tahu ada yang mau membantu.
Al-hamdulillah saat ini (17 Mei 2009) sudah terkumpul seluas 473 meter persegi. Siapa lagi yang menyusul?
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Udo Yamin Majdi
=============================================================
SHADAQOH JARIYAH PEMBEBASAN TANAH SELUAS 2873 M2
UNTUK PENGEMBANGAN RUMAH DUNIA
[Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan Kata-kata]
Rumah Dunia adalah lini sosial di Yayasan Pena Dunia. Didirikan oleh Heri Hendrayana Harris (Gola Gong). Berakta notaris Fachrul Kesuma Dharma, SH, nomor 006, 12 Juni 2006, alamat Alamat: Komplek Hegar Alam No. 40 Ciloang, Serang 42118, Banten, Tlp 0254-224955. E-mail: rumahdunia@…. Situs: www.rumahdunia.net Continue Reading »
Twilight – New Moon – Eclipse – Breaking Dawn By Stephanie Meyer
Sebelumnya sudah awang-awangen baca novel yang digelari The Worst Book 2008, mengingat keempat novel ini ketebalannya bikin mata nyut-nyuten. Yang paling tipis si Twilight aja 520 hal., dan bertambah tebal pada New Moon, bertambah lagi pada Eclipse, dan yang tebelnya gila-gilaan pada buku pamungkas Breaking Dawn. Alhamdulillah dapat pinjeman dari temen, asli ditawari sama dia, “Mau baca Twilight ta?” Aku hoohnya tidak dengan sepenuh hati karena masih banyak tugas menulis yang cukup banyak. Tapi siapa sanggup menolak saga ini? Continue Reading »
Mengeja kata cinta memberikan efek menguar pada diriku. Membuat semesta diriku menggelenyarkan rasa ke sel-sel terkecil dari setiap inchi tubuhku. Membuat sebuah dorongan energi lembut namun sangat terasa berkumpul di sebuah bilik terdalam didada saya. Memberikan sebuah efek kenikmatan yang sulit untuk kugambarkan, semakin kudengungkan kata cinta semakin besar energi yang mengalir ke dada saya, menggumpal menjadi sebuah kekuatan yang ingin segera kutumpahkan. Kekuatan itu bernama Energi Cinta. Continue Reading »
RAsanya lama banget nggak nulis di blog ini, karena kesibukan menulis di meida lain sehingga blog ini agak ketinggalan tulisan up to date, yah semoga segera beternak ide untuk menulis di sini. Semangat!!!
Jika selama ini anda merasa sangat mepet waktu untuk ke kantor, karena beberapa hal pekerjaan di rumah yang menuntut untuk dikerjakan menjelang keberangkatan anda, maka cobalah tips ini! Sangat sederhana dan insyaallah efektif untuk memberi efek baru dalam diri anda. Atau jika anda selama ini anda termasuk karyawan yang tidak pernah terlambat, tetep bisa mencoba tips ini, barangkali akan lebih memberi efek positif dalam anda memulai hari. Continue Reading »
Rasanya ungkapan itu seperti bahasa klise ya? Namun ketika tadi malem ada seoarang yang mengungkapkan kembali kalimat tersebut membuat saya merenung, bukan apa! Cuma saya merasa masih belum bisa menyinkronkan kalimat tersebut kedalam satunya lisan, pikir dan rasa saya. Bekerja untuk Ibadah, ibadah yang bagaimana? Kalau sekedar ditanya, memang ideal jawabannya begitu, tapi ibadah yang bagaimana yang bisa saya hayati dengan bekerja? Kalau sholat, puasa, zakat, dzikir, memang sudah selayaknya disebut ibadah. Atau bisa dengan alasan begini, “dengan bekerja menghasilkan uang sehingga bisa menjadi bekal untuk melaksanakan ibadah dengan lebih khusyuk. Atau bekal untuk menunaikan rukun kelima, berhaji, atau untuk membeli mukena, sarung, membeli tanah untuk diwakafkan dsb, adalah bentuk aplikasi bekerja untuk ibadah, tapi saya merasa masih terlalu klise. Belum bisa saya masukkan dalam dunia rasa saya. Lha wong bekerja itu untuk dapet uang kok! Melibatkan rasa bahwa dalam bekerja terkandung nilai ibadah itu yang sulit bagi saya. Continue Reading »
Saya pernah mendengar dari kakak Iparku yang kebetulan berprofesi sebagai dokter, “Menulis resep buat pasien itu sebuah seni, dan tidak setiap dokter bisa sama”. Saya merenungkan kalimatnya ketika variabel ‘seni’ itu saya masukkan kedalam semua aspek kehidupan. Dan akhirnya saya sepakat dengan pendapatnya. Jadi , walaupun semua dokter menjalani pendidikan yang sama dengan masa tahun yang sama tapi belum tentu outputnya juga sama. Sama ‘mandinya’ (baca : mujarab/manjur) saat memberi resep. Continue Reading »
Alkisah tersebutlah seorang penjual kue Lumpia, Pak Bejo namanya. Ia juga seorang pengajar ngaji anak-anak kecil di sekitar rumahnya. Ia menempati rumah atau lebih tepat disebut kamar kos-kosan sempit, kira-kira berukuran 3 m2. Di kamar itulah dia hidup dengan istri tercintanya. Tempat ia tidur, masak, dan sekaligus juga digunakan sebagai tempat mengaji anak-anak kecil disekitar tempat tinggalnya. Karena tempat yang sangat sempit itu membuat anak-anak sebelum mengaji harus meminggirkan peralatan yang berada di tempat tersebut. Namun mereka enjoy saja dengan keadaan tersebut.
Suatu hari Pak Bejo berkata pada Istrinya, “ Bune seandainya kita bisa membeli tanah di gang depan itu, mungkin anak-anak akan lebih nyaman mengajinya, Kadang saya kasihan melihat anak-anak harus berhimpitan saat mengaji.”, angan-angan Pak Bejo. Tanah yang dimaksud adalah sebidang tanah kosong milik Pak Haji Ali berukuran 5 x 11 m, berada kurang lebih 50m dari kos-kosannya. Dan apa jawab istrinya ketika Pak Bejo mengutarakan mimpinya, “Alah Pak, uang apa dan darimana buat beli tanah itu?”, sungut istrinya. Pak Bejo hanya diam menanggapi istrinya, dan hati kecilnya membenarkan perkataan istrinya, mengingat pekerjaannya hanya penjual kue Lumpia yang hasilnya hanya pas-pasan buat makan sehari-hari. Continue Reading »












